PENGARUH JENIS MULSA DAN KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR SUPER BIONIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.)

Ainun Marliah, Nurhayati, dan Tarmizi

ABSTRACT

The study was aimed at determining effect of mulch type and concentration of liquid organic fertilizer Super Bionic on growth and yield of onion. The experiment used a randomized complete block design (RCBD) 3×3 with 3 replications. There were 2 factors investigated, 1) type of mulch consisting of 3 levels: straw, burned husk, and water hyacinth and 2) concentration of organic liquid fertilizer Super Bionic consisting of 3 levels: 2 cc/L of water, 4 cc/L of water and 6 cc/L of water. The results showed that the type of mulch significantly affected the number of tubers per hill, but did not exert significant effects on plant height and number of tillers at ages 15, 30 and 45 days after planting (DAP), wet weight of tuber per hill and dry weight of tubers per hill and potential yield. Growth and yield of onion tended to be better at water hyacinth mulch. Concentration of liquid organic fertilizer Super Bionic significantly affected the number of tillers at age 15, 30 and 45 DAP and dry weight of tuber per hill, but did not exert significant effects on plant height at age 15, 30 and 45 DAP, the number of tubers per hill, wet weight of tuber per hill and potential yield. Better growth and yield were obtained at concentrations 2 cc/L of water. There was no significant interaction between type of mulch and concentration of liquid organic fertilizer Super Bionic.

Keywords: mulch, organic liquid fertilizer, onion

PENDAHULUAN

Bawang merah (Allium ascalonicum L.) termasuk ke dalam suku Liliaceae. Tanaman ini berasal dari Asia Selatan, yaitu daerah sekitar India, Pakistan sampai Palestina (Rahayu, Berlian, dan Sundaya, 2005). Bawang merah sangat banyak manfaatnya, baik digunakan sebagai sayuran rempah, juga dimanfaatkan sebagai obat tradisional karena mengandung asam amino Alliin yang berfungsi sebagai antibiotik (Kuettner, 2002). Selanjutnya Rukmana (2001) menambahkan bahwa hingga sekarang bawang merah digunakan untuk pengobatan sakit panas, masuk angin, dan gigitan serangga serta juga sebagai bumbu penyedap makanan. Hal ini disebabkan karena bawang merah mempunyai efek antiseptik dari senyawa Alliin dan Allisin. Senyawa Alliin maupun Allisin oleh enzim Allisiin liase diubah menjadi asam piruvat, ammonia dan Allisin antimikroba yang bersifat bakterisida.

Kebutuhan bawang merah yang terus meningkat, tidak hanya di pasar dalam negeri, tetapi juga di luar negeri, sehingga terbuka peluang untuk ekspor. Dalam periode tahun 2001-2005, ekspor bawang merah Indonesia mencapai 89.678 kg senilai US $ 14.309, dengan sasaran utama Singapura, Malaysia dan Hongkong (Kanisius, 2003). Sementara di lain pihak produktivitas bawang merah di Indonesia masih rendah (rata-rata 5,4 ton/ha), sedangkan potensinya dapat mencapai 10-12 ton/ha (Samsuddin, 2000). Berbagai usaha dilakukan untuk meningkatkan hasil bawang merah yaitu melalui perbaikan teknik budidaya, salah satunya adalah dengan menggunakan mulsa.

Mulsa adalah bahan atau material yang digunakan untuk menutupi permukaan tanah atau lahan pertanian dengan tujuan tertentu yang prinsipnya adalah untuk meningkatkan produksi tanaman. Secara teknis, penggunaan mulsa dapat memberikan keuntungan antara lain, menghemat penggunaan air dengan laju evaporasi dari permukaan tanah, memperkecil fluktuasi suhu tanah sehingga menguntungkan pertumbuhan tanaman bawang merah dan mikroorganisme tanah, memperkecil laju erosi tanah baik akibat tumbukan butir-butir hujan dan menghambat laju pertumbuhan gulma (Lakitan, 1995).

Mulsa ada dua jenis yaitu mulsa organik dan mulsa anorganik. Mulsa organik adalah mulsa yang berasal dari sisa panen, tanaman pupuk hijau atau limbah hasil kegiatan pertanian, yang dapat menutupi permukaan tanah. Seperti jerami, eceng gondok, sekam bakar dan batang jagung yang dapat melestarikan produktivitas lahan untuk jangka waktu yang lama. Mulsa organik berupa mulsa plastik hitam dan perak (Lakitan, 1995).

Mulsa anorganik adalah mulsa yang meliputi semua bahan yang bernilai ekonomis tinggi seperti plastik dan batuan dalam bentuk ukuran 2-10 cm (Umboh, 1997). Secara umum pengetahuan mulsa organik dapat ditentukan oleh jenis mulsa, jenis tanaman dan tipe iklim. Perbedaan penggunaan bahan mulsa akan memberikan pengaruh yang berbeda pada pertumbuhan dan hasil bawang merah. Keuntungan dari mulsa organik lebih mudah didapatkan , dan dapat terurai sehingga menambah kandungan bahan organik dalam tanah (Umboh, 1997).

Mulsa Jerami kaya akan unsur hara yang dibutuhkan tanaman yaitu K, Al, dan Mg. Begitu juga dengan pelapukan bahan organik akan membebaskan sejumlah senyawa penyusunnya, terutama mengandung C, N, S dan P. Dengan terjadinya pelapukan mulsa jerami proses dekomposisi akan mudah terurai. Sebagian besar membebaskan 20-30 g karbon dalam bentuk CO2 sisanya digunakan untuk jasad renik (Purwowidodo, 1999).

Mulsa eceng gondok (Euchornia crassipes) cukup banyak mengandung unsur hara N, P, dan K serta mengandung asam amino, fosfat, dan Kalsium, yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Selain itu mulsa eceng gondok dapat menekan pertumbuhan gulma, mengurangi evaporasi dan penurunan aliran permukaan penyebab erosi (Susanto, 2000).

Selain mulsa jerami dan eceng gondok, teknologi pembakaran mulsa sekam bakar pada budidaya bawang merah atau dalam bahasa Jawa disebut dengan danen berfungsi menghangatkan umbi bawang merah dengan meningkatnya suhu media tanam bawang merah yang dapat mempercepat pertumbuhan tunas. Dalam waktu 2 hari setelah pembakaran, tunas baru akan muncul serempak. Abu sekam bakar juga akan menambahkan unsur hara bagi tanaman bawang merah (Purwowidodo, 1999).

Selain penggunaan mulsa organik untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah, unsur hara dibutuhkan dalam jumlah dan perbandingan yang tepat, salah satunya dapat diperoleh dari pupuk organik cair. Pemberian pupuk organik cair Super Bionik pada tanaman memberikan keuntungan, yaitu akan memberikan respons yang positif jika konsentrasi yang diberikan tepat dan sesuai dengan anjuran. Salah satu pupuk organik cair yang dapat digunakan adalah pupuk organik cair Super Bionik.

Pupuk organik cair Super Bionik adalah pupuk hasil fermentasi dan ekstraksi dari berbagai senyawa organik yang diperkaya dengan nutrisi esensial. Pupuk ini dapat meningkatkan hasil dan kualitas (rasa, warna, bentuk, kesehatan, dan kesegaran) tanaman. Kandungan yang terdapat dalam pupuk organik cair Super Bionik adalah 0,5% senyawa C-organik, 5% N, 5% P2O5, 8% K2O, 0,5% CaO, 4% MgO, dan 0,6% SO4 dengan komposisi yang berimbang[1].

Selain itu pupuk tersebut juga mengandung beberapa jenis asam amino, hormon tumbuh (Sitokinin, Giberilin, dan IAA), vitamin, dan asam-asam organik (humik dan fulvat). Konsentrasi pupuk organik cair Super Bionik yang dianjurkan untuk tanaman sayuran adalah 2-4 cc/L air. Namun sampai saat ini belum diketahui konsentrasi yang tepat bagi pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah dengan aplikasi penggunaan mulsa.

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis mulsa organik dan konsentrasi pupuk organik cair Super Bionik yang tepat dalam pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah, serta untuk mengetahui interaksi antara kedua faktor tersebut.


[1] Brosur pupuk organik cair Super Bionik

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: