DOSIS DAN FREKUENSI KASCING UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU FUSARIUM PADA TANAMAN TOMAT

Susanna, Tjut Chamzurni, and Arisandi Pratama

ABSTRACT

A study of dosage and frequency of kascing (warm excrement) for controlling fusarium wilt disease (Fusarium oxysporum f.sp lycopersici) on tomatoes (Lycopersicum esculentum Mill) has been done in a Laboratory of Plant and Disease Department and a Field Experiment Station, Agriculture Faculty, Syiah Kuala University in Banda Aceh. The purpose of this experiment was to study effects of dosage and frequency of kascing to control fusarium wilt on tomato plants. The experiment applied a factorial completely randomized design (CRD) with five replications. The factors studied were dosage and frequency of kascing. The dosage consisted of 100 and 200 g/plant, whereas the frequency of kascing consisted of one and two times of application. The results showed that dosage of 200 g/plant with two times of kascing application can control disease fusarium wilt on tomato plant.

Keywords: kascing, Fusarium oxysporum, tomato

 


PENDAHULUAN

 

Tanaman tomat (Lycoper-sicum esculentum Mill.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang sangat potensial untuk dikem-bangkan, karena mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan potensi ekspor yang besar.  Daerah sentra produksi tomat di Indonesia tersebar di beberapa propinsi, antara lain Jawa Barat, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali (Direktorat Perlindungan Hortikultura, 2004).  Produksi tomat di Indonesia berkisar antara   10 – 33 ton ha-1.  Dewasa ini budidaya tomat tidak hanya dikem-bangkan secara tradisional tetapi masyarakat tani sudah mulai menge-nal dan mengembangkan secara intensif (Pracaya, 1989).

Pada pelaksanaan pembudi-dayaan dan upaya peningkatan pro-duksi tanaman tomat tidak terlepas dari masalah hama dan penyakit.  Salah satu penyakit penting pada tanaman tomat adalah penyakit layu yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici (Fol).  Penyakit ini mengakibatkan kerusak-an yang besar pada tanaman tomat, sehingga menimbulkan kerugian 20 – 30% (Wibowo, 2007). Gejala pertama dari penyakit ini adalah menjadi pucatnya tulang-tulang daun, terutama daun-daun sebelah atas, kadang-kadang daun sebelah bawah. Tanaman menjadi kerdil dengan tangkai merunduk dan akhirnya layu keseluruhan, jika tanaman dipotong dekat pangkal batang akan terlihat suatu cincin cokelat dari berkas pembuluh (Semangun, 2004).

Berbagai metode pengendali-an telah sering dilakukan untuk mengendalikan penyakit layu fusa-rium, namun kebiasaan petani yang menggunakan pestisida sintetik lebih dominan sehingga menyebabkan patogen menjadi resisten dan terjadi pencemaran  terhadap lingkungan.  Pada kondisi lingkungan yang demikian, perlu dicari alternatif lain untuk menjaga kelestarian lingkung-an.  Bahan organik telah dilaporkan mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit.  Salah satu bahan organik yang dapat digunakan adalah kascing.  Kascing yang karakteristiknya ramah ling-kungan mulai dari produksi hingga aplikasi adalah pengganti yang cocok dan tepat dalam proses pertumbuhan dan juga mampu menekan perkem-bangan patogen tanaman. Kascing merupakan pupuk organik yang mengandung fitohormon, mikroba dan unsur-unsur yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman.

Kascing adalah pupuk organik yang dihasilkan dari proses pencer-naan dalam tubuh cacing dan dibuang sebagai kotoran cacing yang telah terfermentasi.  Kascing ini memiliki banyak kelebihan jika dibandingkan dengan pupuk organik lain karena kascing kaya akan unsur hara makro dan mikro esensial serta mengandung hormon tumbuh tanaman seperti auksin, giberelin, dan sitokinin yang mutlak dibutuhkan untuk pertumbuh-an tanaman yang maksimal (Purwati, 2008).  Menurut Suyono et al. (2000) di dalam kascing juga terdapat mikroorganisme antagonis seperti Trichoderma sp. Hasil penghitungan mikroorganisme antagonis (Tricho-derma sp.) di Laboratorium Penyakit Tumbuhan, Jurusan Hama dan Penyakit tanaman, Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala bahwa di dalam 10 gram kascing, terdapat 5,5 x 104 koloni.  La An (2008) menyatakan bahwa penggunaan kascing dapat membantu mengemba-likan kesuburan tanah karena di dalamnya terdapat mikroorganisme dan karbon organik yang mendorong perkembangan ekosistem dan rantai makanan.  Oktarina (2008) melapor-kan bahwa kascing dapat menu-runkan intensitas serangan penyakit rebah semai yang disebabkan oleh Rhizoctonia solani pada tanaman tembakau di persemaian sebesar 50 %.

Menurut Mulat (2003), pemberian kascing dengan dosis 200 g per tanamansebanyak 2 kali aplikasi dapat menekan perkembangan penyakit layu fusarium pada tanaman kedelai 75%.  Berdasarkan uraian di atas, ingin dilakukan penelitian tentang dosis dan frekuensi pemberian kascing untuk mengendalikan penyakit layu fusarium pada tanaman tomat.

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dosis dan frekuensi pemberian kascing dalam mengendalikan penyakit layu fusa-rium pada tanaman tomat.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: