EVALUASI KETAHANAN BEBERAPA GLADIOLUS SILANGAN TERHADAP FUSARIUM PADA TINGKAT SEMAIAN

Bakhtiar, Hajrial Aswidinnoor, dan Toto Sutater

ABSTRACT

One of the major problems in flower and corms production of gladiolus is wilt diseases and corm rot caused by Fusarium oxysporum f.sp. gladiolii. Therefore, the development of resistant gladiolus cultivars through breeding programs is highly desired to overcome these diseases. The seedling tests make it possible to obtain new gladiolus cultivars with high levels of fusarium resistance. The objective of this experiment were to develop a seedling test for early selection of Fusarium resistance in gladiolus and to evaluate the levels of fusarium resistance of hybrids produced at seedling stage. Screening for fusarium resistance in seedling populations that using ± 103 propagules per gram of soil could be conducted at 8 weeks after sowing. Queen Occer x 623-1, 646-15 x 623-1 and 623-1 x Queen Occer crosses gave more resistant progeny than the others.

Keywords : gladiolus, Fusarium resistance, seedling test

PENDAHULUAN

Gladiol (Gladiolus hybridus Hort) merupakan salah satu tanaman hias yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Tanaman tersebut selain menghasilkan bunga yang digunakan sebagai bunga potong juga menghasilkan subang sebagai bibit. Produksi bunga dan umbi gladiol sering tidak optimal karena dibatasi oleh penyakit layu dan busuk subang yang disebabkan cendawan Fusarium oxysporum f. sp. gladiolii (Straathof et al. 1997).

Fusarium berkembang biak dengan pesat pada subang di tempat penyimpanan (Maryam & Djatnika 1995). Kerugian yang disebabkan oleh infeksi fusarium pada gladiol cukup besar, di Florida Amerika Serikat bisa mencapai 1,5 juta dolar setiap musim (Pirone 1978), sedangkan di Indonesia penyakit ini dapat mengakibatkan kerugian sampai 100 % (Djatnika 1989).

Pengendalian F.oxysporum f.sp. gladiolii pada gladiol biasanya dilakukan dengan sanitasi lahan, penggunaan pupuk nitrogen rendah, disinfektasi subang sebelum tanam dengan memakai fungisida (Wilfret 1992), rotasi tanam (Kartapraja et al. 1996) tetapi belum memberikan hasil yang optimal. Penggunaan kultivar yang tahan merupakan strategi yang ekonomis, ramah lingkungan dan efektif untuk pengendalian penyakit (Agrios 1996).

Kultivar gladiol yang tahan terhadap fusarium di Indonesia saat ini sangat jarang ditemuka apalagi variasi karakter bunga yang terbatas. Sedangkan permintaan bunga potong selalu menghendaki sesuatu yang baru dan lebih beragam dari segi warna, bentuk, jumlah bunga, kuntum yang susun teratur dan simetris, tangkai panjang, kesegaran yang lama dan mudah pengepakannya. Dengan demikian diperlukan usaha yang terus menerus untuk merakit kultivar baru.

Subang gladiol yang dijadikan bibit baru dapat menghasilkan bunga dengan ukuran standar apabila diameter subangnya mencapai 3 cm lebih (Badriah 1995). Untuk menghasilkan subang dewasa dengan ukuran 3 cm diperlukan waktu beberapa tahun setelah persilangan (Straathof et al.1997). Penentukan ketahanan terhadap penyakit pada tanaman gladiol biasanya dilakukan pada tingkat klonal pada tanaman yang dihasilkan dari subang dewasa (Badriah et al. 1996; Djatnika & Nuryani 2000). Oleh karena itu, membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengetahui tingkat ketahanan suatu kultivar yang sedang dikembangkan.

Biji yang dihasilkan dari persilangan dapat ditanam langsung karena tidak mengalami dormansi seperti halnya subang (Herlina & Haryanto 1995). Dengan demikian seleksi pada tahap semaian sangat memungkinkan dilakukan. Seleksi pada tahap semaian telah berhasil dilakukan pada bunga lili dan diperoleh adanya keselarasan antara seleksi semaian dan seleksi klonal (Straathof & Loffler 1994). Seleksi pada tahap semaian dapat juga digunakan untuk memperkirakan tingkat ketahanan fusarium pada populasi keturunannya (Straathof et al. 1997), dan mempercepat seleksi (Badriah et al. 1998). Namun demikian, waktu yang diperlukan untuk evaluasi penyakit dengan seleksi pada tahap semaian yang telah dilakukan Straathof et al. (1997) dan Badriah et al. (1998) juga masih sekitar 7 – 10 bulan. Oleh karena itu untuk lebih mengefisienkan waktu dan biaya seleksi masih diperlukan usaha untuk mempersingkat periode pengujian.

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode seleksi ketahanan terhadap fusarium pada gladiol di tingkat semaian dan mengevaluasi ketahanan terhadap fusarium pada populasi turunan dari beberapa kombinasi silangan gladiol.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: