Archive for November, 2011

EFFECT OF LOW LEVEL OF OZONE ON GROWTH AND DEVELOPMENT OF BOTRYTIS ACLADA IN VITRO

Pengaruh Ozon Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Botrytis aclada in Vitro

 

Hartati Oktarina

 

ABSTRAK

Penyakit pasca panen yang disebabkan oleh mikroba menyebabkan kerugian yang sangat besar setiap tahunnya. Pada pertanian konvensional, fungisida sudah digunakan selama bertahun-tahun untuk mengendalikan patogen pada tanaman. Sebagaimana telah diketahui, penggunaan bahan kimia secara terus menerus dapat berdampak buruk terhadap lingkungan dan menyebabkan resistensi. Ozon telah dianjurkan oleh para ahli sebagai alternatif pengendalian penggunaan bahan sintetik pada pengawetan bahan makanan karena ozon tidak meninggalkan residu pada bahan simpanan sehingga lebih aman untuk dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan ini untuk mengetahui pengaruh ozon pada konsentrasi rendah (180 ppb) terhadap perkembangan koloni dan spora yang dihasilkan oleh Botrytis aclada secara in vitro. Dua tipe inokulum digunakan pada penelitian ini adalah miselia dan spora. Keduanya merupakan penyebab kerusakan pada bahan simpanan. Jamur yang diuji disimpan di dalam kotak yang dialiri ozon dengan suhu 7-8oC selama 14 hari. Pengamatan terhadap perkembangan koloni dilakukan dengan mengukur diameter koloni, sementara spora yang dihasilkan diamati pada hari ke 14 masa inkubasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaparan ozon pada konsentrasi 180 ppb selama 14 hari tidak menurunkan perkembangan koloni B. aclada, tetapi efektif mengurangi jumlah spora yang dihasilkan.

Kata kunci: ozon, botrytis aclada, in vitro


INTRODUCTION

Infection caused by micro-organisms, fungi and/or bacteria, on fruits and vegetables occur both before and after harvest. The harvested product may be infected by a pathogen under field conditions or during transit and storage. Jobling (2000) claimed that losses during the latter reach 20% of the total crop. Botrytis cinerea, Rhizopus stolonifer, Penicillium digitatum and Penicilium italicum are common fungi that occurred on fresh produce in storage (Golan, 2001).

Fungicides have been used for decades to control spoilage in con-ventional agriculture. It is generally known that long term use of chemical would harm the environment and bring resistance to organisms. Increasing public concern over the use of conventional fungicide due to health issues has prompted investigations to find alternative environmentally friendly control agent that might be used to suppress disease development on the storage.

Studies about the use of ozone to control microorganisms in the storage and/or transit have been conducted by researchers. Researchers with similar findings reported that ozone treatments significantly reduced the extent of berry decay caused by Rhizopus stolonifer (Sarig, et al. 1996), Botrytis cinerea on strawberries (Perez et al. 1999), Lasiodiplodia sp. and Cladosporium sp. on longan fruit (Whangchai et al. 2005), and black spot (Alternaria alternate) and anthracnose rot (Colletotrichum coccodes) of tomato (Tzortzakis, et al. 2008). Advantages are gained by employing ozone in storage to eliminate fungi spoilage on the products. Unlike chemicals, ozone treatment has no residue remain on the products. In addition, ozone eliminates odor in storage rooms (Suslow, 1998).

Even though it is known that ozone sanitizes the storage environment to prevent microbial spoilage at certain level, the mode of action of ozone on fungi is not certain. However, Hibben and Stotzky (1969) suggested that spore morphology, moisture content and substrate play an important role. In addition, Krause & Weidensaul (1978) stated that “Since ozone attacks cellular membranes of higher plants, perhaps fungal membranes could be similarly affected”. To understand the effect of ozone on growth of food spoilage fungi, further research is needed.

APLIKASI PERLAKUAN PERMUKAAN TANAH DAN JENIS BAHAN ORGANIK TERHADAP INDEKS PERTUMBUHAN TANAMAN CABE RAWIT

Muhammad Hatta

 

ABSTRACT

This study was aimed at determining effects of soil surface treatments and organic matter types, as well as interactions between the two treatments on growth of cayenne pepper. The results showed that there were significant interactions between soil surface treatments and organic material types on plant growth of cayenne pepper at age of 5 weeks after planting. Surface treatments affected plant growth However, the soil surface treatments were influenced by types of organic matters given in the soil. On organic matter in the form of compost, the best growth was found on recycled newspaper mulch placed on soil surface. Conversely, on organic matter in the form of pieces of recycled newspaper, mulch of recycled newspapers gave the worst growth. Organic matters also affected plant growth. However, treatment of organic matter was also influenced by soil surface treatments. On the surface soil compaction treatment, the best growth was obtained at compost. On treatment of newspaper mulch, the best growth was also obtained at the type of compost. In contrast, on the untreated soil surface, the best growth was found at the type of organic matter made of the pieces of recycled newspaper.

Keywords: compaction, mulch, organic matter, newsprint, cayenne pepper


PENDAHULUAN

Cabai rawit, (Capsicum frutescens L.) adalah tumbuhan dari anggota genus Capsicum. Selain di Indonesia, tanaman ini juga tumbuh dan populer sebagai bumbu masakan di negara-negara Asia Teng-gara lainnya (Wikipedia, 2010). Buahnya digunakan sebagai sayuran, bumbu masak, acar, dan asinan. Di dalam buah cabe rawit, terkandung kapsaisin, kapsantin, karotenoid, alkaloid asiri, resin, minyak atsiri, vitamin A, dan Vitamin C. Kapsaisin memberikan rasa pedas, berkhasiat untuk melancarkan aliran darah serta pemati rasa kulit. Bijinya mengan-dung solanine, solamidine, solamar-gine, solasodine, solasomine, dan steroid saponin (kapsisidin). Kapsisi-din berkhasiat sebagai anti-biotik (Iptek, 2010).

Semprotan cabe, yang berbahan aktif capsaicin, digunakan secara luas untuk perlindungan pribadi.  Cabe rawit merah juga dapat digunakan sebagai obat.  Yang paling banyak digunakan adalah sebagai salep untuk meringankan nyeri otot, sendi, dan sakit gigi, untuk mengobati batuk, asma, dan sakit tenggorokan, sebagai stimulan, dan untuk mengobati sakit perut, mabuk laut, dan perut kembung (Francis, 2010 ).

Bertanam cabai rawit dapat memberikan nilai ekonomi yang cukup tinggi apabila diusahakan dengan sungguh–sungguh. Satu hektar tanaman cabai rawit dapat menghasilkan 8 ton buah cabai rawit (Nungardani, 2010).

Cabai rawit akan bertumbuh dan berproduksi dengan baik apabila ditanam pada lingkungan yang optimum, baik iklim maupun tanah tempat tumbuhnya. Menurut Hanafi (2010) tanah yang baik untuk cabe rawit adalah gembur, subur, porous, dan banyak mengandung humus atau bahan organik. Akan tetapi, tanah dimaksud sudah sulit didapat.

Menurut Suriadikarta dan Simanungkalit (2006) sebagian besar lahan pertanian intensif telah mengalami degradasi dan mengandung kandungan C-organik yang sangat rendah, yaitu kurang dari 2 persen, bahkan di lahan sawah di Jawa kandungannya kurang dari 1 persen. Padahal, untuk memperoleh produktivitas optimal dibutuhkan C-organik lebih dari 2,5 persen. Untuk itu, lahan-lahan pertanian intensif perlu ditambahkan bahan organik.

Bahan organik merupakan unsur yang penting dalam tanah. Menurut BP Tanah (2005) bahan organik berperan dalam memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Sifat fisik berupa pembentukan agregat tanah dan sifat kimia berupa penyedia hara mikro. Sifat biologi berupa sumber energi dan makanan mikroorganisme.

Bahan organik sangat bervariasi tergantung pada bahan dasar pembentuknya. Bahan organik dapat berasal dari sisa tanaman, sisa hewan, ataupun sisa industri. Menurut BP Tanah (2005) kualitas bahan organik atau pupuk organik sangat bervariasi tergantung pada kualitas bahan asalnya.

Selain bahan organik, mulsa juga dapat berperan memperbaiki kondisi tanah dan gilirannya mening-katkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Menurut Umboh (1997), mulsa adalah bahan atau material yang sengaja dihamparkan di atas permukaan tanah. Berdasarkan sumber bahan dan cara pembuatannya, maka mulsa dapat dikelompokkan menjadi mulsa organik, anorganik, dan kimia sintetik.

Mulsa organik berasal ter-utama dari sisa panen, tanaman pupuk hijau atau limbah hasil kegiatan pertanian lainnya seperti batang jagung, jerami padi, batang kacang tanah dan kedelai dan lain-lain yang dapat melestarikan produktivitas lahan untuk jangka waktu yang lama (Purwowidodo, 1983). Kertas koran termasuk ke dalam kategori ini.

Mulsa dapat meningkatkan produktivitas tanah. Hal ini karena mulsa dapat memberikan kebaikan kepada tanah. Menurut Purwowidodo (1983), mulsa mempunyai beberapa kebaikan antara lain dapat melindungi agregat tanah dari daya rusak butiran hujan, mengurangi jumlah dan kecepatan aliran permukaan, memelihara suhu dan kelembaban tanah, dan mengendalikan pertumbuhan gulma.

Tisdale dan Nelson (1975) menyatakan bahwa pemberian mulsa dapat mempengaruhi sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Mulsa dapat memperbaiki tata udara tanah dan meningkatkan pori-pori makro tanah sehingga kegiatan jasad renik dapat lebih baik dan ketersediaan air dapat lebih terjamin bagi tanaman. Mulsa dapat pula mempertahankan kelembaban dan suhu tanah sehingga akar tanaman dapat menyerap unsur hara lebih baik.

Pemberian mulsa khususnya mulsa organik seperti kertas koran juga termasuk salah satu teknik pengawetan tanah. Pemberian mulsa ini dapat mengurangi erosi dan evaporasi, memperbesar porositas tanah sehingga daya infiltrasi air menjadi lebih besar (Sarief, 1985).

Evaporasi atau penguapan air dari tanah yang berlebihan sering menjadi faktor tertekannya pertum-buhan dan rendahnya produksi tanaman. Selain dengan mulsa, evaporasi dapat juga dikurangi dengan pemadatan permukaan tanah. Pemadatan ini berfungsi seperti kerak permukaan tanah, yaitu bisa memperkecil porositas permukaan tanah sehingga laju evaporasi air dari dalam tanah akan berkurang. Penghambatan evaporasi ini akan menjamin ketersediaan air tanah tetap terjaga. Menurut Hanafiah (2005) tanah yang tidak porous atau padat menyebabkan pergerakan air dari tanah ke udara terhambat. Selanjutnya menurut Gunadarma (2010), pemadatan tanah dapat memperbaiki kuat geser tanah, mengurangi kompresibilitas, mengurangi permeabilitas, dan mengurangi sifat kembang susut tanah. Menurut Soilquality (2010) kerak permukaan tanah bisa memiliki beberapa keuntungan. Kerak mengurangi kehilangan air karena permukaannya lebih sedikit terkena udara dibandingkan dengan tanah remah. Selain itu, kerak membentuk hambatan terhadap evaporasi air tanah. Evaporasi air tanah yang rendah berarti lebih banyak air yang tinggal di dalam tanah untuk keperluan tanaman.

PERTUMBUHAN DAN HASIL BEBERAPA VARIETAS CABAI MERAH PADA MEDIA TUMBUH YANG BERBEDA

Ainun Marliah, Mariani Nasution, dan Armin

 

ABSTRACT

The study was aimed at determining appropriate varieties and growing media on growth and yield of red peppers as well as interactions between the two factors mentioned. The experimental design used was a completely randomized design (CRD) 3 x 3 with three replications. Factors studied were red pepper varieties (TM 999, ST 168 and local), and growing media (soil + sand, soil + manure, and soil + husk) with a ratio of 2:1. The results showed that varieties exerted highly significant effects on plant height at 15 days after transplanting (DAT) and fruit weight per plant at first harvest 90 DAT and a significant effect on number of fruits per plant at first harvest 90 DAT. Varieties of TM 999 and ST 168 were better than that of local. Growing media also exerted highly significant effects on plant height at 45 DAT, number of productive branches, number of fruits per plant at first harvest (90 DAT) and fruit weight per plant at first harvest (90 DAT), and significant effects on plant height at 15 and 30 DAT, number of fruits per plant at second harvest (93 DAT), and weight of fruit per plant at third harvest (96 DAT). The best growing medium was soil + sand. There was no significant interaction between varieties and growing media on growth and yield of red chili.

Keywords: Varieties, Growing Media, Red Hot Pepper


PENDAHULUAN

Cabai merah merupakan salah satu tanaman sayuran penting di Indonesia, karena mampu memenuhi kebutuhan khas masyarakat Indonesia akan rasa pedas dari suatu masakan. Cabai merah juga memberikan warna dan rasa yang dapat membangkitkan selera makan, banyak mengandung vitamin dan dapat juga digunakan sebagai obat-obatan, bahan campuran makanan dan peternakan (Setiadi, 2005).

Kebutuhan akan cabai merah terus meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri makanan yang membutuhkan bahan baku cabai. Hal ini menyebabkan komoditi ini menjadi komoditi yang paling sering menjadi perbincangan di seluruh lapisan masyarakat karena harganya dapat melambung sangat tinggi pada saat-saat tertentu (Andoko, 2004). Mengingat prospek cabai merah yang sangat cerah maka perlu dibudidayakan secara intensif.

Salah satu usaha untuk meningkatkan hasil cabai merah adalah dengan menggunakan benih bermutu dari suatu varietas. Varietas cabai merah pada dasarnya terdiri dari varietas hibrida dan non hibrida (lokal), yang masing-masing mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Beberapa varietas cabai hibrida di antaranya TM-999 dan ST-168.

Menurut Andoko (2004) bahwa varietas TM-999 mempunyai akar dan cabang sangat kuat sehingga tahan terhadap kekeringan, warna buah merah terang, ukuran daun lebih kecil, tahan terhadap layu bakteri phytoptora dan anthracnose sehingga dapat ditanam di musim hujan maupun kemarau. Selanjutnya dikatakan bahwa varietas ST-168 mempunyai perakaran dan batang yang kuat, bercabang banyak, buahnya lebat, produksi tinggi, warna buah merah menyala, tahan terhadap layu bakteri phytoptora dan antraknosa, tidak mudah patah dan tahan disimpan lama. Sebaliknya, varietas lokal produksinya rendah dan tidak tahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrem baik itu kekeringan maupun hujan yang tinggi.

Selain varietas, faktor media tumbuh juga merupakan hal yang sangat penting dalam menunjang pertumbuhan dan hasil cabai merah. Media tumbuh yang baik adalah media yang memiliki sifat fisik, kimia dan biologi yang sesuai. Hal tersebut dapat diperoleh dengan mencampur tanah, pasir, pupuk kandang, sekam ataupun bahan-bahan organik lainnya (Anonymous, 1991). Pupuk kandang merupakan kotoran padat dan cair dari hewan ternak yang tercampur dengan sisa-sisa makanan atau alas kandang (Hakim et al., 1986). Pupuk kandang dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan mendorong kehidupan dan perkembangan jasad renik (Sutejo dan Kartasapoetra, 1990). Arang sekam (kuntan) adalah sekam padi berwarna hitam, yang dihasilkan dari pem-bakaran sekam yang tidak sempurna. Menurut Agoes (1994) arang sekam sangat banyak kandungan haranya seperti SiO2 (52%) dan K (31%), serta komponen lainnya seperti Fe2O3, K2O, MgO, CaO. MnO, Cu dan bahan-bahan organik lainnya ada dalam jumlah yang sangat kecil. Selanjutnya, Warna hitam dari sekam bakar tersebut disinyalir mampu mengabsorbsi sinar matahari dengan baik yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang berbagai proses metabolisme tanaman. Syarif (1986) menyatakan untuk mendapatkan media tumbuh lebih baik yang memiliki tata udara dan air yang sesuai maka media tanah dapat dicampur dengan berbagai bahan organik, yaitu dengan perbandingan 2:1.

Setiap varietas mempunyai adaptasi yang berbeda-beda terhadap lingkungannya, baik unsur iklim maupun terhadap media tumbuh. Poespodarsono (dalam Ashari dan Andi, 2000) menyatakan setiap varietas terdiri dari sejumlah genotipe yang berbeda, dimana masing-masing genotipe mempunyai kemampuan tertentu untuk beradaptasi dengan lingkungan tempat tumbuhnya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui varietas terbaik dan media tumbuh yang sesuai terhadap pertumbuhan dan hasil cabai merah. Selain itu, penelitian ini juga untuk mengetahui apakah varietas mempunyai tanggap yang berbeda pada berbagai media tanam bagi pertumbuhan dan hasil cabai merah.

PENGARUH PUPUK ORGANIK DAN ANORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN BEBERAPA VARIETAS JAGUNG MANIS DI LAHAN TSUNAMI

Mardhiah Hayati, Erita Hayati, dan Denni Nurfandi

 

ABSTRACT

 

The study was aimed at determining responses of several sweet corn varieties to organic and inorganic fertilizers on tsunami affected land and knowing interactions between both factors on growth and yield of sweet corn. The experiment was conducted in Village of Lampuuk, Lhoknga, District of Aceh Besar, from January 7 to March 19, 2008. This research was conducted using a randomized complete block design (RCBD), 3 x 3 with 3 replications. There were two factors studied, namely fertilizations, consisting of 3 levels: 100% organic fertilizer, 50% organic fertilizer + 50% inorganic fertilizers and 100% inorganic fertilizers. The second factor was varieties, consisting of 3 levels: Sweet Boy, Hawaiian Sweet Corn Hybrid F1 and Super Bee. The results showed that fertilization significantly affected ear weight with and without cornhusk, but did not affect diameter of ear and seed rows per ear. The highest result was found at a treatment of 50% organic fertilizer + 50% inorganic fertilizers, but was not significantly different from 100% organic fertilizer. Varieties showed no significant effects on all variables observed. There were significant interactions between fertilizations and varieties on plant height at age 42 and 63 day after planting (DAP), leaf length at age 21, 42, and 63 DAP, and root fresh weight at age 21 DAP. The best plant growth was found at a combination of Sweet Boy and 50% organic fertilizer + 50% inorganic fertilizer.

Keywords: organic and inorganic fertilizer, corn, tsunami


 

PENDAHULUAN

Daerah sentral produksi jagung (Zea mays L.) di Indonesia pada umumnya terkonsentrasi di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura, selanjutnya meluas ditanam di luar pulau Jawa. Jagung manis (Zea mays saccharata Sturt) merupakan salah satu dari 7 golongan tanaman jagung. Jagung manis semakin populer dan banyak dikonsumsi karena memiliki rasa yang lebih manis dibandingkan dengan jagung biasa. Selain itu, umur produksi lebih pendek (genjah) sehingga sangat menguntungkan (Rukmana, 1997).

Menurut Koswara (1986), sifat manis pada jagung disebabkan oleh gen su-1 (sugary), bt-2 (brittle) ataupun sh-2 (shrunken). Gen ini dapat mencegah perubahan gula menjadi zat pati pada endosperma sehingga jumlah gula yang ada kira-kira dua kali lebih banyak dari jagung biasa.

 

Untuk mendapatkan hasil tanaman jagung yang baik, faktor yang sangat mempengaruhinya adalah iklim dan morfologi tanaman itu sendiri. Akar merupakan salah satu faktor dari morfologi tanaman. Dengan perakaran yang sehat, tanaman jagung akan lebih kokoh dan dapat menyerap unsur hara yang ada di dalam tanah lebih banyak lagi, sehingga pertumbuhan dan hasil tanaman lebih maksimal.

Bencana alam tsunami yang melanda Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 telah menyebabkan terbawanya garam laut yang terlarut dalam jumlah besar ke lahan pertanian. Menurut Azwar (2005), penimbunan garam terlarut di dalam tanah dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Hal ini dapat mengurangi kesanggupan benih mengabsorbsi air dan secara tidak langsung akan menghambat perkecambahan. Harahap (1984) menyatakan bahwa kadar garam yang tinggi menyebabkan rendahnya persentase tumbuh benih dan pertumbuhan terhambat akibat ber-kurangnya air yang dapat diserap oleh tanaman.

Mengatasi tanah akibat tsunami, disarankan untuk menggunakan pupuk organik. Namun demikian, pupuk anorganik tetap diperlukan. Pupuk adalah bahan yang mengandung unsur hara yang diperlukan tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Tanaman untuk hidupnya membu-tuhkan paling tidak 16 unsur hara esensial yaitu C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, S, Fe, Mn, Zn, Cu, B, Mo, dan Cl. Unsur hara ini diperoleh tanaman dari tanah atau diberikan melalui pemupukan. Pemupukan adalah pem-berian pupuk kepada tanaman melalui tanah, dan atau bagian tertentu dari tanaman, bertujuan untuk menambah unsur hara yang diperlukan tanaman (Sutedjo, 1987).

Pupuk yang diberikan pada tanaman biasanya didasarkan kepada kebutuhan tanaman dan tersedianya unsur hara di dalam tanah untuk tanaman. Dosis pupuk yang dibutuhkan sangat tergantung oleh kesuburan tanah dan diberikan secara bertahap. Anjuran dosis pupuk untuk tanaman jagung manis rata-rata adalah : Urea = 435 kg/ha, TSP = 335 kg/ha (SP 36 = 428 kg/ha) dan KCl = 250 kg/ha. Sedangkan untuk pupuk organik adalah 10 ton/ha (Palungkun dan Budiarti, 2004).

Selain pupuk, perlu diperhatikan varietas yang cocok untuk lahan yang rusak atau varietas yang tahan terhadap kondisi tanah yang telah terkena tsunami. Hal yang terpenting adalah varietas yang cocok dengan lingkungan setempat. Pemilihan varietas bertujuan agar setiap varietas yang dibudidayakan suatu daerah dapat beradaptasi dengan baik karena masing-masing varietas memiliki daya beradaptasi yang berbeda-beda (Anonymous, 1992).

Varietas adalah salah satu di antara banyak faktor yang sangat menentukan dalam pertumbuhan dan hasil tanaman. Selain faktor ling-kungan, penggunaan varietas unggul merupakan salah satu komponen teknologi yang terpenting untuk mencapai produksi yang tinggi. Penggunaan varietas unggul mem-punyai kelebihan dibandingkan dengan varietas lokal dalam hal produksi, ketahanan terhadap hama dan penyakit, respons pemupukan dan ketahanan terhadap gaya-gaya perusak luar lainnya sehingga produksi yang diperoleh baik kualitas maupun kuantitas dapat meningkat (Soegito dan Adie, 1993).

Beberapa varietas jagung manis yang sudah dilepas dan dibudidayakan antara lain adalah Sweet Boy, Hawai Sweet Hybrida F1, Super Bee, Super Sweet, Bisi Sweet 1, Bisi Sweet 2, Bisi Sweet 3 dan Bisi Sweet 4. Penelitian ini menggunakan tiga varietas yaitu Sweet Boy, Hawai Sweet Hybrida F1, dan Super Bee.

Jagung manis varietas Sweet Boy mempunyai rasa sangat manis, penampilan tanaman kokoh dengan daun berwarna hijau gelap, umur panen sedang, agak tahan terhadap penyakit karat daun, toleran terhadap penyakit bulai, tahan rebah dan adaptasi baik di dataran rendah maupun tinggi. Varietas ini mempunyai hasil rata-rata 12.7 tongkol berkelobot/ha dan 11.3 tongkol tanpa kelobot /ha.

Varietas Hawai Sweet daerah adaptasi baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi, berumur 100 hari di dataran tinggi dan 64 hari di dataran rendah. Rata-rata hasil 12 ton/ha berkelobot, 9.5 ton/ha tanpa kelobot.

Varietas Corn Super Bee dapat ditanam di daerah dataran rendah, menengah dan dataran tinggi, berat 300 – 400 g/tongkol. Potensi hasil 12 – 14 ton/ha, toleran terhadap penyakit bulai dan karat daun, dapat dipanen pada umur 70 hari setelah tanam (Keputusan Menteri Pertanian, 2000).

Berdasarkan uraian di atas, belum diketahui pertumbuhan dan hasil beberapa varietas jagung manis akibat pemakaian kombinasi pupuk organik dan anorganik di lahan terkena tsunami, maka perlu dilakukan serangkaian penelitian.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk dan kombinasi pupuk organik dan anorganik terhadap pertumbuhan dan produksi beberapa varietas jagung manis pada lahan terkena tsunami, serta untuk mengetahui interaksi antara kedua faktor tersebut terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis.

PENGARUH SUHU PENGERINGAN TERHADAP MUTU ROSELLA KERING (Hibiscus sabdariffa)

 

Rita Hayati, Nurhayati, dan Nova Annisa

 

ABSTRACT

 

The objective of the research was to study effects of drying temperatures (sun drying, 50°C, and 60°C) on quality of dried rosella. Moisture content analysis showed that there were not significantly different among all treatments. However, antocianin and vitamin C content were significantly different in all treatments, and the best drying temperature was 50°C. The brightest color of dried rosella was produced by sun drying. However, all treatments were browning due to Millard reaction.

Keywords: temperature, drying, dried rosella


PENDAHULUAN

Rosella yang selama ini dikenal sebagai bunga, sebenarnya adalah kelopak buah. Karena bentuknya seperti bunga terlebih jika telah dikeringkan, maka orang menye-butnya bunga rosella (Anonymous, 2009). Tanaman rosella mempunyai kelopak bunga yang berwarna merah. Kelopak bunga banyak digunakan sebagai bahan pembuatan minuman dan makanan serta sumber pewarna alami. Kelopak bunga rosella selain mempunyai warna yang menarik juga mempunyai rasa yang sangat asam. Antosianin merupakan pigmen alami yang memberi warna merah pada seduhan kelopak bunga rosella dan berkhasiat sebagai antioksidan (Riata, 2010).

Lordbroken (2009) menyatakan ada dua cara pengeringan yang bisa dilakukan, yaitu menjemur di bawah sinar matahari atau dengan menggunakan oven. Namun, yang banyak dilakukan oleh masyarakat adalah pengeringan dengan sinar matahari. Pengeringan dengan sinar matahari sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan membutuhkan waktu yang lama, sekitar 3-5 hari di bawah sinar matahari penuh tanpa diselingi mendung. Namun, bila diselingi mendung atau hujan, proses pengeringan dapat mencapai 7 hari atau lebih (Widyanto dan Nelistya, 2008).

Pengeringan mekanis merupa-kan metode alternatif lain dalam pengeringan kelopak rosella. Dalam menggunakan pengeringan secara mekanis, tinggi-rendahnya suhu ha-rus mendapat perhatian, karena penggunaan suhu yang terlalu rendah atau tinggi dapat menyebabkan kandungan bahan organik yang terdapat dalam rosella menjadi berkurang. Mardiah (2009) menya-takan, salah satu alat pengering mekanis yang bisa digunakan adalah menggunakan oven listrik. Cara pengeringan ini membutuhkan waktu yang relatif cepat tetapi memerlukan biaya yang besar dan penggunaan suhu tidak melebihi 60-70°C.

Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan cara dan suhu pengeringan yang terbaik terhadap mutu kelopak rosella.

EFEKTIVITAS DOSIS DAN WAKTU APLIKASI Trichoderma virens TERHADAP SERANGAN Sclerotium rolfsii PADA KEDELAI

Tjut Chamzurni, Rina Sriwati, dan Rahel Diana Selian

 

ABSTRACT

This study was aimed at obtaining an effective dose and application timing of Trichoderma in controlling wilt disease caused by Sclerotium on soybean. This study used a factorial complete ramdomized design with 8 combination of treatments and 4 replications. There were two factors studied, dose and timing of Trichoderma. Four level doses factor were studied, i.e. 75, 150, 225, and 300 g.polybag-1, while timing of application consisted of 2 levels, 7 days before planting and at the planting time. The observed variables were germination rate, incubation period, length of lesion formed on the base of the stem, and dry weight of seeds per plant. Data of variables observed was analized by analysis of variance and followed by least significance different test at level 5%. The results showed that dose of Trichoderma gave a significant effect on seed germination rate, incubation period, length of lesion and dry weight of seed per plant. Dose of Trichoderma 300 g.polibag-1 was the best and gave germination rate of seed up to 84,38%, incubation period 8 days, length of lesion 1,35 cm and dry weight of seed 24,13 g. The timing of application gave a significant effect only on dry weight of seed per plant. The best timing of application was found at 7days before planting and no interaction between doses and time of application of Trichoderma.

Keywords: Trichoderma virens, Sclerotium rolfsii, soybean

PENDAHULUAN

Kedelai (Glycine max L. Merril) merupakan komoditas tanaman pangan ketiga setelah padi dan jagung di Indonesia. Tanaman ini dikenal juga sebagai sumber protein nabati terpenting yang relatif murah, sehingga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat (Deptan,1991 dalam Misnawati, 2003).

Usaha peningkatan produkti-vitas kedelai tidak terlepas dari berbagai kendala, antara lain adanya gangguan hama dan penyakit. Salah satu penyakit yang cukup penting adalah penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh cendawan Sclerotium rolfsii Sacc. Cendawan ini menyerang tanaman kedelai muda yang berumur sekitar dua sampai tiga minggu dan dapat menyebabkan kematian awal pada tanaman yang terinfeksi. Kehilangan hasil akibat penyakit ini dapat mencapai 75% (Sudhanta, 1997).

Selain pada kedelai, S. rolfsii juga dapat menyerang berbagai tanaman lainnya, seperti kacang tanah, tomat, kentang dan tembakau (Agrios, 1988). Patogen ini sulit ditanggulangi antara lain karena mampu bertahan selama bertahun-tahun di dalam tanah dalam bentuk sklerotia dan mempunyai kisaran inang yang luas (Semangun, 1993).

Memasuki pasar global, produk-produk pertanian ramah lingkungan akan menjadi prioritas. Persyaratan kualitas produk pertanian akan menjadi lebih erat kaitannya dengan pemakaian pestisida sintetik. Salah satu alternatif upaya peningkatan kuantitas dan kualitas produk pertanian khususnya kedelai dapat dilakukan dengan pemanfaatan agen hayati (biopestisida) sebagai pengganti pestisida sintetik yang selama ini telah diketahui banyak berdampak negatif dalam mengendalikan penyakit-penyakit tanaman, seperti terbunuhnya mikroorganisme bukan sasaran dan membahayakan kesehatan dan ling-kungan. Trichoderma virens adalah cendawan saprofit tanah yang secara alami merupakan parasit yang menyerang banyak jenis cendawan penyebab penyakit tanaman (spektrum pengendalian luas). T. virens dapat menjadi hiperparasit pada beberapa jenis cendawan penyebab penyakit tanaman. Pertumbuhannya sangat cepat dan tidak menjadi penyakit untuk tanaman. Mekanisme antagonis yang dilakukan adalah berupa persaingan hidup, parasitisme, antibiosis dan lisis (Harwitz, 2003).

Trichoderma virens mengeluar-kan antibiotik dari senyawa viridiol phytotoxin yang dapat menghambat perkembangan patogen, memarasit patogen dengan penetrasi langsung dan juga lebih cepat dalam memper-gunakan O2, air dan nutrisi sehingga mampu bersaing dengan patogen (Kinerley & Mukherjee, 2010). Efektivitas T. virens sebagai agen antagonis sangat dipengaruhi oleh dosis dan waktu aplikasi. Hasil penelitian Idarniati (2007), perlakuan T. harzianum dengan dosis 500 gram per polibag terhadap serangan S. rolfsii pada kacang tanah dapat mengurangi persentase tanaman terserang mencapai 15%. Penelitian yang dilakukan oleh Nur & Ismiyati (2007), waktu aplikasi Trichoderma sp. 7 hari sebelum tanam efektif dalam menekan penyakit layu fusarium pada bawang merah dan menunjukkan bobot umbi kering perumpun tertinggi yaitu 70,30 gram.

Sclerotium rolfsii merupakan patogen tanah yang dapat bertahan hidup dalam tanah dengan membentuk tubuh istirahat. Oleh karena itu, waktu aplikasi yang tepat sangat dibutuhkan dalam mengendalikan cendawan S. rolfsii.

Berdasarkan permasalahan di atas, maka perlu dilakukan penelitian untuk menguji efektivitas dosis T. virens dan waktu aplikasi yang tepat untuk mengendalikan penyakit layu sclerotium pada tanaman kedelai.

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis T. virens yang efektif dan waktu aplikasi yang tepat dalam mengendalikan penyakit layu sklerotium pada tanaman kedelai.

UPAYA PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU FUSARIUM OXYSPORUM DENGAN PEMANFAATAN AGEN HAYATI CENDAWAN FMA DAN TRICHODERMA HARZIANUM

Alfizar, Marlina, dan Nurul Hasanah

 

ABSTRACT

The objectives of the research were to determine effectiveness of antagonist T. harzianum and fungi micorrhyze in suppressing growth of Fusarium oxysporum on tomato. The research used a factorial completely randomized design, consisting of sixteen combination treatments and three replications. The first factor was doses of T. harzianum, consisting of four levels, i.e. 0, 15, 30, and 45 g.polybag-1. The second factor was doses of micorrhyze, also consisting of four levels, i.e. 0, 5, 10, and 15 g.polybag-1. Variables observe were incubation period, length of xylem discoloration and percentage of wilting plant. The data were analyzed statistically by analysis of variance. The least significant difference test (LSD) at the 0.05 level was used to see the difference between the treatments. The results showed that applications of fungi mycorhize and T. harzianum affected growth of F. Oxysporum f sp. Lycopersici. The incubation period of F. oxysporum on tomato was longer, 20.5 days when applied with mycorrhize 15 g.polybag-1 and T. harzianum 45 g.polybag-1 compared to control 17.75 days. The length of xylem discoloration was only 2.39 cm when treated with FMA 15 g.polybag-1 compared to control 13.44 cm, while xylem discoloration was 6.56 cm when applied with T. harzianum 45 g.polybag-1 compared to control 8.65 cm. Application of mycorrhize 15 g.polybag-1 and T. harzianum 45 g.polybag-1 caused a decreased percentage of wilting plant. The percentage of wilting plant was 35 % when treated with FMA 15 g.polybag-1 compared to control 74.28% and 42.50% when treated with T. harzianum 45 g.polybag-1 compared to control 54.64%. There was no interaction between fungi mycorrhize and T. harzianum for xylem discoloration and percentage of wilting plant.

Keyword: Fusarium oxysporum f.sp, T. harzianum, FMA, biological control


PENDAHULUAN

Fol merupakan salah satu jamur tular tanah atau “soil-borne pathogen”. Jamur ini menular mela-lui tanah atau bahan tanaman yang berasal dari tanaman sakit, dan menginfeksi tanaman melalui luka pada akar yang dapat menyebabkan penyakit layu pada tanaman tomat. Patogen ini dapat bertahan hidup dalam tanah berupa klamidospora dalam jangka waktu yang lama meskipun lahan tidak ditanami. Patogen ini juga dapat menyerang pada semua stadia. Tanaman muda yang terserang menjadi busuk pada bagian bawah batang, daun-daun layu mengerut dan akhirnya mati (Semangun, 1989). Semangun (1996) menyatakan bahwa patogen tular tanah dapat menimbulkan penyakit pada tanaman sebelum berkecambah, pada masa perkembangan, pada waktu tanaman masih muda atau menjelang berbunga dan berbuah.

Daur hidup Fusarium oxysporum mengalami fase pato-genesis dan saprogenesis. Pada fase patogenesis, jamur hidup sebagai parasit pada tanaman inang. Apabila tidak ada tanaman inang, patogen hidup di dalam tanah sebagai saprofit pada sisa tanaman dan masuk fase saprogenesis, yang dapat menjadi sumber inokulum untuk menimbul-kan penyakit pada tanaman lain. Penyebaran propagul dapat terjadi melalui angin, air tanah, serta tanah terinfeksi dan terbawa oleh alat pertanian dan manusia (Doolite et al., 1961 dalam Winarsih, 1997).

Pengendalian secara biologi sudah luas digunakan dengan menggunakan jamur-jamur saprofit yang bersifat antagonis terhadap Fol di antaranya dengan menggunakan fungi mikoriza arbuskula (FMA). FMA sudah banyak diteliti sebagai agen antagonis terhadap beberapa patogen penyebab penyakit tanaman. Potensi FMA sebagai agen antagonis tergantung pada kondisi lingkungan. Beberapa hasil penelitian menunjuk-kan bahwa perkembangan FMA tidak terjadi pada media yang tidak diinokulasi dengan Trichoderma spp. Komaryati (1993) dalam Winarsih (1997) melaporkan bahwa pada media tanpa inokulasi FMA, meski-pun ditemukan FMA, namun tidak dapat berkembang dan menginfeksi tanaman inang, kecuali ditambahkan Trichoderma dalam jumlah persen yang kecil.

Keberadaan FMA juga ber-sifat sinergis dengan bakteri pelarut fosfat dan Trichoderma sp (Setiadi, 1989). Penelitian mengenai penggu-naan T. harzianum dan FMA untuk menekan perkembangan jamur Fol hingga saat ini masih perlu dilaku-kan. Untuk mengetahui penggunaan T. harzianum yang dipadukan dengan mikoriza dalam menekan perkembangan Fol pada tanah yang ditanami tomat, maka perlu dilakukan penelitian.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh FMA dalam mengendalikan penyakit layu Fusari-um oxysporum f. sp lycopersici pada tanaman tomat yang diberi T. harzianum pada taraf yang berbeda.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.