Posts Tagged ‘mikoriza’

AKSERELASI PERTUMBUHAN STUMP JATI (Tectona grandis L.f.) DENGAN PEMOTONGAN BATANG DAN INOKULASI MIKORIZA

Efendi, Syammiah, dan Muhammad Iqbal

Abstract

A study was carried out to attempt accelerating growth of teak stump by stem cutting and inoculation of Mycorrhiza. Three months-old-seedlings of teak were cut and inoculated with mychorryza. Results of the study showed that growth of teak stump, including stem height, plant height, stem diameter, numbers of leaves, length of leaves, and fresh weight of the teak plant were significantly affected by cutting stem and inoculation of Mycorrhiza. We found that length of stem, length of plant, stem diameter, numbers of leaves, length of leaves were of significantly-positive responses to stem cutting. Additionally, inoculation of Mycorrhiza also successfully accelerated growth of teak stump, including stem, leaves, and biomass. This study found a non-significant interaction between the cutting stem and inoculation of Mycorrhiza. The present study revealed that the cutting stem 2.5-7.5 could be considered as the optimum treatment to enhance growth of teak stump. Moreover, inoculation of Mycorrhiza with 2.5 g/polybag was the optimum dosage to enhance growth of teak stump. The dosage of Mycorrhiza inoculation did not depend on length of cutting stem.

Keywords: teak, stem cutting, Mycorrhiza, growth, stump

PENDAHULUAN

Tanaman jati (Tectona grandis L.f.) dikenal sebagai penghasil kayu mewah bernilai ekonomis tinggi dengan kualitas terbaik (Suryana, 2001). Jati dapat diolah menjadi perabot, venir untuk permukaan kayu lapis dan sebagai parket penutup lantai. Jati sering juga dipakai untuk dok pelabuhan, bantalan rel kereta api, jembatan, dan kapal (Ariyantoro, 2006). Sanjaya (2011) mengemukakan bahwa pasokan jati Indonesia masih kekurangan, yaitu sebesar 1,7 juta m3/tahun. Dengan demikian, pengembangan jati dinilai sangat prospek di masa yang akan datang. Sayangnya, beberapa permasalahan masih dihadapi saat ini. Diantaranya adalah kurangnya teknologi budidaya yang berwawasan lingkungan untuk mendukung akselerasi pertumbuhan jati secara cepat dan efisien. Para petani di Indonesia masih kurang berminat menanam jati karena masa panen kayu jati yang relatif masih lama (Yana, 2009). Oleh karena itu, kita perlu mengembangkan teknologi budidaya yang dapat mempercepat pertumbuhan jati, termasuk pada saat pembibitan.

Namun demikian, untuk memenuhi kebutuhan bibit jati dalam jumlah besar di daerah-daerah yang jauh, bibit jati sering diangkut dengan menggunakan organ stump. Organ ini merupakan bibit yang telah dibongkar dan dipotong batang dan akarnya, sehingga tersisa akar utama dengan beberapa sentimeter pangkal batang. Dalam hal ini, masih ada permasalahan lain yaitu berapakah tinggi batang yang terbaik yang harus disisakan sebagai stump. Pemotongan yang terlalu pendek dapat menghambat tumbuhnya tunas baru secara cepat. Sedangkan pemotongan yang terlalu panjang menjadi tidak efisien dan adanya kemungkinan tumbuhnya tunas yang berlebihan.

Di samping pemotongan tunas, diperlukan juga usaha untuk mempercepat pertumbuhan stump jati. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah melalui pemupukan. Pada penelitian sebelumnya, pemupukan jati dengan menggunakan pupuk NPK anorganik telah berhasil meningkatkan diameter batang, tinggi batang, tinggi bibit, jumlah daun, panjang daun, dan lebar daun jati (Efendi, 2011). Namun demikian, pemupukan dengan pupuk anorganik selain memerlukan biaya tinggi, juga adanya kemungkinan dampak negatif terhadap sifat-sifat tanah, seperti keasaman tanah, tertekannya kehidupan biologis tanah, serta berbagai kerusakan sifat fisik tanah lainnya.

Oleh karena itu, penggunaan pupuk alternatif, seperti pupuk hayati perlu dikaji untuk mengatasi permasalahan lingkungan serta usaha-usaha mempercepat pertumbuhan bibit jati. Salah satu pupuk hayati yang banyak digunakan saat ini adalah mikoriza. Akan tetapi, berapa dosis mikoriza yang tepat untuk mendorong pertumbuhan stump jati secara cepat belum diketahui dengan baik. Apabila dosis mikoriza yang diberikan terlalu rendah diduga tidak akan efektif, dan jika diberikan terlalu banyak akan menjadi tidak efisien.

Husna et al. (2007) mengemukakan bahwa keuntungan pemakaian mikoriza adalah sebagai berikut: dapat membantu akar tanaman dalam penyerapan unsur hara makro dan mikro; lebih banyak menyerap air karena dapat menjangkau pori-pori mikro tanah yang tidak bisa dijangkau oleh rambut-rambut akar; meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan patogen akar; serta menghasilkan zat pengatur tumbuh yang dapat menstimulasi pertumbuhan tanaman. Di samping itu, Novriani dan Madjid (2009) menjelaskan bahwa asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.