Archive for February, 2009

PENGARUH UKURAN FISIK DAN JUMLAH UMBI PER LUBANG TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH

Yenny Sufyati, Said Imran AK, dan Fikrinda

ABSTRACT

The objective of this study is to find out the influence of bulb physical size and the suitable number of the bulb per hole in order to increase the growth and yield of shallot.  The result showed that the bulb size gave no significant differences of the plant height at 15 days after planting, but it had given the very significant differences at 30 and 45 days.  Moreover, the highly significant differences are also shown at the number of leaves at 45 days after planting, the number of bulb per cluster, the weight of the wet and dried plant per netto plot and the weight of the dried bulb per netto plot.  All parameters of the growth and yield plant evaluated were significantly affected by the number of bulb per hole.  There were highly significant interaction between the bulb physical size and the number of bulb per hole on the plant height at 30 days after planting, the number of leaves at 45 days after planting and the number of bulb per cluster.  In general, treatment U1 gave the growth and yield of plant better than treatment U2 and U3.  In addition, three bulbs per hole (J3) had better effect on the growth and yield of plant than other treatments.

Keywords: Shallot, bulb physical size, and number of bulb per hole



PENDAHULUAN

       Tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu jenis tanaman semusim (annual) yang termasuk dalam famili Liliaceae.  Tanaman ini merupakan sayuran  rempah yang meskipun bukan asli dari Indonesia, namun penggunaannya sebagai bumbu penyedap masakan sungguh lekat dengan lidah orang Indonesia (Wibowo, 1992).  Manfaat bawang merah dalam kehidupan sehari-hari selain seperti yang telah disebutkan yaitu sebagai bumbu penyedap masakan, juga sebagai sumber vitamin B dan C, protein, lemak, karbohidrat, yang sangat diperlukan oleh tubuh.

       Kegunaan lainnya adalah untuk obat-obatan seperti obat batuk dan obat untuk menurunkan suhu badan. Umbi bawang merah juga dapat dimakan mentah setelah dikupas, umumnya dibuat acar, dapat pula digoreng untuk menambah rasa sedap serta hiasan berbagai masakan. Kulit umbinya dipakai untuk mewarnai telur pindang yang menjadi coklat sesudah direbus.  Daunnya digunakan sebagai campuran sayur

       Mengingat manfaat dan nilai ekonomi tanaman bawang merah cukup tinggi, maka perlu ditingkatkan produksinya.  Dalam usaha meningkatkan produksi tanaman bawang merah banyak faktor yang ikut menentukan yaitu : perbaikan cara bercocok tanam, pemilihan bibit unggul, pemupukan, pengairan dan pemberantasan hama/penyakit.

       Penggunaan bibit yang tidak baik dapat menurunkan produksi.  Menurut Samsudin (1979), umbi bibit yang baik mempunyai ukuran fisik yang tidak terlalu kecil.  Umbi bibit yang terlalu kecil cenderung menghasilkan jumlah anakan yang relatif sedikit, sedangkan umbi bibit yang terlalu besar merupakan pemborosan karena umbi yang mempunyai ukuran fisik yang terlalu besar sering kali kurang menghasilkan tunas.  Sementara itu harga bibit bawang relatif mahal, sehingga pada umumnya petani tidak mengadakan seleksi bibit.

Pertumbuhan tanaman bawang merah dipengaruhi oleh berat umbi yang digunakan sebagai bibit.  Bibit yang berasal dari umbi yang besar akan memberikan pertumbuhan yang lebih baik daripada bibit yang berasal dari umbi yang kecil.  Daun-daun yang terbentuk akan lebih banyak daripada bibit yang berukuran kecil, sehingga akibat dari bertambah besarnya luas daun akan meningkatkan laju fotosintesis, sehingga mempengaruhi proses pembentukan umbi (Anonymous, 1980 ; Anonymous, 1987).

       Menurut Wibowo (1992), umbi-umbi untuk bibit bawang merah sebaiknya dipilih yang berukuran kecil atau sedang.  Jangan memilih yang terlalu kecil karena akan mudah membusuk bila ditanam, dan sering menghasilkan tanaman yang lemah pertumbuhannya yang pada akhirnya hasil tanaman menjadi rendah.  Bukan berarti umbi besar tidak baik digunakan tetapi biasanya umbi besar mempunyai harga yang lebih tinggi, sementara hasilnya relatif tidak berbeda dengan umbi yang berukuran sedang.  Umbi yang berukuran  sedang  beratnya  berkisar antara 2.5 – 5.0 g, sedang yang berukuran besar  5.0 – 7.5 g,  dan yang berukuran kecil beratnya < 2.5 g per umbi.

       Selain ukuran umbi, faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah adalah jumlah benih atau bibit yang ditanam per lubang.  Jumlah bibit yang ditanam per lubang akan menentukan jumlah tanaman yang tumbuh dalam suatu rumpun.  Banyak tanaman dalam satu rumpun dapat mempengaruhi tingkat populasi tanaman per satuan luas, sedangkan tingkat populasi sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman pada suatu areal penanaman.

       Untuk pertanaman bawang merah belum ada informasi yang jelas berapa jumlah umbi bibit yang baik ditanam per lubang guna meningkatkan pertumbuhan dan produksi .  Namun demikian Soedirdjoatmojo (1987) menyatakan bahwa jika penanaman bawang merah menggunakan biji, maka setiap lubang ditanam 2 – 3 biji dengan jarak tanam 10cm x 10cm, akan tetapi bila menggunakan anakan, maka setiap lubang ditanam satu anakan yang cukup besarnya dengan jarak tanam 15cm x 15cm.

       Jumlah bibit per lubang yang digunakan petani umumnya tergantung kepada besar kecilnya ukuran umbi bibit.  Biasanya bibit yang berukuran besar ditanam satu bibit per lubang, sedangkan yang berukuran kecil ditanam 2 – 3 bibit per lubang.  Belum ada informasi berapa jumlah umbi per lubang yang tepat untuk berbagai ukuran umbi bibit terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah.

       Sebagai tambahan informasi bahwa pada pertanaman padi, jika bibit ditanam dalam jumlah yang banyak akan terjadi persaingan dalam rumpun terutama terhadap sinar matahari, akibat pertumbuhan dipacu untuk memanjang.  Sebaliknya bibit yang ditanam per lubang dalam jumlah sedikit, tidak dapat mencapai tingkat populasi yang optimum sehingga produksi per satuan luas menjadi rendah (Siregar,1981).


Advertisements

ANALISIS NERACA AIR UNTUK MENENTUKAN MUSIM TANAM

Taufan Hidayat, Yonny Koesmaryono, dan Aris Pramudia

 

ABSTRACT

       Growing periods can be determined using water balance analysis to decrease harvest risk in certain area. Generally, there are two types of land use for crop i.e. irrigated land and non-irrigated land. The experiment objectives was to determine growing periods of food crop inBantenProvince. Modified method of Thornthwaite and Mather of bookkeeping system of water balance was used based on decades data. Water balance analysis of irrigated land showed that  the area of Serang District had growing periods potencially of 140-170 days with growing periods starting from Dec2 till Jan1, but needed water supply from irrigation as amount 8.5-22.5 mm to grow rice twice a year or planted with other food crops after rice if no irrigation. Meanwhile, Tangerang District (Pakuhaji) and Pandeglang District (Pagelaran) had potency of 182-193 days of growing periods with starting on Sep3 at Pakuhaji and on Dec3 at Pagelaran. In these area rice could be planted twice a year without irrigation. Futher for non-irrigation land with monthly high rainfall, the result showed that the area had potency of growing periods of 182 days through the year. Planting dates might be started from October 1 until December 1, with sequence of rice-rice or rice-rice-other food crops.

Key word : Growing periods, water balance,  food crops, planting dates


 

Pendahuluan

 

          Masalah air bagi tanaman pangan tidak hanya didominasi oleh daerah beriklim kering. Di daerah beriklim basahpun air merupakan faktor yang menentukan terhadap tingkat pertumbuhan dan produksi tanaman. Keberhasilan suatu kegiatan pertanian sangat ditentukan oleh perimbangan antara jumlah air yang tersedia di lahan dengan jumlah air yang dibutuhkan tanaman selama masa pertumbuhannya. Jumlah air yang tersedia pada suatu lahan pertanian dapat dilihat dari kondisi curah hujan, sedangkan jumlah air yang dibutuhkan oleh tanaman dapat digambarkan dengan jumlah air yang dibutuhkan untuk evapotranspirasi (Heryani et al., 2000).

Jumlah air yang tersedia dan jumlah air yang dibutuhkan akan mengalami fluktuasi dari waktu ke waktu, sehingga pada suatu peiode dapat terjadi kelebihan air dan pada periode lainnya dapat terjadi kekurangan air bagi tanaman. Informasi tentang kelebihan dan kekurangan air tersebut sangat membantu dalam menyusun perencanaan di lahan pertanian. Di samping itu tanah juga mempunyai peranan penting terhadap ketersediaan air bagi tanaman.

       Kajian mengenai perhitungan neraca air tanah untuk menduga potensi waktu tanam telah banyak dilakukan di Pulau Jawa seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.  Namun khusus untuk Provinsi Banten penelitian saperti ini masih sangat sedikit.

       Penelitian analisis neraca air pernah dilakukan di Banten namun ketika provinsi ini masih merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat sehingga hasil analisisnya hanya secara umum. Selain itu hal yang menarik untuk daerah ini ditinjau dari sisi iklimnya adalah bahwa  wilayah Banten mempunyai tiga wilayah utama yang mempunyai kondisi iklim yang berbeda, dimana bagian utara adalah wilayah yang sangat rentan kekeringan dan sangat signifikan pengaruh El-Nino, bagian tengah adalah wilayah transisi dan merupakan daerah pegunungan, dan bagian selatan adalah wilayah yang lebih basah karena pengaruh angin monsun baratan yang membawa uap air dalam jumlah besar terutama pada bulan November-Maret (Hidayat, 2005).

            Berbagai usaha dilakukan untuk mengurangi resiko kegagalan pertanian diantaranya adalah dengan menyusun informasi potensi waktu tanam terutama bagi tanaman semusim. Metode Thornthwaite dan Mather (1957) merupakan salah satu metode pendekatan yang umum digunakan untuk mengetahui tingkat ketersediaan air lahan pertanian guna menentukan potensi dan waktu tanam tanaman semusim. Tulisan ini mengulas analisis perhitungan neraca air tanah untuk menduga potensi waktu tanam tanaman semusim pada beberapa tipe penggunaan lahan yang umum digunakan sebagai lahan pertanian tanaman pangan.


HUBUNGAN SALINITAS DENGAN VIABILITAS BENIH KACANG TANAH

Sabaruddin Zakaria dan Cut Meutia Fitriani

ABSTRACT

       The research has been made to explain the relationship between two-sortation methods with peanut seed (Arachis hypogaea, L.) viability and vigor and its application for salinity resistance appraisal. Completely Randomized Design with Factorial type 3 x 3 and 3 repetitions was used to analyze the effect of sortation method. The parameters used in this research were seed growth potential, germination ability, growth velocity and T50. The second research for salinity resistance was using Completely Randomized Design with Factorial type 2×4 and 3 repetitions. The parameters used in this research were seed vigor, growth velocity and T50. The research results showed that sortation method did not have significant difference on the peanut seed viability. Seed sortation by using 1.5 % NaCl solution could be used as one alternative for sortation of peanut seed. However, the sortation by using 3.0 % NaCl solution caused negative effect on the viability and vigor of peanut seed. Salinity factors gave high significant difference on the viability of seed. The highest seed viability was found without NaCl treatment (control). Relationship between salinity and seed viability was linear negative, meanings that higher salinity cause lower seed viability.

Keywords : peanut, sortation, salinity

PENDAHULUAN

            Untuk menaikkan hasil kacang tanah per satuan luas, maka diperlukan usaha yang lebih intensif dalam sistem budidayanya. Usaha yang diperlukan dalam peningkatan hasil kacang tanah tidak hanya tertumpu pada aspek kuantitas tetapi juga mencakup aspek kualitas. Kuantitas dan kualitas hasil yang tinggi hanya dapat diperoleh bila benih yang digunakan adalah benih yang bermutu (Sumarno dan Hartono, 1983).

            Menurut Sudikno (1977) salah satu kriteria benih berkualitas adalah tingginya kemurnian benih. Adanya keragaman genetika dan lingkungan dari benih yang dihasilkan menyebabkan kemurnian benih menjadi suatu masalah. Upaya terakhir yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut ialah dengan sortasi.

            Peningkatan produksi tanaman dengan cara perluasan areal sering mendapat hambatan karena semakin terbatasnya lahan yang sesuai untuk dijadikan lahan pertanian. Terbatasnya lahan ini selalu berkaitan antara berbagai kepentingan yang bertolak belakang. Disatu pihak produksi pangan harus ditingkatkan, di pihak lain tanah dan produktifitasnya mempunyai berbagai masalah. Sebagian tanah tersebut tidak sesuai untuk dijadikan lahan pertanian akibat faktor pembatas, seperti tanah rawa, tanah masam dan tanah salin (Sutedjo dan Kartasapoetra, 1988)

            Tanah salin diIndonesiasemakin banyak dijumpai karena adanya akumulasi garam yang tinggi di lapisan permukaan. Semua jenis tanah yang tersebar di daerah arid dan semi arid serta sepanjang pesisir pantai dapat berkembang menjadi tanah salin dengan akumulasi garam yang tinggi di lapisan permukaan (Jonaidi, 1987).

            Bintoro (1983) menyatakan masalah salinitas timbul apabila konsentrasi NaCl, Na2CO3, Na2SO4 dan garam-garam Mg terdapat dalam jumlah yang berlebihan. Garam NaCl adalah yang paling dominan karena Natrium (Na+) akan terakumulasi pada lapisan tanah atas dalam jumlah yang berlebihan.

            Menurut Rusell (1958), kadar garam yang tinggi dapat menaikkan tekanan osmosis. Hal ini dapat mengurangi kesanggupan benih mengabsorbsi air dan secara tidak langsung akan menghambat perkecambahan benih, karena benih tidak memperoleh kadar air yang cukup. Hal ini sesuai dengan pendapat Kamil (1979) yang menyatakan bahwa, jika konsentrasi suatu larutan di sekitar biji tinggi dapat menyebabkan tidak atau kurang meresapnya air ke dalam biji sehingga mengakibatkan benih tidak berkecambah.

            Bintoro et al. (1990) menyatakan bahwa, toleransi tanaman terhadap salinitas tergantung pada jenis dan tingkat pertumbuhan tanaman. Dengan kata lain tanaman mempunyai batas toleransi yang berbeda terhadap salinitas. Kebanyakan tanaman pertanian sangat peka terhadap kandungan garam dalam tanah. Benih yang ditanam di daerah yang mempunyai salinitas tinggi sangat sulit atau tidak dapat berkecambah sama sekali. Hal ini disebabkan  terhambatnya serapan air oleh benih dan terjadi keracunan oleh ion-ion yang menyusun garam tersebut.

            Tanaman kacang tanah merupakan salah satu tanaman bahan makanan penting diIndonesiayang harus diupayakan pengembangannya meskipun pada tanah marginal. Tanah salin adalah salah satu jenis tanah marginal yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman baik pada fase perkecambahan maupun fase-fase lainnya. Pengaruh salinitas terhadap perkecambahan benih mencakup dua hal yaitu pengaruh tekanan osmosis yang tinggi sehingga benih sulit menyerap air dan pengaruh kimia atau keracunan oleh ion-ion spesifik yang menyusun garam. Karena itu penelitian untuk mengetahui sejauh mana toleransi tanaman kacang tanah terhadap salinitas, baik pada fase perkecambahan maupun pada fase sesudahnya perlu dilaksanakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara metode sortasi benih dengan viabilitas dan vigor benih kacang tanah serta aplikasinya untuk menduga tingkat ketahanan salinitas.

 


SEKAM PADI SEBAGAI MEDIA ALTERNATIF DAN PEMBERIAN PUPUK DAUN PADA TOMAT HIDROPONIK

  

Mardhiah Hayati

 

ABSTRACT

 

            A research of using various media and fertilizers on tomato planted hydroponically has been conducted in the green house of Agriculture faculty, Syiah Kuala University, Banda Aceh, starting from July to November 2002. The objective of research was to observe the influence of various media and fertilizer, as well as the interaction of each other to the growth and yield of tomato planted hydroponically. The treatment composed of two factors, namely various media (paddy’s husks / kuntan, sands, and mixture of  kuntan and sands) and fertilizers (Vitamon, Bayfolan, Complesal and Hoagland solution). The research was assigned in completely randomized design in a factorial manner, consisting three replications. The results showed that the best growth and highest yield of the tomato were found in the mixture medium (kuntan + sands). These results were significantly different from those of the single medium. The use of Hoagland solution resulted on the best growth and highest yield of tomato which were not significantly different from those of Bayfolan and Complesal Fertilizer. It is observed that there were no significant interactions between the two factors tested.

Keywords:   Hydroponics, paddy’s husks, kuntan, Vitamon, Bayfolan, Complesal, Hoagland



PENDAHULUAN

            Tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Hill) termasuk tanaman sayuran yang mengandung vitamin dan mineral. Di Indonesia pembudidayaan tomat sudah lama dilakukan, namun kegagalan untuk memperoleh hasil  buah tomat yang tinggi masih sering dialami diantaranya disebabkan oleh serangan hama dan penyakit. Selain itu, keterbatasan lahan produktif terutama di daerah-daerah yang berpenduduk padat juga menjadi masalah. Sementara itu, kebutuhan pasar akan buah tomat terus meningkat.

            Cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam dikenal dengan budidaya hidroponik. Teknik ini membutuhkan bahan kimia yang mahal harganya sebagai larutan hara dan media serta ditanam di rumah kaca. Davtyan (1976) mendapatkan bahwa hasil buah tomat yang ditanam secara hidroponik 2.9 kali lebih tinggi dari hasil tomat yang dibudidayakan di tanah.

             Beberapa kelebihan bertanam secara hidroponik dibandingkan penanaman dengan menggunakan media tanah adalah masalahhamadan penyakit yang dapat dikurangi, produk yang dihasilkan umumnya berkualitas lebih baik sehingga harga jualnya lebih tinggi (Prihmantoro dan Indriani, 1995). Selain itu bertanam secara hidroponik dapat dilakukan dalam ruang yang lebih sempit, sehingga pekarangan yang sempitpun  dapat dimanfaatkan secara intensif. Keuntungan-keuntungan yang disebut di atas memungkinkan teknik budidaya ini dapat dilakukan oleh petani berlahan sempit, atau daerah-daerah  yang kurang subur diIndonesia, sehingga ketergantungan pada tanah subur dapat dikurangi.

            Media yang digunakan untuk pertanaman hidroponik harus ringan, porous dan bersih misalnya pasir, kerikil, pecahan batu bata, vermikulit dan zeolit. Sekam padi yang merupakan limbah pabrik penggilingan padi juga dianggap potensial untuk dijadikan media karena arang sekam padi (kuntan) telah diketahui mempunyai sifat-sifat tersebut di atas, jadi merupakan alternativ yang dapat digunakan dalam pertanaman hidroponik. Dengan demikian penyediaan media tanam bukan menjadi kendala utama dalam hidroponik.

            Media tanam yang diasumsikan tidak mengandung hara, mutlak memerlukan larutan hara yang mengandung unsur hara makro atau mikro dan diberikan secara teratur  serta efisien. Larutan hara dalam hidroponik merupakan campuran bahan kimia yang harus diramu sendiri. Selain harganya yang mahal juga diperlukan keterampilan yang tinggi untuk menimbang dan meramu bahan kimia tersebut. Penggunaan pupuk daun potensial untuk dijadikan larutan hara tanaman dengan sistem budidaya ini, karena mengandung unsur makro dan mikro. Namun dari segi kecukupan hara masih perlu dipertanyakan kemungkinan penggunaannya.

            Bila pupuk daun dapat dijadikan larutan hara untuk sistem budidaya hidroponik, maka sistem hidroponik dapat diterapkan pada petani-petani kecil. Harga pupuk ini relatif murah dan lebih mudah digunakan dibandingkan berbagai bahan kimia yang harus diramu sendiri.

            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan beberapa jenis media tanam dan pupuk daun serta interaksi antara keduanya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat secara hidroponik.

VIABILITAS BENIH SEBAGAI INDIKATOR TINGKAT PENCEMARAN LINGKUNGAN

Jumini

 

ABSTRACT

 

Germination of some seed species are very sensitive to environmental conditions and it could be used as an indicator of pollution level. The aim of this research was to study the viability of seeds of some species on some environmental pollution levels caused by lubricant waste. Units of this research were arranged by Factorial Randomized Completely Block Design with 3 replicates. Four levels of lubricant waste were 0, 1, 2 and 3 ppm, and 3 levels of seed species were spinach, mungbean, and soybean. The results showed that seed germination rate was very significantly affected by lubricant waste. The viability of spinach, mungbean, and soybean seeds pointed by seed germination rate could be an indicator of environmental pollution level caused by lubricant waste by equation; Y = 39.19 – 2,15x with r = -0.87. Potential germination, germination rate, seedling vigor, and seedling dry mass very significantly affected by seed species, but not on germination capacity. There were no significant interactions between the two treatments on all parameters observed.

Keywords: lubricant waste, pollution, seed viability, indicator

 

 

PENDAHULUAN

 Pencemaran merupakan masalah lingkungan yang sangat penting diantara faktor-faktor yang menyebabkan krisis lingkungan hidup. Bahan pencemaran disebut pollutan, atas dasar kemampuan lingkungan untuk memecahkan atau menghancurkan pencemaran, maka pollutan dapat bersifat biodegredable dan non-biodegredable. Menurut Sastrawijaya (1991) pencemaran adalah bila berpengaruh jelek terhadap lingkungan hidup. Pengertian pencemaran ada berbagai rumusan, menurut UU No 23 Tahun 1997, pencemaran adalah masuknya atau dimasukannya mahluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain kedalam lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak berfungsi sesuai dengan peruntukannya.

Tingkat pencemaran dapat ditentukan dengan menggunakan parameter-parameter sebagai indikator pencemaran lingkungan antara lain parameter kimiawi, biokimia, fisik dan biologis. Guslin (1993) menyatakan bahwa makhluk hidup sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan, oleh karena itu dapat memberikan gambaran mengenai kindisi lingkungan. Nazamuddin (1994) menyatakan bahwa organisme-organisme yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi lingkungan di suatu tempat disebut indikator ekologi. Salah satu sarat indikator ekologi (biologi) adalah organisme yang memiliki kisaran toleransi yang sempit (steno) lebih baik dibandingkan dengan organisme yang memiliki kisaran toleransi yan luas (eury).

Viabilitas terutama perkecambahan benih beberapa speises tanaman sangat sensitif terhadap kondisi lingkungan saat proses perkecambahan berlangsung, karena itu bersifat steno yang dapat dijadikan sebagai indikator  tingkat pencemaran. Menurut PP RI No. 20 Tahun 1990 dan SK Menteri KLH No. 03 Tahun 1991, keadaan minyak dan lemak dalambakumutu air golongan C adalah maksimum         1 ppm. Parameter  fisik dan kimiawi telah banyak dikembangkan sebagai indikator tingkat pencemaran lingkungan. Namun indikator biologi sekarang ini sangat mendapat perhatian penting, karena secara langsung dapat diketahui pengaruh pencemaran terhadap mahluk hidup itu sendiri.

Perkecambahan (viabilitas) benih beberapa spesies sangat sensitif terhadap kondisi lingkungan perkecambahan (air, oksigen dan suhu), kehadiran bahan pencemar, dalam hal ini oli bekas dalam lingkungan perkecambahan diduga dapat mempengaruhi ketersediaan air dan oksigen saat perkecambahan.

Uji viabilitas benih ditujukan untuk mengetahui kemampuan benih untuk tumbuh di lapangan sebelum di tanam, maka harus diciptakan kondisi sehingga benih itu bernilai agronomis serta apakah kecambah itu dapat menjadi tanaman normal dalam keadaan alami yang menguntungkan (Brown dan Toole, dalam Sadjad, 1972).

Namun secara spesifik belum diketahui tingkat konsentrasi oli bekas yang berpengaruh terhadap viabilitas beberapa jenis benih tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat konsentrasi oli bekas terhadap viabilitas beberapa jenis benih.


Uji Media Tanam dan ME-17 pada Bibit Kakao

ABSTRACT

One major issue on preparing seedling growth is planting media. Soil as major media is frequently lack of nutrients for supporting long term of seedling growth. Therefore, additional material and nutrients are needed to the soil. The research objectives are to evaluate the best of composition of media and concentration of fertilizer Me-17 for the best growth of cacao seedling. Result showed that three part of soil and one part of manure was the best mixture of media for seedling growth. By using polynomial analysis, it was revealed that the best growth of seedling cacao was achieved at 3.05 to 3.67 cc/L of fertilizer Me-17. However, no interaction between media and fertilizer Me-17 was existed.

Keywords : cacao, Me-17, media, seedling

PENDAHULUAN

Tanaman kakao merupakan salah satu komoditi ekspor non migas yang memiliki prospek yang baik (Susanto, 1994). Kebutuhan kakao terus meningkat untuk industri dan ini memerlukan usaha peningkatan produktivitasnya melalui pengembangan dan pemeliharaan tanaman yang intensif dan efisien. Salah satu aspek yang perlu dibina secara terus menerus adalah pembibitan tanaman itu sendiri. Pembibitan yang baik diharapkan dapat menghasilkan tanaman yang mempunyai tingkat produktivitas yang tinggi dan menghasilkan mutu produk yang baik (Siregar dkk, 2000).

Dalam pembibitan tanaman kakao perlu adanya usaha untuk meningkatkan kesuburan media tanam. Tanah yang sering dipakai sebagai media tanam lazimnya tidak cukup subur untuk mendukung pertumbuhan bibit selama di pembibitan, sehingga perlu penambahan unsur hara melalui pemupukan. Pupuk yang digunakan dapat berupa pupuk organik seperti pupuk kandang maupun pupuk anorganik.

Pupuk kandang di samping dapat menambah unsur hara ke dalam tanah juga dapat mempertinggi humus, memperbaiki struktur tanah dan mendorong kehidupan jasad renik tanah (Hakim, Nyakpha, Lubis, Nugroho, Soul, Diha, Go Ba Hang, Bailey, 1986). Pupuk kandang baik sekali diberikan sebagai pencampur media tanam.

Pada umumnya, media pembibitan adalah tanah yang subur atau campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 3 : 1 (Direktorat Jenderal Perkebunan, 1992). Akan tetapi belum diketahui dengan pasti berapa perbandigan media tanam yang tepat untuk mendapatkan pertumbuhan bibit tanaman kakao yang baik.

Pupuk ME-17 merupakan salah satu pupuk organik yang mengandung unsur hara makro dan mikro sehingga pemberian pupuk ini dapat mempertinggi kesuburan tanah. Di samping itu pupuk ME-17 mengandung mikroorganisme yang menguntungkan tanaman dalam penguraian bahan organik menjadi nutrisi tanaman. Secara umum, konsentrasi pupuk ME-17 yang dianjurkan antara 2,5 – 5 cc per liter air[1]. Namun, secara spesifik untuk tanaman kakao belum diketahui berapa konsentrasi pupuk ME-17 yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan media tanam dan konsentrasi pupuk ME-17 yang tepat sehingga menghasilkan bibit tanaman kakao yang baik.

full text

Suhu Periode Masak terhadap Viabilitas Benih Padi

 Cut Nur Ichsan

ABSTRAK

Penelitian tentang pengaruh varietas dan suhu pada tahap pemasakan terhadap viabilitas dan vigor benih padi telah dilakukan di Laboratorium Benih Fakultas Pertanian Unsyiah.  Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi viabilitas dan vigor benih akibat varietas dan suhu.  Varietas yang dicobakan adalah Cisantang, Kalimas, Ciherang, Widardan IR 64.Suhu yang dicoba adalah: 27-32 oC  dan 30-38 oC.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas tidak berpengaruh nyata terhadap potensi tumbuh, daya berkecambah, kecepatan tumbuh, keserempakan tumbuh, T50 dan berat kering kecambah normal benih padi. Sebaliknya, suhu berpengaruh nyata terhadap kecepatan tumbuh, dan berpengaruh sangat nyata terhadap T50 benih padi tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap peubah viabilitas benih  dan peubah vigor benih lainnya.  Suhu 27-32 oC  memberikan hasil lebih baik.

 

Kata kunci : viabilitas, vigor, varietas dan suhu

PENDAHULUAN

 Mutu benih mencakup mutu genetis, mutu fisiologis dan mutu fisis. Mutu genetis ditentukan oleh derajat kemurnian genetis sedangkan mutu fisiologis ditentukan oleh laju kemunduran dan vigor benih. Mutu fisis ditentukan oleh kebersihan fisis (Sadjad, 1972).  Vigor dicerminkan oleh vigor kekuatan tumbuh dan daya simpan benih. Kedua nilai fisiologis ini memungkinkan benih tersebut untuk tumbuh menjadi normal meskipun keadaan biofisik dilapangan produksi sub optimum. Tingkat vigor tinggi dapat dilihat dari penampilan kecambah yang tahan terhadap berbagai faktor pembatas yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Sadjad (1993) menyatakan bahwa ketahanan terhadap faktor pembatas juga dipengaruhi oleh mutu genetis yang dicerminkan oleh varietas.

Varietas yang lebih dapat beradaptasi dengan kondisi daerah tropis dengan panjang hari yang netral disebut varietas dari ecotype indica. Bimas Deptan (1997) mengemukakan bahwa perbedaan ecotype dipengaruhi oleh keadaan letak geografis  sehingga mempengaruhi fotoperiodebitas tanaman berupa daya merumpun, panjang malai dan tinggi rendahnya hasil serta pengaruh agronomis lainnya.

Peningkatan benih padi dengan jumlah dan mutu yang tinggi memerlukan usaha produksi benih yang dilakukan di daerah dengan kondisi alam yang paling baik bagi pertumbuhan tanaman. Laingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan mutu benih  dapat dibagi ke dalam faktor lingkungan dan faktor sarana produksi yang diberikan oleh manusia. Faktor lingkungan alamiah hampir tidak dapat diubah oleh manusia tetapi bila faktor ini kurang sesuai maka manusia berusaha untuk mengubahnya guna memperoleh hasil yang dikehendaki, misalnya temperatur (Mugnisyah dan Setiawan, 1995)

Tanaman padi dapat tumbuh dengan baik pada daerah yang berhawa panas dengan temperatur yang melebihi 23 oC. Temperatur tinggi beragam selama kemasakan benih dapat menyebabkan rendahnya berat bulir. Peningkatan bulir yang tidak sempurna . peningkatan butiran padi yang memutih sehingga berpengaruh terhadap mutu benih (AAK, 1992 ; Tashiro dan Wardlow ; 1989).

Varietas padi dari ecotype indica yang terbiasa hidup dalam lingkungan dengan temperatur yang tinggi akan mempunyai daya adaptasi yang berbeda terhadap temperatur tinggi, sehingga akan tetap menghasilkan benih dengan kualitas yang tinggi. Tetapi sampai dimana kualitas benih tersebut dipengaruhi oleh faktor varietas dan temperatur selama masa pematangan tanaman induknya belum mendapat informasi yang detail, sehingga perlu dilakukan pengujian viabilitas dan vigor untuk menjelaskan fenomena tersebut.