Posts Tagged ‘kacang tanah’

PENGARUH VARIETAS KACANG TANAH DAN WAKTU TANAM JAGUNG MANIS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL PADA SISTEM TUMPANGSARI

Effect of Ground Nut Varieties and Sweat Corn Planting Time  through Intercropping System on Growth and Yield of the Two Plants

Lukman Nulhakim and Muhammad Hatta

ABSTRACT

The aim of this research was to know the effect of sweat corn planting time and ground nuts varieties, and interaction between them, on both growth and yield in intercropping system. This research was conducted at Cot Cut village, Kota Baro regency, Aceh Besar sub district, from June to October 2007. Treatments were arranged by Factorial Completely Randomized Block Design 3 x 4 with 3 replicates. Sweat corn planting time consisted of 0, 15, 30 and 45 days after ground nut planting, and ground nuts varieties consisted of Putih, Merah and Gajah. Each plot were 3,5 m x 3,5 m in size, the planting spacing for sweat corn was 100 cm x 75 cm, and for ground nut was 25 cm x 25 cm. Manure was 12,25 kg/plot, applicated 1 week before ground nut planting. Urea for ground nuts was 0,12 kg/plot, applicated at ground nuts planting. Urea for sweat corn was 0,37 kg/plot, applicated 1 week after each planting times. TSP and KCl were given at ground nut planting. The results showed that 0 day after ground nut planting was the best for sweat corn growth, but 15 days after ground nut planting was the best for sweat corn yield. Variety of Putih was the best for both plants growth and yield. There was interaction between both treatments on ear of sweat corn diameters.  The best combination was  Putih variety planted at the same time with sweat corn

Keywords: Ground nut varieties, sweat corn planting time, intercropping

Artikel lengkap dapat anda pesan

Caranya

1. Tulis pesanan anda di komentar blog ini atau kirim ke email :   hatta_ksg@yahoo.com atau hatta2ksg@gmail.com

2.  Donasikan  Rp 50.000,- ke rekening

1050095020990

Bank Mandiri

3. Konfirmasikan donasi anda dengan sms ke nomor  hp:081360016837

Artikel akan segera dikirim ke alamat email anda

Catatan: pengiriman hanya dengan email

HUBUNGAN SALINITAS DENGAN VIABILITAS BENIH KACANG TANAH

Sabaruddin Zakaria dan Cut Meutia Fitriani

ABSTRACT

       The research has been made to explain the relationship between two-sortation methods with peanut seed (Arachis hypogaea, L.) viability and vigor and its application for salinity resistance appraisal. Completely Randomized Design with Factorial type 3 x 3 and 3 repetitions was used to analyze the effect of sortation method. The parameters used in this research were seed growth potential, germination ability, growth velocity and T50. The second research for salinity resistance was using Completely Randomized Design with Factorial type 2×4 and 3 repetitions. The parameters used in this research were seed vigor, growth velocity and T50. The research results showed that sortation method did not have significant difference on the peanut seed viability. Seed sortation by using 1.5 % NaCl solution could be used as one alternative for sortation of peanut seed. However, the sortation by using 3.0 % NaCl solution caused negative effect on the viability and vigor of peanut seed. Salinity factors gave high significant difference on the viability of seed. The highest seed viability was found without NaCl treatment (control). Relationship between salinity and seed viability was linear negative, meanings that higher salinity cause lower seed viability.

Keywords : peanut, sortation, salinity

PENDAHULUAN

            Untuk menaikkan hasil kacang tanah per satuan luas, maka diperlukan usaha yang lebih intensif dalam sistem budidayanya. Usaha yang diperlukan dalam peningkatan hasil kacang tanah tidak hanya tertumpu pada aspek kuantitas tetapi juga mencakup aspek kualitas. Kuantitas dan kualitas hasil yang tinggi hanya dapat diperoleh bila benih yang digunakan adalah benih yang bermutu (Sumarno dan Hartono, 1983).

            Menurut Sudikno (1977) salah satu kriteria benih berkualitas adalah tingginya kemurnian benih. Adanya keragaman genetika dan lingkungan dari benih yang dihasilkan menyebabkan kemurnian benih menjadi suatu masalah. Upaya terakhir yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut ialah dengan sortasi.

            Peningkatan produksi tanaman dengan cara perluasan areal sering mendapat hambatan karena semakin terbatasnya lahan yang sesuai untuk dijadikan lahan pertanian. Terbatasnya lahan ini selalu berkaitan antara berbagai kepentingan yang bertolak belakang. Disatu pihak produksi pangan harus ditingkatkan, di pihak lain tanah dan produktifitasnya mempunyai berbagai masalah. Sebagian tanah tersebut tidak sesuai untuk dijadikan lahan pertanian akibat faktor pembatas, seperti tanah rawa, tanah masam dan tanah salin (Sutedjo dan Kartasapoetra, 1988)

            Tanah salin diIndonesiasemakin banyak dijumpai karena adanya akumulasi garam yang tinggi di lapisan permukaan. Semua jenis tanah yang tersebar di daerah arid dan semi arid serta sepanjang pesisir pantai dapat berkembang menjadi tanah salin dengan akumulasi garam yang tinggi di lapisan permukaan (Jonaidi, 1987).

            Bintoro (1983) menyatakan masalah salinitas timbul apabila konsentrasi NaCl, Na2CO3, Na2SO4 dan garam-garam Mg terdapat dalam jumlah yang berlebihan. Garam NaCl adalah yang paling dominan karena Natrium (Na+) akan terakumulasi pada lapisan tanah atas dalam jumlah yang berlebihan.

            Menurut Rusell (1958), kadar garam yang tinggi dapat menaikkan tekanan osmosis. Hal ini dapat mengurangi kesanggupan benih mengabsorbsi air dan secara tidak langsung akan menghambat perkecambahan benih, karena benih tidak memperoleh kadar air yang cukup. Hal ini sesuai dengan pendapat Kamil (1979) yang menyatakan bahwa, jika konsentrasi suatu larutan di sekitar biji tinggi dapat menyebabkan tidak atau kurang meresapnya air ke dalam biji sehingga mengakibatkan benih tidak berkecambah.

            Bintoro et al. (1990) menyatakan bahwa, toleransi tanaman terhadap salinitas tergantung pada jenis dan tingkat pertumbuhan tanaman. Dengan kata lain tanaman mempunyai batas toleransi yang berbeda terhadap salinitas. Kebanyakan tanaman pertanian sangat peka terhadap kandungan garam dalam tanah. Benih yang ditanam di daerah yang mempunyai salinitas tinggi sangat sulit atau tidak dapat berkecambah sama sekali. Hal ini disebabkan  terhambatnya serapan air oleh benih dan terjadi keracunan oleh ion-ion yang menyusun garam tersebut.

            Tanaman kacang tanah merupakan salah satu tanaman bahan makanan penting diIndonesiayang harus diupayakan pengembangannya meskipun pada tanah marginal. Tanah salin adalah salah satu jenis tanah marginal yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman baik pada fase perkecambahan maupun fase-fase lainnya. Pengaruh salinitas terhadap perkecambahan benih mencakup dua hal yaitu pengaruh tekanan osmosis yang tinggi sehingga benih sulit menyerap air dan pengaruh kimia atau keracunan oleh ion-ion spesifik yang menyusun garam. Karena itu penelitian untuk mengetahui sejauh mana toleransi tanaman kacang tanah terhadap salinitas, baik pada fase perkecambahan maupun pada fase sesudahnya perlu dilaksanakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara metode sortasi benih dengan viabilitas dan vigor benih kacang tanah serta aplikasinya untuk menduga tingkat ketahanan salinitas.

 


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.