PENGARUH FUNGISIDA BENLATE DAN MEDIA PENGEPAKAN DALAM KONDISI KELEMBABAN TINGGI TERHADAP VIGOR DAN VIABILITAS BENIH KAKAO SETELAH PENYIMPANAN

Erida Nurahmi, Sabaruddin, dan Ninik Erlina

ABSTRACT

 

This study was aimed at determining effect of fungicide Benlate and packaging media in high humidity conditions on cocoa seed vigor and viability.  The design used was a factorial completely randomized design (CRD) 3 by 3 with 3 replications. Fungicides consisted of three levels and packaging materials consisted of three levels. The results showed that fungicide Benlate exerted a significant effect on cocoa seed viability. The highest seed viability and vigor were found at a concentration 0.65% of fungicide, while the best packaging media was a perforated plastic polypropylene.  The best combination was obtained between fungicide Benlate of 0.65% and a perforated plastic polypropylene of packaging media.

Keywords: cacao seeds, Benlate fungicide, plastic polypropylene, polyetilane and air humidity.

PENDAHULUAN

 

Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya berbagai tanaman pertanian. Sebagai bahan perbanyakan, benih haruslah bermutu tinggi baik genetis, fisis maupun fisiologis agar dapat menghasilkan tanaman vigor, baik pertumbuhan maupun produksinya.[1]

Mutu benih, secara periodik akan terus menurun sejalan dengan waktu. Kecepatan penurunan mutu benih sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor intrinsik, salah satunya yaitu kadar air benih, maupun faktor ekstrinsik, salah satunya adalah kondisi kelengasan udara dalam ruang simpan.

Tujuan utama penyimpanan benih adalah untuk mempertahankan viabilitas benih dalam periode simpan yang selama mungkin, agar benih dapat ditanam pada tahun-tahun berikutnya atau untuk tujuan pelestarian benih dari suatu jenis tanaman (Sutopo, 2002).

Benih tanaman kakao tergolong benih rekalsitran, karena itu sangat sensitif terhadap kekeringan dan juga peka terhadap suhu rendah. Hor (dalam Ashari, 1995) membuktikan terjadinya penurunan tajam viabilitas benih kakao dari 15°C ke 17°C.

Kondisi benih kakao tersebut masih menjadi masalah utama yang masih belum teratasi dengan baik sampai saat ini.  Hal itu meng-akibatkan laju penurunan viabilitas benih berlangsung cenderung lebih cepat, baik pada masa penyimpanan maupun dalam proses pengiriman ke lokasi konsumen (Toruan, 1985).

Sebagai benih rekalsitran, selama penundaan penanaman, benih kakao lebih aman tetap berada dalam daging buah yang menutupinya agar tetap dapat mempertahankan kadar air yang tinggi, sehingga dapat dinyatakan bahwa benih kakao tidak tahan terhadap kehilangan air, tidak toleran terhadap suhu rendah, berkecambah selama penyimpanan, membutuhkan oksigen yang tinggi dan terjadinya kontaminan mikroorganisme di penyimpanan (Chin, 1989).

Pengetahuan dalam usaha memperpanjang daya hidup benih rekalsitran masih sangat terbatas. Ashari (1995) mengemukakan bahwa, masalah utama dalam penyimpanan benih dengan kondisi kelembaban simpan yang tinggi adalah menunda perkecambahan benih dan untuk mengatasi gangguan serangan jamur adalah dengan aplikasi fungisida sehingga benih rekalsitran tersebut dapat dipertahankan viabilitasnya pada kondisi yang aman.

Hasanah (2002) menyatakan bahwa daya simpan benih rekalsitran dapat dipertahankan dengan mengemas benih pada kantong plastik yang berlubang dan dilengkapi dengan bahan yang lembab seperti serbuk gergaji atau arang. Namun,  hal ini memerlukan protektan dari invasi dan infeksi mikroorganisme, sekaligus tidak berbahaya bagi benih.

Pada saat ini hanya ada tiga metode penyimpanan jangka pendek untuk benih rekalsitran yang berhasil ditemukan, yaitu metode penyimpanan lembab atau imbibisi, metode pengeringan parsial dan teknik-teknik atmosfir terkendali. Hasil yang telah diperoleh King dan Roberts (dalam Chin, 1989), menunjukkan bahwa setelah satu bulan penyimpanan benih-benih kakao dengan menggunakan teknik penyimpanan imbibisi tersebut masih diperoleh tingkat perke-cambahan lebih dari 60%. Sisi negatif dari teknik ini adalah serangan mikroorganisme terutama jamur. Oleh sebab itu, perlakuan benih dengan bahan kimia sebelum disimpan sangat dibutuhkan untuk menghindari serang-an jamur atau cendawan dan mikroorganisme lainnya yang mengontaminasi benih selama dalam penyimpanan. Fungisida yang biasa digunakan adalah KOC, Dithane M-45, Benlate, Thiram, Ceresan, Arasan, Captan dan lain-lain (Sutopo, 2002).

Hasil penelitian Rizmi (2004) menunjukkan bahwa metode penyimpanan kelembaban tinggi dan konsentrasi Fungisida Benlate 0,45% dapat mempertahankan daya kecambah benih kakao sampai 64,57% setelah penyimpanan selama 20 hari, tetapi dalam penelitian tersebut tidak dijelaskan mengenai bahan pengemasnya.

Sampai saat ini belum ada informasi yang jelas tentang jenis media dan kemasan penyimpanan untuk benih kakao yang dapat digunakan secara bersamaan dengan fungisida Benlate. Penelitian ini di-harapkan dapat menjawab  permasa-lahan tersebut yang tujuan akhirnya adalah viabilitas dan vigor benih kakao dapat dipertahankan selama mungkin selama penyimpanan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan fungisida Benlate dan media simpan dalam kondisi kelembaban tinggi terhadap vigor dan viabilitas benih kakao setelah penyimpanan, serta untuk mengetahui interaksi antara kedua faktor tersebut.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: