Posts Tagged ‘pupuk organik’

PENGARUH JENIS PUPUK ORGANIK DAN VARIETAS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN CABAI (Capsicum annum L.)

Erita Hayati, T. Mahmud, dan Riza Fazil

ABSTRACT

This study was aimed at determining effects of organic fertilizer types and varieties on growth and yield of pepper and interaction between both factors. The research was conducted at Experiment Station of Agriculture Faculty, Syiah Kuala University, Darussalam Banda Aceh, from June to October 2010. The experiment used a randomized complete block design (RCBD), 3 x 2 with three replications. Factors studied were types of organic fertilizer, consisting of compost and cow manure and varieties, consisting of TM-999 and local varieties. Variables observed were plant height at ages of 15, 30 and 45 days after planting (DAP), number of productive branches, number of fruits per plant, fruit weight per plant, yield per plot and production per ha. Results showed that there was no significant interaction between organic fertilizer types and varieties on all observed variables. Organic fertilizers did not significantly affect plant height at ages of 15, 30 and 45 DAP, productive branches at age of 75 DAP, number of fruits per plant, fruit weight per plant, yield per plot, and yield per ha. Varieties significantly affected plant height at age of 30 DAP, number of fruits per plant, but did not significantly affected plant height at ages 15 and 45 DAP, number of productive branches at age of 75 DAP, fruit weight per plant, yield per plot, and yield per ha.

Keywords: organic fertilizer, varieties, chili pepper

PENDAHULUAN

Cabai merah (Capsicum annum L.) adalah sayuran semusim yang termasuk famili terung-terungan (Solanaceae). Tanaman ini berasal dari benua Amerika, tepatnya di daerah Peru, dan menyebar ke daerah lain di benua tersebut. Di Indonesia sendiri diperkirakan cabai merah dibawa oleh saudagar-saudagar dari Persia ketika singgah di Aceh antara lain adalah cabai merah besar, cabai rawit, cabai merah keriting dan paprika. Cabai tidak hanya digunakan untuk konsumsi rumah tangga sebagai bumbu masak atau bahan campuran pada berbagai industri pengolahan makanan dan minuman, tetapi juga digunakan untuk pembuatan obat-obatan dan kosmetik. Selain itu cabai juga mengandung zat-zat gizi yang sangat diperlukan untuk kesehatan manusia. Cabai mengandung protein, lemak, karbohidrat, kalsium (Ca), fosfor (P), besi (Fe), vitamin-vitamin, dan mengandung senyawa alkaloid seperti flavonoid, capsolain, dan minyak esensial (Santika, 2006).

Produksi cabai di Indonesia masih rendah dengan rata-rata nasional hanya mencapai 5,5 ton/ha, sedangkan potensi produksinya dapat mencapai 20 ton/ha (Santika, 2006). Berdasarkan hal itu, maka usaha peningkatan produksi cabai harus dilakukan baik dengan cara perbaikan teknik budidaya maupun dengan penggunaan varietas yang sesuai.

Salah satu cara usaha peningkatan produksi yaitu dengan perbaikan teknik budidaya seperti penggunaan pupuk organik. Pupuk organik padat merupakan pupuk dari hasil pelapukan sisa-sisa tanaman atau limbah organik (Musnamar, 2003). limbah yang dimaksud berasal dari hasil pelapukan jaringan-jaringan tanaman atau bahan-bahan tanaman seperti jerami, sekam, daun-daunan dan rumput-rumputan yang berupa limbah hayati yang mudah diperoleh dari lingkungan sekitar kita, didaur ulang dan dirombak dengan bantuan mikroorganisme dekomposer seperti bakteri dan cendawan menjadi unsur-unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman. Proses perombakan jenis bahan organik menjadi pupuk organik dapat berlangsung secara alami atau buatan (Prihmantoro, 2005).

Menurut Sarief (1986) pemberian pupuk organik yang tepat dapat memperbaiki kualitas tanah, tersedianya air yang optimal sehingga memperlancar serapan hara tanaman serta merangsang pertumbuhan akar.

Pupuk kandang yang berasal dari kotoran sapi merupakan pupuk padat yang banyak mengandung air dan lendir. Pupuk ini digolongkan sebagai pupuk dingin. Pupuk dingin merupakan pupuk yang terbentuk karena proses penguraian oleh mikroorganisme berlangsung secara perlahan-lahan sehingga tidak membentuk panas. Sebaliknya, pupuk kotoran kambing digolongkan sebagai pupuk panas, yaitu pupuk yang terbentuk karena proses penguraian oleh mikroorganisme berlangsung secara cepat sehingga membentuk panas (Musnamar, 2005). Kelemahan dari pupuk panas adalah mudah menguap karena bahan organiknya tidak terurai secara sempurna sehingga banyak yang berubah menjadi gas (Samekto, 2006).

Prajnanta (2004) menyatakan unsur hara yang dihasilkan dari jenis pupuk organik sangat tergantung dari jenis bahan yang digunakan dalam pembuatannya. Unsur hara tersebut terdiri dari mineral, baik makro maupun mikro, asam amino, hormon pertumbuhan, dan mikroorganisme. Kandungan hara yang dikandung dalam jenis pupuk organik kotoran sapi berbentuk padat terdiri dari nitrogen 0,40%, fosfor 0,20% dan kalium 0,10%. Jenis pupuk organik dari sampah organik terdiri dari nitrogen 0,09%, fosfor 0,36% dan kalium 0,81% (Lingga, 2005)

Pupuk organik mempunyai fungsi antara lain adalah: 1) memperbaiki struktur tanah, karena bahan organik dapat mengikat partikel tanah menjadi agregat yang mantap, 2) memperbaiki distribusi ukuran pori tanah sehingga daya pegang air tanah meningkat dan pergerakan udara (aerasi) di dalam tanah menjadi lebih baik. Fungsi biologi pupuk kompos adalah sebagai sumber energi dan makanan bagi mikroba di dalam tanah. Dengan ketersediaan bahan organik yang cukup, aktivitas organisme tanah yang juga mempengaruhi ketersediaan hara, siklus hara, dan pembentukan pori mikro dan makro tanah menjadi lebih baik (Setyorini 2004). Selain pemupukan, penggunaan varietas juga merupakan faktor yang sangat penting dalam meningkatkan produksi cabai.

Varietas terdiri dari sejumlah genotipe yang berbeda di mana masing-masing genotipe mempunyai kemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Setiap varietas memiliki perbedaan genetik yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan hasil serta kemampuan adaptasi suatu varietas berbeda-beda. Varietas bermutu (varietas unggul) mempunyai salah satu sifat keunggulan dari varietas lokal. Keunggulan tersebut dapat tercermin pada sifat pembawaannya yang dapat menghasilkan buah yang berproduksi tinggi, respons terhadap pemupukan dan resisten terhadap hama dan penyakit. Jenis varietas yang sesuai dengan keadaan lingkungan diharapkan tumbuh dengan baik dan memberikan hasil yang tinggi (Prajnanta, 2004).

Untuk mencapai produksi yang tinggi ditentukan oleh potensi varietas unggul. Potensi varietas unggul di lapangan masih dipengaruhi oleh interaksi antara faktor genetik (varietas) dengan pengelolaan kondisi lingkungan. Bila pengelolaan lingkungan tumbuh tidak dilakukan dengan baik, potensi produksi yang tinggi dari varietas unggul tersebut tidak dapat tercapai (Adisarwanto, 2006). Varietas lokal pertumbuhannya sangat kuat, tahan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman, serta mempunyai adaptasi yang baik terhadap lingkungan, tetapi masih memiliki kelemahan yaitu produksi yang masih rendah.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis pupuk organik dan varietas terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai serta ada tidaknya pengaruh interaksi antara kedua faktor tersebut.

PENGARUH INTERVAL WAKTU PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR ENVIRO TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL DUA VARIETAS MENTIMUN (Cucumis sativus L.)

Jumini, Hasinah HAR, dan Armis

ABSTRACT

This study was aimed at determining appropriate time interval of providing liquid organic fertilizer Enviro to growth and yield of two varieties of cucumber and interaction betweenthe time interval and the variety. The experiment was carried out on flood plain of Krueng Lamnyong, Shiah Kuala Sub District, Banda Aceh from November 2008 to January 2009, using a factorial randomized complete block design 4×2 with three replications. Factors studied were time interval of providing liquid organic fertilizer Enviro, consisting of 4 levels ( 5, 7, 9 and 11 days and varieties, consisting of 2 levels (local varieties and Hercules 56). Variables observed were plant height, fruit numbers, fruit length, fruit diameter, and fruit Weights. Results showed that the time interval of providing liquid organic fertilizer Enviro did not affect plant height at age of 10, 20, and 30 days after planting (DAP), the number, length, diameter and weight of cucumber fruits harvested for 4 times. On the other hand, variety exerted significant effects on plant height at age of 10, 20 and 30 DAP, the number, length and weight of fruits, but did not exert a significant effect on fruit diameter. The best growth and length of cucumber fruits were found on varieties Hercules 56, while the number, diameter and weight of fruits of four Time harvest were found on local varieties.
There was no significant interaction between time interval and variety on all variables observed.

Keywords: liquid organic fertilizer, Enviro, variety, Hercules 56, cucumbers

PENDAHULUAN

Prospek tanaman mentimun semakin cerah, karena pemasaran hasilnya tidak hanya dilakukan di dalam negeri (domestik) tetapi ke luar negeri (ekspor). Untuk itu diperlukan peningkatan produksi dan produktivitas dari mentimun, salah satunya melalui pemupukan (Rukmana, 1994). Pemupukan memegang peran penting dalam meningkatkan produksi tanaman, terlebih lagi dengan banyaknya penggunaan varietas unggul yang mempunyai respons yang tinggi terhadap pemupukan.

Pemupukan merupakan salah satu cara untuk memperbaiki tingkat kesuburan tanah dan meningkatkan produksi tanaman. pemupukan dapat dilakukan melalui tanah dan daun. Pemupukan melalui daun dilakukan karena adanya kenyataan bahwa pemupukan melalui tanah kadang-kadang kurang menguntungkan, karena unsur hara sering terfiksasi, tercuci dan adanya interaksi dengan tanah sehingga unsur hara tersebut relatif kurang tersedia bagi tanaman. Faktor inilah yang mendorong timbulnya pemikiran untuk melaku-kan pemupukan melalui daun (Suhadi, 1980). Keuntungan pemupukan melalui daun adalah penyerapan unsur hara dari pupuk yang di berikan berjalan lebih cepat dibandingkan bila diberikan melalui tanah, sehingga pemberian pupuk melalui daun lebih efisien penyerapan unsur haranya (Lingga, 1994).

Pada prinsipnya pemupukan melalui daun memperhatikan waktu aplikasi yang tepat. Soetejo dan Kartasapoetra (1988) menyebutkan bahwa waktu aplikasi juga menentukan pertumbuhan tanaman. Berbedanya waktu aplikasi akan memberikan hasil yang tidak sesuai dengan pertumbuhan tanaman. pemberian pupuk melalui daun dengan interval waktu yang terlalu sering dapat menyebabkan konsumsi mewah, sehingga menyebabkan pemborosan pupuk. Sebaliknya, bila interval pemupukan terlalu jarang dapat menyebabkan kebutuhan hara tanaman kurang terpenuhi. Interval waktu pemberian pupuk organik cair Enviro di anjurkan yaitu 7-10 hari sekali dengan konsentrasi 1 cc per liter air.

Di samping pemupukan, penggunaan benih varietas unggul juga sangat berpengaruh terhadap hasil mentimun. Penelitian ini menggunakan dua varietas yang menghendaki tempat yang berbeda. Mentimun varietas lokal menghen-daki dataran rendah dan mentimun varietas Hercules 56 menghendaki dataran tinggi untuk pertumbuhan-nya. Mentimun varietas lokal mulai berbunga pada umur 24 HST, umur panen tanaman ini 33-36 HST dan banyak menghasilkan bunga jantan, buahnya berwarna putih kehijauan. Sedangkan varietas Hercules 56 masa panennya 35-60 HST, buah seragam, tidak berongga, daging buah cukup tabal, buah berbentuk panjang silindris dan kulitnya berwarna hijau tua (Cahyono, 2003). Sejauh mana pengaruh dari interval waktu pemupukan organik cair Enviro terhadap pertumbuhan dan hasil dua varietas mentimun serta interaksi antara kedua faktor tersebut belum diketahui oleh karena itu perlu dilakukan penelitian.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interval waktu pembe-rian pupuk organik cair Enviro yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil dua varietas tanaman mentimun serta nyata tidaknya interaksi antara kedua faktor tersebut.

PENGARUH PUPUK ORGANIK DAN ANORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN BEBERAPA VARIETAS JAGUNG MANIS DI LAHAN TSUNAMI

Mardhiah Hayati, Erita Hayati, dan Denni Nurfandi

 

ABSTRACT

 

The study was aimed at determining responses of several sweet corn varieties to organic and inorganic fertilizers on tsunami affected land and knowing interactions between both factors on growth and yield of sweet corn. The experiment was conducted in Village of Lampuuk, Lhoknga, District of Aceh Besar, from January 7 to March 19, 2008. This research was conducted using a randomized complete block design (RCBD), 3 x 3 with 3 replications. There were two factors studied, namely fertilizations, consisting of 3 levels: 100% organic fertilizer, 50% organic fertilizer + 50% inorganic fertilizers and 100% inorganic fertilizers. The second factor was varieties, consisting of 3 levels: Sweet Boy, Hawaiian Sweet Corn Hybrid F1 and Super Bee. The results showed that fertilization significantly affected ear weight with and without cornhusk, but did not affect diameter of ear and seed rows per ear. The highest result was found at a treatment of 50% organic fertilizer + 50% inorganic fertilizers, but was not significantly different from 100% organic fertilizer. Varieties showed no significant effects on all variables observed. There were significant interactions between fertilizations and varieties on plant height at age 42 and 63 day after planting (DAP), leaf length at age 21, 42, and 63 DAP, and root fresh weight at age 21 DAP. The best plant growth was found at a combination of Sweet Boy and 50% organic fertilizer + 50% inorganic fertilizer.

Keywords: organic and inorganic fertilizer, corn, tsunami


 

PENDAHULUAN

Daerah sentral produksi jagung (Zea mays L.) di Indonesia pada umumnya terkonsentrasi di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura, selanjutnya meluas ditanam di luar pulau Jawa. Jagung manis (Zea mays saccharata Sturt) merupakan salah satu dari 7 golongan tanaman jagung. Jagung manis semakin populer dan banyak dikonsumsi karena memiliki rasa yang lebih manis dibandingkan dengan jagung biasa. Selain itu, umur produksi lebih pendek (genjah) sehingga sangat menguntungkan (Rukmana, 1997).

Menurut Koswara (1986), sifat manis pada jagung disebabkan oleh gen su-1 (sugary), bt-2 (brittle) ataupun sh-2 (shrunken). Gen ini dapat mencegah perubahan gula menjadi zat pati pada endosperma sehingga jumlah gula yang ada kira-kira dua kali lebih banyak dari jagung biasa.

 

Untuk mendapatkan hasil tanaman jagung yang baik, faktor yang sangat mempengaruhinya adalah iklim dan morfologi tanaman itu sendiri. Akar merupakan salah satu faktor dari morfologi tanaman. Dengan perakaran yang sehat, tanaman jagung akan lebih kokoh dan dapat menyerap unsur hara yang ada di dalam tanah lebih banyak lagi, sehingga pertumbuhan dan hasil tanaman lebih maksimal.

Bencana alam tsunami yang melanda Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 telah menyebabkan terbawanya garam laut yang terlarut dalam jumlah besar ke lahan pertanian. Menurut Azwar (2005), penimbunan garam terlarut di dalam tanah dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Hal ini dapat mengurangi kesanggupan benih mengabsorbsi air dan secara tidak langsung akan menghambat perkecambahan. Harahap (1984) menyatakan bahwa kadar garam yang tinggi menyebabkan rendahnya persentase tumbuh benih dan pertumbuhan terhambat akibat ber-kurangnya air yang dapat diserap oleh tanaman.

Mengatasi tanah akibat tsunami, disarankan untuk menggunakan pupuk organik. Namun demikian, pupuk anorganik tetap diperlukan. Pupuk adalah bahan yang mengandung unsur hara yang diperlukan tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Tanaman untuk hidupnya membu-tuhkan paling tidak 16 unsur hara esensial yaitu C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, S, Fe, Mn, Zn, Cu, B, Mo, dan Cl. Unsur hara ini diperoleh tanaman dari tanah atau diberikan melalui pemupukan. Pemupukan adalah pem-berian pupuk kepada tanaman melalui tanah, dan atau bagian tertentu dari tanaman, bertujuan untuk menambah unsur hara yang diperlukan tanaman (Sutedjo, 1987).

Pupuk yang diberikan pada tanaman biasanya didasarkan kepada kebutuhan tanaman dan tersedianya unsur hara di dalam tanah untuk tanaman. Dosis pupuk yang dibutuhkan sangat tergantung oleh kesuburan tanah dan diberikan secara bertahap. Anjuran dosis pupuk untuk tanaman jagung manis rata-rata adalah : Urea = 435 kg/ha, TSP = 335 kg/ha (SP 36 = 428 kg/ha) dan KCl = 250 kg/ha. Sedangkan untuk pupuk organik adalah 10 ton/ha (Palungkun dan Budiarti, 2004).

Selain pupuk, perlu diperhatikan varietas yang cocok untuk lahan yang rusak atau varietas yang tahan terhadap kondisi tanah yang telah terkena tsunami. Hal yang terpenting adalah varietas yang cocok dengan lingkungan setempat. Pemilihan varietas bertujuan agar setiap varietas yang dibudidayakan suatu daerah dapat beradaptasi dengan baik karena masing-masing varietas memiliki daya beradaptasi yang berbeda-beda (Anonymous, 1992).

Varietas adalah salah satu di antara banyak faktor yang sangat menentukan dalam pertumbuhan dan hasil tanaman. Selain faktor ling-kungan, penggunaan varietas unggul merupakan salah satu komponen teknologi yang terpenting untuk mencapai produksi yang tinggi. Penggunaan varietas unggul mem-punyai kelebihan dibandingkan dengan varietas lokal dalam hal produksi, ketahanan terhadap hama dan penyakit, respons pemupukan dan ketahanan terhadap gaya-gaya perusak luar lainnya sehingga produksi yang diperoleh baik kualitas maupun kuantitas dapat meningkat (Soegito dan Adie, 1993).

Beberapa varietas jagung manis yang sudah dilepas dan dibudidayakan antara lain adalah Sweet Boy, Hawai Sweet Hybrida F1, Super Bee, Super Sweet, Bisi Sweet 1, Bisi Sweet 2, Bisi Sweet 3 dan Bisi Sweet 4. Penelitian ini menggunakan tiga varietas yaitu Sweet Boy, Hawai Sweet Hybrida F1, dan Super Bee.

Jagung manis varietas Sweet Boy mempunyai rasa sangat manis, penampilan tanaman kokoh dengan daun berwarna hijau gelap, umur panen sedang, agak tahan terhadap penyakit karat daun, toleran terhadap penyakit bulai, tahan rebah dan adaptasi baik di dataran rendah maupun tinggi. Varietas ini mempunyai hasil rata-rata 12.7 tongkol berkelobot/ha dan 11.3 tongkol tanpa kelobot /ha.

Varietas Hawai Sweet daerah adaptasi baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi, berumur 100 hari di dataran tinggi dan 64 hari di dataran rendah. Rata-rata hasil 12 ton/ha berkelobot, 9.5 ton/ha tanpa kelobot.

Varietas Corn Super Bee dapat ditanam di daerah dataran rendah, menengah dan dataran tinggi, berat 300 – 400 g/tongkol. Potensi hasil 12 – 14 ton/ha, toleran terhadap penyakit bulai dan karat daun, dapat dipanen pada umur 70 hari setelah tanam (Keputusan Menteri Pertanian, 2000).

Berdasarkan uraian di atas, belum diketahui pertumbuhan dan hasil beberapa varietas jagung manis akibat pemakaian kombinasi pupuk organik dan anorganik di lahan terkena tsunami, maka perlu dilakukan serangkaian penelitian.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk dan kombinasi pupuk organik dan anorganik terhadap pertumbuhan dan produksi beberapa varietas jagung manis pada lahan terkena tsunami, serta untuk mengetahui interaksi antara kedua faktor tersebut terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis.

PENGARUH JENIS PUPUK ORGANIK DAN JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN LIDAH BUAYA

Jumini dan Syammiah

 

ABSTRACT

The objectives of this research were to know the effect of organic fertilizer species and planting space, and interaction between them on the growth of aloe. Research was done from February to May 2006 at experiment station of Agriculture Faculty of Syiah Kuala University. Units of treatments were arranged by factorial randomized complete block design with 3 replications. Data collected were analyzed by analysis of variance and followed with honestly significant different test at the level of 5%. The results showed that cow manure was the best for the growth of aloe compared to compos, and the spacing of 70×70 cm was the best planting space. However, the interaction between the two factors showed that widening planting space from 60×60 cm to 70×70 cm with cow manure did not give significant effect; while this gave significant positive effect when using compos.

Keywords: organic fertilizer, planting space, Aloe vera


PENDAHULUAN

Lidah buaya (Aloe vera (L.) Weeb.) merupakan satu dari 10 jenis tanaman terlaris di dunia yang berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai tanaman obat dan bahan baku industri. Menurut Wahjono dan Koesnandar (2002), tanaman lidah buaya memiliki banyak manfaat dan khasiat, beberapa di antaranya: anti jamur, anti bakteri, regerasi sel, menurunkan kadar gula dalam darah bagi penderita diabetes, melindungi tubuh dari penyakit kanker, sebagai nutrisi pendukung bagi penderita HIV, obat luka memar, muntah darah, obat cacing dan susah buang air besar.[1]

Permintaan lidah buaya di Indonesia untuk bahan kosmetik dan obat-obatan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya perusahaan pengolahan daun lidah buaya, sehingga setiap tahun harus mengimpor dari Amerika Serikat dan Australia (Furnawanthi, 2002). Melihat peluang pasar yang besar, produksi lidah buaya di dalam negre harus ditingkatkan sehingga paling tidak dapat menurunkan angka ekspor.

Seperti halnya tanaman lain, untuk dapat berproduksi maksimal lidah buaya harus dipenuhi segala kebutuhan hidupnya. Secara morfologi tanaman lidah buaya berperakaran dangkal, sehingga kesempurnaan tanah bagian atas menjadi sangat penting. Pemanfaatan pupuk organik adalah solusi terbaik mengingat peran pentingnya dalam memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Setiap jenis pupuk organik walaupun memiliki peran yang relatif sama namun memiliki karakteristik tersendiri, dan hingga kini belum diketahui jenis pupuk organik terbaik untuk budidaya lidah buaya.

Selain kebutuhan yang bersifat input, kebutuhan akan ruang hidup atau jarak tanam juga memiliki pengaruh yang sangat besar. Jarak tanam yang terlalu lebar dapat menyebabkan tidak efisiennya penggunaan tanah (populasi tanaman terlalu kecil) dan dapat merangsang tumbuhnya gulma, sebaliknya bila terlalu sempit mengakibatkan daun antar tanaman saling bersinggungan hingga akan terluka, yang pada akhirnya akan menurunkan produksi. Jarak tanam optimum tergantung pada beberapa faktor seperti kesuburan tanah, kelembaban tanah, dan varietas yang dibudidayakan (Sumarno, 1984).

Belum ada kesesuaian pendapat tentang jarak tanam yang baik untuk tanaman lidah buaya, namun dengan beberapa alasan, jarak tanam yang dianjurkan berada pada kisaran 50×50 cm sampai 100×100 cm (Sudarto, 1997), karena jarak tanam sangat dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan dimana tanaman tersebut dibudidayakan. Sungguhpun demikian, dengan panjang akar 30-40 cm dan panjang daun 50-75 cm, pendapat di atas tidak dapat dibantah. Namun karena masih berada pada kisaran yang luas maka cukup layak untuk ditentukan jarak tanam yang lebih tepat.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh (sekaligus menentukan pilihan terbaik) jenis pupuk organik dan jarak tanam, serta interaksi antara keduanya, terhadap pertumbuhan tanaman lidah buaya.

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK DAN JENIS MULSA ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merrill)

Ainun Marliah, Nurhayati, dan Dewi Susilawati

ABSRACT

A study to determine a right concentration of organic fertilizer Super Nasa and type of organic mulches on growth and yield of soybeans has been conducted. The experiment used a factorial randomized complete block design 4 x 3 with 3 replications. Factors studied were concentrations of organic fertilizer Super Nasa, consisting of 4 levels: 0, 5, 10, 15 g/L of water and types of organic mulches, consisting of three levels: printing newspaper, bagasse, and paddy stalk. Results showed that the concentrations of organic fertilizer Super Nasa exerted highly significant effects on dried grain weight per plot netto and dried seed weight per hectare and exerted a significant effect on plant height 45 day after planting, but exerted no significant effect on other variables. The best growth and yield of soybean were found at a concentration of organic fertilizers Super Nasa 10 g/L of water. Types of organic mulches did not affect all variables observed. However, Soybean yield was apparently better at printing newspaper. There was no significant interaction between concentration of organic fertilizer Super Nasa and types of organic mulches on all growth and yield variables observed.

Keywords: organic fertilizer, printing newspaper, bagasse, paddy stalk, soybeans, Super Nasa


PENDAHULUAN

Tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merrill) merupakan salah satu tanaman palawija yang digolongkan ke dalam famili Leguminoceae, sub famili Papilionoideae. Tanaman ini berasal dari kedelai liar China, Manchuria dan Korea. Kedelai merupakan salah satu komoditi pangan yang semakin penting, bukan hanya menghasilkan sumber pangan yang langsung dapat dikonsumsi, juga sebagai pakan ternak dan bahan baku industri (Suprapto, 1997).

Menurut Suprapto (2002), biji kedelai mengandung zat-zat yang berguna dan senyawa-senyawa tertentu yang sangat dibutuhkan oleh organ tubuh manusia untuk kelangsungan hidupnya, terutama kandungan protein (35%), karbohidrat (35%), dan lemak (15%), air (13%). Bahkan pada varietas-varietas unggul kandungan proteinnya bisa mencapai 41%-50%. Kandungan protein pada kedelai relatif lebih tinggi dibandingkan bahan penghasil protein lainnya.

Hasil kedelai di Indonesia rata-rata masih rendah yaitu antara 0,7 – 1,5 ton/ha dengan budidaya yang intensif hasilnya dapat mencapai 2 – 2,5 ton/ha. Oleh karena itu pengembangan tanaman kedelai pada suatu daerah dengan cara intensif dapat meningkatkan hasil per hektar serta mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan (Sumarno, 1983).

Berbagai cara dapat dilaku-kan untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil kedelai, di antaranya dengan pemupukan. Dwijoseputro (1988) menyatakan bahwa pemupukan perlu dilakukan untuk menambah unsur hara ke dalam media tanam, karena sesungguhnya tanah mempunyai keterbatasan dalam menyediakan unsur hara yang cukup untuk pertumbuhan tanaman, di antaranya adalah penggunaan pupuk organik.

Pupuk organik merupakan pupuk dengan bahan dasar yang diambil dari alam dengan jumlah dan unsur hara yang bervariasi. Penggunaan pupuk organik dapat meningkatkan efisiensi pemakaian pupuk anorganik, karena pupuk organik tersebut dapat meningkatkan air dan hara di dalam tanah, meningkatkan aktivitas mikroorganisme, mempertinggi kadar humus dan memperbaiki struktur tanah (Musnawar,2005).

Super Nasa merupakan salah satu pupuk organik yang dapat digunakan untuk meningkatkan per-tumbuhan dan hasil kedelai. Pupuk organik Super Nasa mempunyai beberapa fungsi utama yaitu dapat mengurangi penggunaan pupuk N, P dan K. Selain itu dapat memperbaiki sifat fisik tanah yaitu memperbaiki tanah yang keras berangsur-angsur menjadi gembur, memperbaiki sifat kimia tanah yaitu memberikan semua jenis unsur makro dan mikro lengkap bagi tanah, dan meningkatkan biologi tanah yaitu membantu perkembangan mikroorganisme tanah yang bermanfaat bagi tanaman, dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi tanaman, dapat melarutkan sisa-sisa pupuk kimia dalam tanah sehingga dapat dimanfaatkan kembali oleh tanaman, memacu pertumbuhan tanaman, merangsang pembungaan dan pembuahan serta mengurangi kerontokan bunga dan buah.

Kandungan unsur hara dari pupuk Super Nasa adalah N 2,67%, P2O5 1,36%, K2O 1,55%, Ca 1,46%, S 1,43%, Mg 0,4%, Cl 1,27%, Mn 0,01%, Fe 0,18%, Cu < 1,19 ppm, Zn 0,002%, Na 0,11%, Si ),3%, Al 0,11%, NaCl 2,09%, SO4 4,31%, Lemak 0,07%, Protein 16,67%, Asam-asam organik (Karbohidrat 1.01%, humat 1,29%, Vulvat dan lain-lain) dengan C/N rasio rendah 5,86% dan pH 8. Konsentrasi yang digunakan untuk tanaman pangan dan sayur-sayuran adalah 250-500 g/25-50 liter air1.

Selain pupuk, pemberian mulsa merupakan salah satu komponen penting dalam usaha meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman. Mulsa adalah bahan atau material yang digunakan untuk menutupi permukaan tanah atau lahan pertanian dengan maksud dan tujuan tertentu yang prinsipnya adalah untuk meningkatkan produksi tanaman. Penggunaan mulsa dapat memberikan keuntungan antara lain menghemat penggunaan air dengan mengurangi laju evaporasi dari permukaan lahan, memperkecil fluktuasi suhu tanah sehingga menguntungkan pertumbuhan akar dan mikroorganisme tanah, memperkecil laju erosi tanah baik akibat tumbukan butir-butir hujan maupun aliran permukaan dan menghambat laju pertumbuhan gulma (Lakitan, 1995).

Mulsa yang telah umum digunakan dalam budidaya pertanian, dapat berupa mulsa organik maupun mulsa sintetik. Mulsa organik berupa jerami, sekam, alang-alang dan sebagainya, sedangkan mulsa sintetik berupa mulsa plastik. Ketebalan lapisan mulsa organik yang dianjurkan adalah antara 5-10 cm. Mulsa yang terlalu tipis akan kurang efektif dalam mengendalikan gulma. Sedangkan, menurut Tamaluddin (1993), ketebalan mulsa yang diberikan pada permukaan tanah berkisar antara 2-7 cm.

Mulsa organik lebih disukai terutama pada sistem pertanian organik. Pemberian mulsa organik seperti jerami akan memberikan suatu lingkungan pertumbuhan yang baik bagi tanaman karena dapat mengurangi evaporasi, mencegah penyinaran langsung sinar matahari yang berlebihan terhadap tanah serta kelembaban tanah dapat terjaga, sehingga tanaman dapat menyerap air dan unsur hara dengan baik (Subhan dan Sumanna, 1994). Perbedaan penggunaan bahan mulsa akan memberikan pengaruh yang berbeda pada pertumbuhan dan hasil kedelai. Jenis mulsa organik lain seperti kertas koran, ampas tebu dan jerami sangat mudah didapat dan mudah dalam hal pemasangannya.

Dari uraian di atas belum diketahui dengan pasti berapa konsentrasi pupuk organik Super Nasa dan jenis mulsa organik yang sesuai untuk pertumbuhan dan hasil kedelai serta interaksi antara konsentrasi pupuk organik Super Nasa dan jenis mulsa organik yang sesuai untuk pertumbuhan dan hasil kedelai, untuk itu perlu dilakukan serangkaian penelitian.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi pupuk organik Super Nasa dan jenis mulsa organik yang sesuai terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai. Selain itu untuk mengetahui nyata tidaknya interaksi antara kedua faktor tersebut.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.