PERUBAHAN FISIOLOGI DAN KANDUNGAN KLOROFIL SELAMA PEMASAKAN SERTA HUBUNGANNYA DENGAN VIABILITAS BENIH JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.)

Hasanuddin, Halimursyadah, dan Trisda Kurniawan

 

ABSTRACT

The objectives of this research were to study physiological and chlorophyll changes during seed ripening and find quick parameters as indicators to determine seed physiological maturity level. A randomized completely block design with 5 treatments and 3 replications was used in this research. The treatments were (1) dark green fruit, 42 days after anthesis (DAA), (2) yellowish green fruit, 47 DAA, (3) fully green fruit, 52 DAA, (4) brownish yellow fruit, 57 DAA, and (5) dark brown fruit, 62 DAA. The results showed that jathropa seed was physiologically mature at 57 DAA with criteria: fruit color was brownish yellow, fruit skin was soft and easily hand-opened, and seed was black. These were also supported by seed dry weight, germination percentage, germination rate and first count germination. There were negative relationships between seed chlorophyll content and germination percentage, germination rate and first count germination.

Keywords: Jatropha, fruit maturity, seed physiological maturity and chlorophyll content

PENDAHULUAN

Tanaman jarak pagar tergolong tanaman yang bandel dan mudah tumbuh, namun demikian pengadaan bahan tanam merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan. Bahan tanam, baik berupa bibit maupun benih dituntut unggul dan bermutu, tersedia dalam jumlah dan waktu yang tepat. Pertumbuhan bibit yang baik ditentukan oleh mutu benih yang digunakan. Bahan tanam jarak pagar dapat berasal dari setek, kultur jaringan dan benih. Benih masih merupakan alat perkembangbiakan tanaman yang utama dalam pengembangan tanaman jarak pagar.

Benih yang bermutu tinggi tidak lepas dari viabilitas dan vigor yang tinggi. Salah satu faktor yang menentukan viabilitas dan vigor benih adalah saat panen yang tepat di mana benih mencapai masak fisiologi. Hasil penelitian Adikadarsih dan Hartono (2007) menunjukkan benih jarak pagar yang berasal dari klon NTB dipanen pada saat buah berwarna kuning atau lebih dari 50% telah berwarna kuning kehitaman atau telah berumur 45 sampai 55 hari setelah anthesis menghasilkan vigor dan daya berkecambah yang paling baik. Utomo (2007) menambahkan bahwa masak fisiologi buah jarak dari Pakuwon (IP-1P) tercapai mulai umur 52-57 HSA, dengan kriteria kulit buah kuning sampai kuning kecokelatan. Pada saat itu viabilitas yang ditunjukkan oleh daya berkecambah (DB), vigor yang ditunjukkan oleh kecepatan tumbuh benih (KCT) berada pada kondisi maksimum, dan kadar air mulai menurun

Pemanenan benih pada tingkat kemasakan yang tepat (masak fisiologi) sangatlah penting untuk mendapatkan tingkat mutu benih yang tinggi dan daya simpan yang panjang. Pemanenan yang dianjurkan adalah pada saat vigor maksimum (daya tumbuh maksimum), bobot kering benih maksimum, penurunan kadar air benih (sampai mencapai kadar air keseimbangan) dan peningkatan perkecambahan (Kamil 1982).

Selama ini sudah banyak tolok ukur fisiologi untuk mendeteksi tingkat kemasakan benih di antaranya bobot kering benih, kadar air benih, kecepatan tumbuh, perkecambahan mencapai 50%, daya berkecambah dan first count germination. Meskipun demikian, sebagian besar dari tolok ukur tersebut membutuhkan waktu yang relatif lama untuk mengetahui hasilnya. Diperlukan suatu tolok ukur baru yang lebih cepat dan spesifik untuk dapat mendeteksi tingkat kemasakan benih. Sadjad et al.(1999) menyatakan perlunya pencarian indikator kuantitatif lain yang didasarkan proses biokimiawi untuk mendeteksi vigor biokimiawi.

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mencari indikasi biokimia sebagai penentu masak fisiologi pada berbagai jenis tanaman. Hasil penelitian Suhartanto (2003) menunjukkan bahwa kandungan klorofil pada benih tomat berkorelasi negatif dengan daya berkecambahnya. Masak fisiologis yang dicerminkan oleh daya berkecambah mencapai maksimum pada saat kandungan klorofil mencapai minimum. Mutu benih sangat ditentukan oleh tingkat kemasakan benih tersebut, sehingga dapat dikatakan juga bahwa kandungan klorofil benih juga menentukan mutu benih tersebut. Almela, et al.(1996) yang meneliti dua varietas cabai paprika Bola Roja dan Negral menunjukkan bahwa pada saat proses pemasakan terjadi perubahan komposisi klorofil dan total karotenoid buahnya. Pada varietas Negral klorofil buah hijau dan setengah masak tinggi dan saat masak penuh klorofil berkurang hanya tinggal sekitar 14%, sementara pada varietas Bola Roja klorofil menghilang pada stadia masak penuh.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan fisiologi dan klorofil selama proses pemasakan benih dan mencari alternatif tolok ukur lain yang lebih cepat sebagai indikator untuk menentukan tingkat masak fisiologi benih.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: