DAYA HAMBAT RIZOBAKTERI KANDIDAT AGENS BIOKONTROL TERHADAP PERTUMBUHAN KOLONI PATOGEN PHYTOPHTHORA CAPSICI SECARA IN VITRO

Deterrent Ability of Rhizobacteria As Biocontrol Agent Candidates to Pathogen Phytophthora capsici Colony Growth In Vitro

Syamsuddin dan M. Abduh Ulim

 

ABSTRACT

The utilization of biocontrol agents as an alternative to synthetic pesticides becomes widespread as the increase of awareness to negative effects of synthetic pesticides. The objectives of this research were to isolate rhizobacteria from tomato plant rhizosphere and to characterize effective rhizobacteria isolates to deter growth of Phytopthora capsici colony. The rhizobacteria was isolated from healthy tomato plant rhizosphere, and then antagonism nature to pathogen was evaluated by double culture method. Deterrent ability of the rhizobacteria was measured based on resistance zone formed due to the presence of the biocontrol agents. Among 57 isolates, 18 were potential for further evaluation. Deterrent ability test of the 18 isolates resulted in 3 isolates which were very promising to be developed as biocontrol agents to control seed borne pathogens. They were RBBM36, RBBM18 and RBBM35.

Keywords: Isolate, biocontrol agents, rhizosphere, resistivity zone

PENDAHULUAN

Salah satu usaha untuk mengeliminasi patogen dan kejadian penyakit pada tanaman dapat dilakukan dengan penggunaan agens pengendali hayati yang berasal dari rizosfer tanaman. Penggunaan agens pengendalian hayati sebagai alternatif penggunaan pestisida kimia semakin banyak dikembangkan sejalan dengan meningkatnya kesadaran terhadap dampak dari pestisida kimia tersebut. Rizobakteri yang berasal dari rizosfer tanaman yang secara biologis telah menyatu dengan ekosistemnya, mempunyai kemampuan secara spesifik untuk menekan berbagai penyakit tanaman (Yamaguchi, 1996).

Rizobakteri, merupakan bakteri saprofit yang hidup pada rizosfer dan mengkolonisasi sistem perakaran tanaman, telah dipelajari sebagai sebagai agens biokontrol untuk mengendalikan penyakit dan pemacu pertumbuhan tanaman (Plant growth Promoting Rhizobacteria) untuk meningkatkan produksi tanaman (Silva et al, 2003). Strain rizobakteri pemacu pertumbuhan tertentu telah digunakan sebagai inoculant biofertilizer (Kennedy et al, 2004).

Beberapa jenis rizobakteri yang saat ini banyak dikembangkan sebagai agens biokontrol diantaranya adalah spesies Pseudomonas, Bacillus, Serratia, Streptomyces, Azospirillum, Agrobacterium, Phyllobacterium, Rhizobium, Enterobacter, Alkaligenes, Burkholderia, Beijerinkia, Klebsiella, Clostridium Vario-vovax, Xanthomonas dan Arthrobacter (Kim, 1997; De Silva, 2000; Bullied, 2002; Lugtenberg, 2002; Lucy et al, 2004). Peran rizobakteri sebagai agens antagonis dalam menghambat patogen tanaman secara in vitro berhubungan dengan kemampuannya dalam mensintesis metabolit sekunder seperti senyawa antibiotik, siderofor, hidrogen sianida (HCN) dan sintesis berbagai enzim degradasi dinding sel patogen seperti kitinase, 1,3-glukanase, 1,4-glukanase, selulase, lipase, dan protease, serta produksi l-aminociklopropane -l-carbocylate (ACC) deaminase (Baharum et al, 2003; Huang & Chen, 2004; Gohel et al, 2004; Diby, 2004; Sutariati, 2006).

Busuk phytophthora termasuk salah satu penyakit yang mengakibatkan kehilangan hasil tomat di seluruh dunia. Sementara pengendalian penyakit ini masih sulit dikendalikan karena belum tersedianya varietas yang resisten, dan patogen dapat terbawa benih dan tular tanah, serta metode pengendaliannya masih terbatas. Benih telah dilaporkan merupakan salah satu sumber inokulum patogen phytophthora pada tanaman tomat (Erwin & Ribeiro, 1996; Roberts et al, 2000; Louws et al, 2002).

Sejauh ini pengendalian penyakit busuk phytophthora pada tomat dilakukan secara kimiawi dengan menggunakan fungisida metalaxyl, mefenoxam atau berbagai fungisida lainnya. Pengendalian secara biologis dengan memaanfatkan rizobakteri yang diisolasi dari rizosfer tanaman masih belum banyak dilaporkan. Walaupun banyak hasil penelitian telah dilaporkan bahwa penggunaan agens biokontrol secara efektif mengendalikan berbagai penyakit pada beberapa komoditas tanaman. Tetapi pada tanaman tomat, khususnya untuk pengendalian patogen P. capsici yang menginfeksi tanaman tomat masih belum banyak informasinya. Oleh karena itu perlu diisolasi dan dikarakterisasi kemampuannya untuk mengetahui daya hambat pertumbuhan koloni berbagai patogen tanaman tomat. Evaluasi daya hambat rizobakteri secara in vitro merupakan langkah awal untuk mengetahui efektivitasnya sebagai agens biokontrol.

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan isolasi rizobakteri sebagai kandidat agens biokontrol yang berasal dari daerah rizosfer tanaman tomat sehat diantara tanaman tomat yang terinfeksi patogen P.capsici. Penelitian juga bertujuan untuk mengevaluasi daya hambat rizobakteri yang diperoleh terhadap pertumbuhan koloni P. capsici.

KEEFEKTIFAN EKSTRAK DAUN PARE (Momordica charantia) DALAM MENGENDALIKAN Crocidokomia pavonana F. PADA TANAMAN SAWI

 

Effectiveness of Leaf Extract of Bitter Melon (Momordica charantia) In Controling Crocidokomia pavonana F. On Mustard

Hasnah, Husni, dan Nezpi Noza Purnama

 

 

ABSTRACT

The purpose of this study was to obtain effective concentrations of leaf extracts of bitter melon in controlling Crocidolomia pavonana on mustard (Brassia juncea Linn). The experiment was conducted at Laboratory of Plant Pests and Diseases, Faculty of Agricultural Kuala University, Banda Aceh. The study took place from August to November 2010. The experiment was arranged in a Completely Randomized Design (CRD), with six concentration of 0, 5, 10, 15, 20, and 25 ml/L solution. Each treatment was repeated 4 times to obtain 24 units of the experiment. Variables observed were mortality of larvae C. pavonana, formed pupa percentage, emerging imago percentage and feeding deterrent percentage. The results showed that application of leaf extract of M. charatia could control C. pavonana on mustard. The higher concentration of the leaf extract was given, the more effective control was against C. pavonana on mustard plant. The use of leaf extracts M. charantia in concentration of 20% was able to control C. pavonana up to 60%.

 

Keywords: bitter melon, Crocidokomia pavonana, mustard, leaf exttact

 

 

 

PENDAHULUAN

Salah satu kendala utama dalam budidaya tanaman sawi adalah adanya serangan hama Crocidolomia pavonana yang dapat menurunkan hasil produksi baik secara kualitas maupun kuantitas. Akibat serangan hama ini dapat menggagalkan panen, terutama pada musim kemarau (Cahyono, 1995 dalam Santoso & Sumarmi, 2008).

Pada umumnya pengendalian hama yang dilakukan oleh petani sawi di Indonesia adalah secara kimiawi dengan menggunakan insektisida sintetik. Penggunaan insektisida cenderung berlebihan, bersifat preventif dan dilakukan secara terjadwal (Suyanto, 1994). Akibat meningkatnya penggunaan insektisida sintetik, bertambah pula permasalahan dan dampak negatif yang ditimbulkan oleh residu bahan kimia tersebut terhadap kelestarian lingkungan, biotik maupun abiotik (Oka, 1995).

Pemerintah telah menerapkan konsep pengendalian hama terin-tegrasi pada pembudidayaan tanaman hortikultura, salah satu komponen utamanya adalah pemanfaatan insektisida nabati (Kardinan, 1997). Mardiningsih & Tobing (1994), menyebutkan bahwa insektisida nabati relatif lebih mudah didapat, aman terhadap organisme bukan sasaran dan mudah terurai di alam sehingga tidak menimbulkan polusi.

Penggunaan ekstrak tumbuh-an sebagai salah satu sumber insektisida nabati didasarkan atas pemikiran bahwa terdapat meka-nisme pertahanan dari tumbuhan akibat interaksinya dengan serangga pemakan tumbuhan, salah satunya adalah adanya senyawa metabolik sekunder dari tumbuhan yang bersifat sebagai penolak (repellent), penghambat makan (antifeedant/ feeding deterrent), penghambat perkembangan (Insect Growth Regulator/ IGR), dan penolak peneluran (oviposition repellent/ deterrent), dan sebagai bahan kimia yang mematikan serangga dengan cepat (Prijono, 1999).

Salah satu tanaman yang bersifat insektisida nabati adalah tanaman pare (Momordica charantia). Pemanfaatan tanaman ini cukup beragam terutama sekali digunakan untuk bahan obat modern. Senyawa aktif yang terdapat dalam daun pare antara lain momordisin, momordin, karantin, resin, minyak lemak, saponin, dan flavonoid yang berfungsi sebagai antimikroba. Selain itu, di dalam daun pare terkandung alkaloid yang berfungsi sebagai insektisida (Utami & Prapti, 2003).

Cara kerja senyawa-senyawa tersebut yaitu flavonoid, alkaloid, saponin, minyak lemak dan momordisin adalah dengan bertindak sebagai racun perut. Bila senyawa-senyawa ini masuk ke dalam tubuh larva, maka alat pencernaannya akan terganggu. Selain itu senyawa ini juga menghambat reseptor perasa pada daerah mulut larva. Hal ini mengakibatkan larva gagal mendapatkan stimulus rasa sehingga tidak mampu mengenali makanannya, dan mengakibatkan larva mati kelaparan (Cahyadi, 2009).

Hasil penelitian Ling et al. (2008), menunjukkan bahwa senyawa momordisin I dan II yang terkandung dalam daun pare mempunyai sifat antifeedan yang penting terhadap larva Plutella xylostela. LC50 untuk momordisin II terhadap larva P. xylotela pada instar 2 dan 3 yaitu 76,69 µg/ml dan 116,24 µg/ml, sedangkan momordisin I adalah 144,08 µg/ml dan 168,42 µg/ml. oleh karena itu, senyawa momordisin I dan II sangat berperan dalam proses penghambatan perkembangan dan pertumbuhan larva P. xylostela. Momordisin I lebih beracun dibandingkan momordisin II. Selanjutnya hasil penelitian terhadap Liriomyza sativae bahwa pada konsentrasi 4000 µg/ml dapat menghambat makan sampai 78,02 % dan menghambat proses peletakan telur sampai 78,36% (Ling et al., 2009).

Hasil penelitian Cahyadi (2009) bahwa, aplikasi ekstrak daun pare pada larva Artemia sali, menghasilkan LC50 pada 519,226 µg/ml. Selanjutnya penelitian Dharma (2011) dengan penggunaan ekstrak daun pare sebanyak 100mg mampu menghambat makan sampai 85% dari larva Spodoptera litura dengan menggunakan pelarut metanol.

Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang keefektifan ekstrak daun pare
(M. charantia) dalam mengendalikan hama C. pavonana pada tanaman sawi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi ekstrak daun pare yang efektif dalam mengendalikan C. pavonana pada tanaman sawi.

KEMAMPUAN ANTAGONIS Trichoderma sp. TERHADAP BEBERAPA JAMUR PATOGEN IN VITRO

The Ability of Antagonist Trichoderma sp. Against Some Pathogenic Fungus In Vitro.

 

Alfizar, Marlina, dan Fitri Susanti

 

 

ABSTRACT

Pathogens often cause disease in plants, causing losses both in quality and quantity, and frequently can cause death on plants cultivated. Biological control begin to be selected in control of pathogens. Antagonist agent Trichoderma is
known to control fungal pathogens causing plant diseases. This study looked over inhibition effects of Trichoderma sp. against pathogenic fungi; C. capsici, Fusarium sp. and S. rolfsii. This research was conducted at Laboratory of Plant Pathology Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University from April to August 2012. The study began with isolation of the pathogen obtained from chili and soybean crops infected in the field.. Pathogenic fungi isolated were Colletotrichum capsici, Fusarium sp. and Sclerotium rolfsii. Variables observed were wide and diameter colony of Trichoderma sp., diameter colony of pathogens, and the percentage of inhibition. The results showed that Trichoderma sp., had ability to inhibit the growth of pathogen Colletotrichum capsici, Fusarium sp. and Sclerotium rolfsii
in vitro. The highest percentage of inhibition of Trichoderma sp. was 68,2% against Colletotrichum capsici, followed by 53,9% against Fusarium sp., and the lowest inhibition was against Sclerotium rolfsii (35.5%).

 

Keywords: Trichoderma sp., Antagonist, Pathogens, In vitro, Percentage of inhibition

 

    

 

PENDAHULUAN

Pengendalian terhadap pato-gen tanaman saat ini masih bertumpu pada penggunaan pestisida sintetik. Namun penggunaan pestisida sintetik secara terus-menerus dapat menim-bulkan berbagai macam dampak negatif. Suwahyono (2009), menyatakan bahwa penggunaan pestisida sintetik dapat membaha-yakan keselamatan hayati termasuk manusia dan keseimbangan ekosistem. Oleh sebab itu, saat ini metode pengendalian telah diarahkan pada pengendalian secara hayati.

Trichoderma diketahui me-miliki kemampuan antagonis terhadap cendawan patogen. Trichoderma mudah ditemukan pada ekosistem tanah dan akar tanaman. Cendawan ini adalah mikro-organisme yang menguntungkan, avirulen terhadap tanaman inang, dan dapat memarasit cendawan lainnya (Harman et al., 2004).

Trichoderma merupakan cendawan yang berasosiasi dengan tanaman, sering ditemukan endofit pada akar dan daun. Hasil penelitian Sriwati et al., (2009) dalam Yuni (2011) melaporkan, bahwa cendawan Trichoderma merupakan salah satu cendawan antagonis yang ditemukan endofit pada daun kakao. Trichoderma endofit daun membutuhkan nutrisi sesuai dari tempat asal di mana ditemukan endofit tersebut. Nutrisi seperti protein banyak terkandung di dalam beberapa daun, salah satunya daun lamtoro (Yuni, 2011). Kadar Protein di dalam daun lamtoro mencapai 25,90% (Muelen et al., 1979). Hasil penelitian Yuni (2011), menyatakan bahwa cairan perasan daun lamtoro dapat mempercepat pertumbuhan cendawan Trichoderma. Sebagai penelitian awal, maka dilakukan dalam skala laboratorium dengan uji in vitro. Hal ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan antagonis dalam ruang lingkup yang lebih sempit serta keadaan lingkungan yang terkendali.

Berdasarkan uraian di atas dengan asumsi bahwa Trichoderma memiliki kemampuan antagonis yang tinggi maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui daya hambat Trichoderma sp., terhadap beberapa cendawan patogen secara in vitro.

PENGUJIAN PENGHAMBATAN AKTIVITAS MAKAN DARI EKSTRAK DAUN Lantana camara L. (Verbenaceae) TERHADAP LARVA Plutella xylostella L. (Lepidoptera: Yponomeutidae)

 

Evaluation of Antifeedant activity of Leaf Extract Lantana camara L. (Verbenaceae) against Larva Plutella xylostella L. (Lepidoptera: Yponomeutidae)

 

Khaidir dan Hendrival

 

 

ABSTRACT

Research on antifeedant activity of n-hexane leaf extract Lantana camara and its active fractions were evaluated for their insecticidal activity against Plutella xylostella larvae. The method included extraction, fractionation, and examination antifeedant leaf extract L. camara and fractions active against P. xylostella larvae. Extract application was conducted using a residue feeding method. Fractionation of active compounds from extract n-hexane was conducted by liquid vacuum chromatography, using phase silent silicate gel GF254 and phase mobility n-hexane, ethyl acetate, and methanol (elusion gradient), which produce fractions A, B, C, D, and E. Extract leaf L. camara and fractions possessed antifeedant activity against P. xylostella larvae. Extract leaf L. camara at concentration of 1% caused larva antifeedant activity up to 78.47%. Fraction E caused a higher larva antifeedant activity (85,52%) than extract and other fractions did.

 

Keywords: antifeedant, Lantana camara, Plutella xylostella

 

 

 

PENDAHULUAN

 

Plutella xylostella merupakan hama utama pada tanaman sawi dan kubis di Pulau Jawa, Bali, Sumatera, Sulawesi, dan beberapa daerah lainnya di Indonesia (Setiawati, 2000). P. xylostella bersifat oligofag yang hanya menyerang tanaman dari famili Cruciferae (Talekar
& Shelton, 1993) dan menyerang tanaman mulai dari persemaian sampai panen (Shelton et al. 2000). Apabila tidak dilakukan pengendalian, kehilangan hasil yang diakibatkan oleh serangan hama P. xylostella dapat mencapai sampai 100% terutama pada musim kemarau (Setiawati, 2000). Sampai saat ini upaya pengendalian masih mengutamakan penggunaan insek-tisida sintetik seperti profenofos, permetrin, deltametrin, diafenturon, dan derivat bensamid. Mening-katnya penggunaan insektisida sintetik memiliki dampak negatif seperti resistensi hama, resurjensi hama, munculnya hama sekunder, dan terbunuhnya musuh alami (predator dan parasitoid seperti Diadegma semiclausum) (Udiarto & Sastrosiswojo, 1997).

Upaya-upaya untuk menekan serangan hama P. xylostella terus dilakukan melalui pencarian strategi-strategi pengendalian dengan menggunakan senyawa-senyawa kimia yang lebih aman terhadap produk tanaman, lingkungan, dan serangga hama sendiri. Pengen-dalian serangga hama dengan menggunakan senyawa-senyawa yang bersifat menghambat aktivitas makan memberikan beberapa kele-bihan seperti tidak menimbulkan resistensi, selektivitas yang tinggi, dapat membantu dalam pemecahan masalah resistensi, mudah terde-gradasi dan relatif tidak beracun terhadap manusia. Dengan adanya kelebihan-kelebihan tersebut, senya-wa kimia tumbuhan yang bersifat demikian dapat memenuhi persya-ratan dalam sistem pengendalian hama terpadu sehingga aplikasinya dapat dipadukan dengan komponen strategi pengendalian yang lainnya (Dadang & Ohsawa, 2000). Penggunaan senyawa-senyawa kimia dari tumbuhan yang dapat meng-hambat aktivitas makan serangga sebagai agen pengendalian serangga hama telah menarik banyak perhatian para peneliti (Isman, 2002).

Aplikasi senyawa-senyawa yang dapat bersifat penghambatan aktivitas makan serangga dapat memberikan kontribusi dalam kegiatan pengendalian serangga hama. Penggunaan secara praktis senyawa-senyawa penghambat akti-vitas makan serangga dapat dilakukan pada beberapa tahap dalam budidaya tanaman seperti pembibitan padi atau aplikasi pada buah-buah yang siap panen. Tumbuhan memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya terhadap serangan organisme lain termasuk serangga fitofag baik secara fisik maupun kimia. Banyak senyawa-senyawa kimia seperti dari kelompok terpenoid, alkaloid, dan fenol yang telah diisolasi dari berbagai tumbuhan mempunyai aktivitas penghambatan makan serangga (Dadang & Ohsawa, 2000).

Beberapa famili tumbuhan yang memiliki sumber insektisida nabati adalah Meliaceae, Annonaceae, Piperaceae, Asteraceae, Zingiberaceae, Solanaceae, dan Verbenaceae (Dadang, 1999). L. camara (Verbenaceae) merupakan tumbuhan perdu yang banyak tumbuh di daerah tropis dan subtropis (Ghisalberti, 2000) serta tergolong dalam 10 gulma yang berbahaya di dunia (Sharma et al., 2005). Gulma L. camara umum dijumpai pada semua daerah perkebunan karet di Sumatera Utara dan Aceh (Nasution, 1984). Gulma selain menimbulkan kerugian ter-hadap tanaman melalui persaingan, gulma juga bermanfaat sebagai insektisida. L. camara dilaporkan memiliki sifat insektisidal, anti-ovoposisi, penghambatan aktivitas makan, penghambatan pertumbuhan, efek kematian terhadap serangga hama di lapangan dan di gudang penyimpanan (Pandey et al., 1986;
Ogendo et al., 2003; Deshmukhe et al., 2011; Hendrival & Khaidir, 2012; Sousa & Costa, 2012). Bagian tumbuhan L. camara yang dapat digunakan sebagai insektisida adalah bunga dan daun (Morallo-Rejesus, 1986). Penelitian bertujuan untuk mempelajari potensi daun L. camara yang memberikan pengaruh penghambatan aktivitas makan larva P. xylostella.

PEUBAH LAJU TUMBUH RELATIF DAN PROTEIN BERPERAN PENTING DALAM MENINGKATKAN KUALITAS BENIH KEDELAI (Glycine max L. Merr)

 

Relative Growth Rate and Protein Are Key Variables In Improving Seed Quality of Soybean (Glycine max L. Merr)

Rudi Hartawan

 

 

ABSTRACT

Variables of seed quality are correlated each others, especially in storage. This fact needs investigation to predict main variables for measuring seed quality at storage. The objectives of this study were to investigate the main variables on growth analysis and seed quality using path analysis in production of extension seed. The field trial was carried out at Sebapo Experimental Station, Jambi and laboratory works were conducted in the Center for Post Harvest Research and Development, The Ministry of Agriculture and Center for Forest Research and Development, The Ministry of Forestry, Bogor from April until December 2010.
The experimental design used was an unformatted design. The research showed that relative growth rate and protein were the main variables to improve soybean seed quality.

 

Keywords : Seed technology, soybean, seed quality, relative growth rate, protein

 

 

 

PENDAHULUAN

Pertumbuhan dan perkem-bangan merupakan proses fisiologi yang terjadi pada tanaman sebagai interaksi antara faktor genetik dan lingkungan tumbuh. Analisis tumbuh merupakan suatu metode untuk menentukan respons fenotip tanaman kedelai terhadap faktor genetik dan lingkungan tumbuhnya. Pertum-buhan yang optimal berkorelasi positif dengan produksi dan kualitas benih kedelai.

Peubah-peubah kualitas benih saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya terutama dalam proses penyimpanan, fakta ini menuntut adanya investigasi untuk menentukan peubah utama yang mempengaruhi kualitas benih dalam penyimpanan. Menurut Shur (2008) bahwa sidik lintas dapat digunakan sebagai alat uji untuk menentukan peubah utama. Pemahaman tentang pola hubungan antar peubah sangat mendukung untuk menentukan peubah utama yang mempengaruhi produksi, demikian pula dengan peubah utama yang dapat memper-tahankan kualitas benih dalam penyimpanan.

Peneliti-peneliti terdahulu telah membahas peubah-peubah yang mempengaruhi pertumbuhan dan kualitas benih; Showkat dan Tyagi (2010) menyatakan bahwa sidik lintas dapat menentukan peubah utama pertumbuhan tanaman kedelai; Khan et al. (2011) menyatakan bahwa 90% bobot benih adalah cadangan makanan yang akan digunakan oleh embrio untuk tum-buh dan berkembang; Krzyzanowski et al. (2008) melaporkan bahwa kulit benih berfungsi melindungi ca-dangan makanan dan embrio serta mempunyai korelasi positif yang kuat antara lignin pada kulit benih dengan daya simpan benih kedelai. Tatipata (2010) menyatakan bahwa tingkat kadar air benih perperan penting terhadap umur simpan benih karena kadar air berhubungan dengan laju respirasi benih.

Kalimat-kalimat di atas menggambarkan perlu ditentukan peubah utama yang mempengaruhi produksi dan kualitas benih kedelai. Konsep ini dituangkan dalam penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan peubah utama analisis tumbuh dan kualitas benih untuk meningkatkan kualitas benih kedelai.

EFEK ALELOPATI Ageratum conyzoides TERHADAP PERTUMBUHAN SAWI

 

 

Effects of Allelopathy of Ageratum conyzoides on Mustard Growth

    

Siti Hafsah, M.Abduh Ulim, dan Cut Mutia Nofayanti

 

 

 

ABSTRACT

 

This study was aimed at determining concentration of allelopathy Ageratum conyzoides that suppresses growth of mustard. The research was conducted in Weeds Laboratory and Screen House Agriculture Faculty, University of Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh from December 2010 to February 2011. The experiment was arranged in a completely randomized design (CRD) with 6 treatments and 4 replicates. Results showed that inhibition occurred at concentrations of 100 gL-1 at 10 HST on plant height, leaf number and dry weight of mustard plant. Optimum inhibitory concentration of the liquid squeezed leaves of A. conyzoides on mustard was at a concentration of 300 gL-1. At the highest concentration (500 g/l), A. conyzoides inhibited germination up to 100%.

 

Keywords: Ageratum conyzoides, mustard., Concentration, allelopathy

    

 

PENDAHULUAN

 

Sawi (Brassica chinensis L.) merupakan salah satu jenis sayur yang digemari oleh masyarakat kelas bawah hingga golongan kelas atas. Potensi hasil sawi dapat mencapai 40 ton/ha, namun rata-rata hasil sawi di Indonesia hanya 9 ton/ha (Rukmana,1994). Jika bibit disemai dalam pot perkecambahan, hasilnya mencapai 89,23 ton/ha (Kalisz & Cebula, 2002). Salah satu faktor penghambat hasil sawi adalah gulma yang tumbuh bersamanya.

Ageratum conyzoides Linn. merupakan salah satu gulma yang dapat menekan pertumbuhan sawi. A.
conyzoides sering kali populasinya lebih dominan dibandingkan gulma lainnya dalam suatu lahan. A. conyzoides diduga kuat mempunyai alelopati, keadaan di mana suatu gulma atau bahan tanaman mengeluarkan eksudat kimia yang dapat menekan pertumbuhan tanaman/tumbuhan lainnya (Sukman & Yakup, 1991).

Hasil penelitian Xuan et al (2004) penggunaan daun A. conyzoides dengan dosis 2 ton/ha dapat menekan sampai 75% pertumbuhan beberapa gulma pada tanaman padi. Selanjutnya kemam-puan daun A. conyzoides sebagai alelopati diidentifikasikan karena adanya 3 phenolic acid yaitu gallic acid, comalid acid, dan protocatechuic acid, yang dapat menghambat beberapa gulma pada tanaman padi.

Rohman (2001) menyebutkan bahwa senyawa-senyawa alelopati dapat ditemukan pada jaringan tumbuhan (daun, batang, akar, rhizoma, bunga, buah dan biji). Senyawa-senyawa tersebut dapat terlepas dari jaringan tumbuhan melalui berbagai cara yaitu melalui penguapan, eksudat akar, pencucian dan pembusukan bagian-bagian organ yang mati.

Berdasarkan penjelasan di atas, penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang pengaruh A. conyzoides terhadap pertumbuhan sawi. Apabila pada konsentrasi terendah menghambat pertumbuhan sawi, maka A. conyzoides tidak boleh ada di lapangan, tanpa mem-perhitungkan periode kritis dalam mengendalikan gulma.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi perasan daun A. conyzoides yang mampu menekan pertumbuhan sawi.

PENGARUH UMUR KECAMBAH DAN DOSIS PUPUK UREATERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO

Effects of Seedling Ages and Urea Dosages on Seedling Growth of Cacao

Erida Nurahmi, Yuswar Yunus dan Yennita

 

ABSTRACT

 

    Cacao is an important plantation plant in Indonesia for its contribution to our income. The productivity of this plant still have a chance to be increased, with the improvement in culture technique. One limited information concerning the cacao cultivation technique is seedling ages and urea dosages when transplanting. The purposes of this research were to find out the effect of seedling ages, urea dosages, and interaction between them on cacao seedling growth at nursery. Research was conducted at Experimental Station of Agriculture Faculty, University of Syiah Kuala. Units of treatment were arranged according to Factorial Randomized Complete Block Design with 4 replicates, followed by Honestly Significant Different Test at the level of 5%. Seeds were extracted from 1/3 of cacao mature fruits at the center of the pod and germinated in germination box filled with sand and covered by wet towel. Growing medium used was top soil:manure:sand=2:1:1 (by volume). Variables observed were seedling height, stem diameter, leaf number and area, primary root length, and wet and dry mass of seedling at 45, 60 75 and 90 days after transplanting. Results showed that there were significant interactions between treatments on all variables observed. The best combination was age of 10 days of seedling and dosage of 2 g urea per polybag.

 

Keywords:     Theobroma cacao, plant transplanting, seedling ages, urea dosages, seedling growth

 

 

PENDAHULUAN

 

Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) termasuk famili Sterculiaceae, berasal dari hutan-hutan di daerah Amerika Selatan, kemudian diusahakan penanamannya oleh orang-orang Indian Aztec. Prospek pengembangan kakao di Indonesia cukup baik, pemasarannya mempunyai peluang yang lebih baik dari komoditas lain seperti karet, kopi dan teh. Hal ini memberikan kesempatan untuk meningkatkan pemasukan devisa bagi negara dan penghasilan pengusaha serta petani kakao (Sunanto, 1992).

Pertumbuhan tanaman selama di pembibitan sangat dipengaruhi oleh umur pemindahan kecambah dan di pengaruhi juga oleh tersedianya unsur-unsur hara makro dan mikro dalam jumlah yang cukup. Apabila umur pemindahan kecambah terlalu lama, misalnya lebih dari 13 hari akan menyebabkan terham-batnya pertumbuhan dan apabila kekurangan salah satu unsur hara maka tanaman akan menunjukkan salah satu gejala defisiensi.

Tingkat produksi tanaman kakao sangat ditentukan oleh baiknya perlakuan yang diberikan selama pertumbuhan dan perkembangannya, terutama selama pertumbuhan awal di pembibitan. Langkah pertama di pembibitan adalah penyemaian biji kakao, penyemaian ini dimaksudkan untuk mendapatkan kecambah-kecambah yang baik dan seragam pertumbuhannya.

Menurut Sunanto (1992), pemindahan kecambah ke polibag dilakukan pada umur 4 atau 5 sampai dengan 12 hari setelah penyemaian, dan biji-biji yang tidak tumbuh setelah 12 hari harus dibuang. Selanjutnya Siregar et al (2005), menyatakan bahwa pemindahan kecambah ke polibag dilakukan setelah berumur 21 hari. Pemindahan kecambah ke polibag sering terlambat, hal ini disebabkan karena biji kakao serentak berkecambah (masa dormansi biji relatif pendek) dan kurangnya tenaga kerja. Akibat keterlambatan ini menyebabkan rusaknya kecambah tersebut.

Ketersediaan unsur hara sering merupakan faktor pembatas, di mana tanaman kakao tidak dapat mencukupkan unsur hara bagi konsumsi pertumbuhannya. Leiwakabessy (1977) menyatakan pertumbuhan tanaman sangat ditentukan oleh unsur hara yang tersedia berada dalam keadaan optimum dan seimbang. Untuk pemenuhan akan tersedianya unsur hara dapat ditempuh dengan jalan pemupukan.

Nitrogen merupakan salah satu unsur hara makro yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang banyak. Pemberian nitrogen dapat mempercepat pertumbuhan bagian vegetatif tanaman, mem-perbanyak butir-butir hijau daun, menciptakan perakaran yang lebat dan kuat (Leiwakabessy, 1977). Pemberian nitrogen pada bibit tanaman kakao diharapkan akan dapat mempercepat pertumbuhan batang dan daun serta menghasilkan perakaran yang baik.

Apabila tanaman kekurangan nitrogen, maka pertumbuhannya akan terganggu, tanaman tumbuh kerdil, sistem perakarannya terbatas dan daunnya menjadi kuning. Namun apabila kelebihan nitrogen akan mengakibatkan pengaruh buruk berupa lambatnya pematangan buah, tanaman akan mudah rebah karena banyak menyerap air (sekulen), tidak tahan terhadap penyakit dan serangan hama sehingga dapat menurunkan kualitas hasil (Sutejo, 2002).

Urea adalah pupuk nitrogen yang berwarna putih dengan rumus kimia Co(NH2)2, berbentuk kristal dengan garis tengah ±1 mm dan mengandung nitrogen sebanyak 45-46% (Nyakpa dan Hasinah, 1985). Selanjutnya Sutejo (2002) menya-takan bahwa pupuk urea termasuk golongan pupuk yang higroskopis di mana pada kelembaban relatif 73 % pupuk ini mulai menarik air dari udara.

Menurut Sunanto (1992), pemberian pupuk urea pada pembibitan tanaman kakao diberikan sebanyak 1 g/polibag, karena jika diberikan terlalu banyak maka tanaman akan mudah rebah, tidak tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Selanjutnya Marsono dan Sigit (2005), menyatakan keuntungan menggunakan pupuk urea adalah mudah diserap tanaman. Selain itu, kandungan N yang tinggi pada urea sangat dibutuhkan pada pertumbuhan awal tanaman.

Salah satu yang perlu diperhatikan dalam pemupukan adalah dosis pemberiannya. Bila diberikan terlalu tinggi, maka pertumbuhan tanaman akan tertekan (terjadi plasmolisis) sedangkan bila diberikan terlalu rendah maka tujuan pemupukan tidak tercapai.

Oleh karena itu perlu kiranya diadakan penelitian sehingga dapat dilihat sejauh mana pengaruh umur pemindahan kecambah dan pem-berian beberapa taraf pupuk urea pada pembibitan tanaman kakao. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur kecam-bah dan dosis urea serta interaksi antara keduanya terhadap pertum-buhan bibit kakao.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.