PENGARUH VARIETAS DAN KONSENTRASI PUPUK MAJEMUK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KUBIS BUNGA (Brassica oleracea L.)

Effects of Varieties and Concentrations of Compound Fertilizer on Growth and Yield of Cauliflower (Brassica oleracea L.)

Ainun Marliah, Nurhayati, dan Risma Riana

ABSTRACT

The research was aimed at determining suitable varieties and concentrations of compound fertilizer RapidGro 01 on growth and yield of cauliflower. Experiment was arranged in a randomized complete block design (RCBD) 3×3 with 3 replications. There were two factors studied, i.e. 1) varieties consisted of 3 levels (PM 126 F1, White Shot and Cauliflower Tropica 45 Days) and 2) concentration of compound fertilizer RapidGro 01 consisted of 3 levels (2, 4, and 6 gL-1of water). Results showed that varieties significantly affected plant height at 30 days after planting, leaf numbers at 45 days after transplanting (DAT) and wet weight of flowers per plant, but did not significantly affect plant height at 15 and 45 DAT, leaf numbers at 15 and 30 DAT, root length and wet weight. The best variety was AM 126 F1. Concentrations of compound fertilizer RapidGro 01 did not significantly affect plant height and leaf numbers at 15, 30, and 45 DAT, root length, fresh weight per plant and wet weight per plant. There was no significant interaction between varieties and concentrations of compound fertilizer RapidaGro 01 on all variables of growth and yield of cauliflower.

Keywords: Cauliflower, Compound Fertilizer, Varieties

PENDAHULUAN

Kubis bunga (Brassica oleraceea L.) merupakan jenis tanaman sayuran yang termasuk dalam keluarga tanaman kubis-kubisan (Cruciferae) yang berasal dari Eropa, dan pertama kali ditemukan di Cyprus, Italia Selatan dan Mediterania, masuk ke Indonesia pada abad ke XIX. Di Indonesia masyarakat mengenal sayuran kubis bunga sebagai bunga kol, kembang kol, atau dalam bahasa asing disebut cauliflower. Bagian yang dikonsumsi dari sayuran ini adalah masa bunganya (curd). Masa kubis bunga umumnya berwarna putih bersih atau putih kekuning-kuningan (Rukmana, 1994 dan Cahyono, 2001).

Kubis bunga mempunyai peranan penting bagi kesehatan manusia, karena mengandung vitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan tubuh, sehingga permintaan terhadap sayuran ini terus meningkat. Sebagai sayuran, kubis bunga dapat membantu pencernaan, menetralkan zat-zat asam dan memperlancar buang air besar. Menurut Rukmana (1994), komposisi zat gizi dan mineral setiap 100 g kubis bunga adalah kalori (25,0 kal), protein (2,4 g), karbohidrat (4,9 g), kalsium (22,0 mg), fosfor (72,0 mg), zat besi (1,1 mg ), vitamin A (90,0 mg), vitamin B1 (0,1 mg), vitamin C (69,0 mg) dan air (91,7 g).

Kubis bunga terdiri dari beberapa varietas, yang dapat dilihat perbedaannya pada bentuk daun dan ukuran krop. Menurut Pracaya (2001) bahwa secara umum kubis bunga dibedakan atas 3 jenis yaitu: (a) jenis pendek, mempunyai ciri ukuran daun sedang, daun sebelah luar melengkung ke arah luar dan daun sebelah dalam melengkung ke arah dalam sehingga ujungnya menutupi krop, (b) jenis besar, mempunyai ciri ukuran kepalanya lebih besar daripada jenis pendek. Jenis besar ini juga mempunyai daun lebih tegak dan lebih panjang, kepala bunga lebih bulat lebih tebal dan berat, (c) jenis kepala ungu, jenis ini akan berubah warnanya menjadi hijau pucat pada saat masa panen, kepala bunga tidak tertutupi daun. Jenis kepala ungu ini biasanya tidak dibudidayakan secara besar-besaran, namun hanya ditanam di sekitar rumah.

Budidaya kubis bunga dilakukan di daerah dataran tinggi, namun beberapa kultivar dapat membentuk bunga di dataran rendah sekitar khatulistiwa (Williams, Uzo dan Peregrine, 1993). Hal ini dikarenakan kemajuan ilmu dan teknologi di bidang pertanian yang telah menemukan varietas-varietas unggul kubis bunga yang cocok ditanam di dataran rendah sampai menengah ( Rukmana,1994). Beberapa varietas unggul kubis bunga yang dapat dibudidayakan di dataran rendah termasuk di Aceh adalah varietas White Shot, PM 16 F1 dan Cauliflower Tropica 45 Day. Varietas White Shot memiliki keunggulan produktivitas tinggi, krop berbentuk seperti kubah berwarna kuning dengan rasa renyah agak lunak dan dapat beradaptasi dengan baik di dataran sedang sampai tinggi. PM 126 F1 memiliki keunggulan produktivitas tinggi, krop membentuk kubah berwarna putih. Cauliflower Tropica 45 Days memiliki keunggulan produktivitas tinggi, umur genjah, krop berbentuk kubah agak bulat, berwarna putih dengan rasa lunak agak renyah serta beradaptasi dengan baik di dataran menengah (500 m dpl) sampai tinggi (1.500 m dpl).[1]

Selain varietas, pemupukan juga merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam menunjang pertumbuhan dan hasil kubis bunga. Pemupukan adalah penambahan unsur hara yang dibutuhkan tanaman sesuai dengan dosis yang dianjurkan (Cahyono, 2007). Pemupukan bertujuan untuk memelihara, memper-baiki dan mempertahankan kesuburan tanah dengan memberikan zat-zat pada tanah, sehingga dapat menyumbangkan hara bagi tanaman.

Berbagai jenis pupuk yang dapat digunakan, baik pupuk yang mengandung satu jenis unsur hara (tunggal), maupun pupuk yang mengandung beberapa unsur hara (pupuk majemuk). Menurut Sutejo (2002), pupuk majemuk yang mengandung unsur hara makro primer (N,P dan K) dan unsur hara makro sekunder (mg, Ca dan S), serta dilengkapi unsur hara mikro, maka pupuk tersebut disebut pupuk majemuk lengkap, salah satunya adalah pupuk RapidGro 01(20-20-20).

RapidGro 01 (20-20-20) adalah jenis pupuk daun berbentuk bubuk berwarna biru, mengandung unsur hara makro N, P dan K berimbang serta unsur hara mikro lengkap, yang dapat memacu pertumbuhan dan hasil tanaman padi, palawija, sayuran, buah-buahan, perkebunan dan kehutanan. Pemberian pupuk daun lebih menguntungkan dari pada pupuk akar, karena proses penyerapannya lebih cepat, sehingga dapat mempercepat pertumbuhan tunas dan tanah tidak mudah rusak. Pemberian pupuk daun biasanya sebagai pelengkap untuk mengatasi kebutuhan hara yang kurang dan tidak dapat disuplai dari pupuk akar (Agromedia, 2007). Menurut Cahyono (2001) bahwa penggunaan pupuk daun dapat mengurangi 25% penggunaan pupuk Urea, 50 % pupuk SP-36, namun untuk pupuk KCl tetap diberikan sesuai dosis anjuran. Konsentrasi anjuran pupuk RapidGro 01 (20-20-20) untuk tanaman kubis bunga adalah 1-4 g/L air, diberikan dengan cara disemprot melalui daun secara merata saat persemaian, pertumbuhan vegetatif dan generatif[2].

Berdasarkan permasalahan di atas, belum diketahui konsentrasi pupuk majemuk RapidGro 01 yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa varietas kubis bunga, sehingga perlu dilakukan penelitian.

KAJIAN WARNA BUAH DAN UKURAN BENIH TERHADAP VIABILITAS BENIH KOPI ARABIKA (Coffea arabica L.) VARIETAS GAYO 1

Study of Fruit Color and Seed Size on Seed Viability of Arabica Coffee (Coffea arabica L.) Variety Gayo 1

Cut Nur Ichsan, Agam Ihsan Hereri, dan Lina Budiarti

ABSTRACT

The purpose of this study was to examine seed viabilities of Arabica Coffee, variety Gayo 1 which was different in color of the fruits and in size of the seeds. The study was also aimed at examining interactions between fruit color and seed size on seed viabilities. Experiment was arranged in a randomized complete block design with three replications. Factors studied were 1) fruit color consisted of three levels, namely, bright red, dark red, and yellowish green and 2) seed size consisted of large seeds, medium, small. Results showed that fruit color significantly affected germination rate, seedling growth rate, prompt germination, the time required to reach 50% germination (T50) and dry weight of normal seedlings. Seed size significantly affected germination rate, seedling growth rate, prompt germination, T50, and dry weight of normal seedlings. The best viability was found in the seeds derived from bright red fruits and small sized seeds.

Keywords: Fruit color, seed size, viability, Arabica Coffee, Gayo 1

 

PENDAHULUAN

Kopi merupakan produk tanaman perkebunan yang dibutuhkan oleh masyarakat seluruh dunia, Komoditas ini merupakan komoditas yang tetap bertahan di pasaran global dikarenakan daerah adaptasinya yang terbatas namun dibutuhkan oleh semua orang. Kopi yang mempunyai aroma dan rasa yang khas dikenal dengan nama kopi arabika, sehingga kopi ini mempunyai harga yang relatif tinggi.

Kopi dibudidayakan pertama sekali di Indonesia pada zaman Belanda adalah kopi arabika kemudian barulah masuk jenis-jenis kopi lainnya. Tanaman kopi agar dapat berkembang baik harus ditanam pada ketinggian 500-1700 m dpl dengan curah hujan 2000-3000 mm/tahun. Tanaman ini tidak menyukai penyinaran langsung dan pH tanah yang sesuai untuk kopi berkisar antara 5-6,5 (Najiati dan Danati, 2004). Sebagian besar kopi arabika Gayo ditanam pada ketinggian 1000-1400m dpl (Elianti, Karim, dan Basri 2012). Di daerah seperti ini, kopi dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik. Namun demikian, untuk menghasilkan benih diperlukan per-syaratan lainnya, yaitu benih harus mempunyai potensi genetik yang baik dan dipanen tepat waktu agar memiliki kualitas fisiologis benih yang baik.

Kualitas fisiologis benih ditunjukkan oleh viabilitas dan vigor. Viabilitas adalah kemampuan tumbuh benih pada kondisi optimum. Viabilitas dapat dibagi menjadi viabilitas total, viabilitas potensial dan vigor. Viabilitas total adalah kemampuan benih untuk hidup, sedangkan viabilitas potensial adalah kemampuan benih berkecambah dan tumbuh normal pada kondisi optimum untuk menjadi tanaman yang berproduksi normal. Sedangkan vigor merupakan kemampuan tumbuh benih pada kondisi sub optimum yang dibagi ke dalam dua jenis yaitu vigor daya simpan dan vigor kekuatan tumbuh. Vigor daya simpan yaitu kemampuan benih untuk bisa disimpan lama sedangkan vigor kekuatan tumbuh adalah kemampuan tanaman untuk berproduksi normal (Sadjad, 1993).

Viabillitas dan vigor benih dipengaruhi oleh tingkat kematangan benih. Menurut Mayer dan Myber (1975), kematangan benih mem-pengaruhi daya berkecambah dan kecepatan tumbuh. Benih yang dipanen sebelum masak fisiologis belum memiliki cadangan makanan yang cukup dan embrionya belum sempurna. Hal ini akan mempengaruhi viabilitas benih (Sutopo 2002). Benih yang dipanen saat buah masak fisiologis memiliki kualitas terbaik untuk dijadikan benih (Sadjad 1972).

Perubahan warna buah dapat dipakai untuk menunjukkan tingkat kemasakan benih (Kartasapoetra 1994). Menurut Pranowa dan Saefudin 2007 warna buah saat panen berpengaruh terhadap viabilitas benih. selain warna buah ukuran benih juga mempengaruhi viabilitas benih karena secara umum benih yang lebih besar mempunyai cadangan makan yang lebih banyak.

Menurut Yuniati, Suita dan Kurniati (2004), benih yang besar menghasilkan bibit yang cepat pertumbuhannya dibandingkan yang kecil. Hal ini dikarenakan benih yang besar mempunyai cadangan makanan yang lebih banyak sehingga akan menghasilkan bibit yang lebih besar.

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui apakah warna buah dan ukuran benih berpengaruh terhadap viabilitas benih kopi arabika varietas Gayo 1. Viabilitas benih yang tinggi dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan penanaman kopi di lapangan. Benih dengan viabilitas tinggi diharapkan dapat tumbuh dan berproduksi optimal.

PENGGUNAAN BERBAGAI JENIS BAHAN AMELIORAN TERHADAP SIFAT KIMIA BAHAN TANAH GAMBUT HEMIK

Application of Ameliorants on Chemical Properties of Hemic Peat Soil

Zuraida

ABSTRACT

The study was aimed at determining kinds of ameliorants that increase fertility on Hemic Peats Soil. The experiment was arranged in a completely randomized design (CRD) with 6 treatments and 4 replications. The result showed that the ameliorants increased pH (H2O), exchangeable cations (K, Na, Ca, Mg) and base saturation. Sawdust had the highest ability to increase base saturation, K, and Na. Lime had the highest ability to increase pH (H2O), Ca, and Mg. Sawdust increased fertility hemic peats soil better than lime.

Keywords: Ameliorants, chemistry properties, Hemic, Peat Soil, exchangeable cation, base saturation

 

 

PENDAHULUAN

Usaha ekstensifikasi dihadapkan pada semakin berkurangnya lahan-lahan produktif. Proyeksi kebutuhan lahan sampai tahun 2020 akan mencapai lebih kurang 70.88 juta ha dibandingkan dengan kebutuhan lahan pada tahun 1990 yaitu seluas 37.0 juta ha (Lopulisa dan Siddieq, 1998). Permintaan lahan yang sangat besar di masa mendatang akan menyebabkan meningkatnya penggunaan lahan marginal termasuk tanah gambut.

Tanah gambut adalah tanah yang mengandung minimal 30 % bahan organik dengan ketebalan kumulatif 40 cm atau lebih (Soil Survey Staff, 1998). Penyebaran tanah gambut di Indonesia cukup luas, terutama di jumpai di sepanjang pantai Timur Sumatera, pantai Selatan dan Barat Kalimantan dan pantai Selatan Irian Jaya, sebagian besar masih merupakan hutan dan hanya sebagian kecil yang sudah diusahakan menjadi lahan pertanian atau perkebunan..

Di Indonesia tanah gambut merupakan jenis tanah terluas kedua setelah Podsolik dan Indonesia menempati urutan ke-empat yang memiliki lahan gambut terluas di dunia setelah Kanada dan Amerika Serikat (Radjagukguk dan Setiadi, 1997). Keberhasilan pemanfaatan gambut untuk usaha budidaya masih jauh dari yang diharapkan, karena ada kendala yang berasal dari sifat-sifat gambut bawaan (inherent properties) serta paket teknologi reklamasi yang diterapkan belum memadai.

Pada kondisi alami, tanaman pertanian umumnya sulit tumbuh di tanah gambut disebabkan faktor penghambat yang dimiliki tanah gambut begitu kompleks mencakup kesuburan kimia, fisik dan biologi yang kurang menguntungkan. Ditinjau dari sifat fisikokimia tanah, masalah yang paling umum dijumpai antara lain disebabkan pH rendah, kejenuhan basa rendah, KTK tinggi, rasio C/N tinggi, serta ketersediaan unsur hara makro dan mikro rendah. Faktor-faktor penghambat lainnya seperti keberadaan asam organik yang bersifat toksik, drainase yang buruk tidak menunjang terciptanya laju penyediaan hara yang cukup bagi tanaman. Dengan demikian usaha ekstensifikasi pertanian pada tanah gambut menghadapi berbagai kendala.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan produktivitas tanah gambut Indonesia diantaranya dengan penggunaan tanah mineral (Salampak, 1999), serbuk gergaji, terak baja, kapur dan pupuk (Hartatik, Suriadikarta, dan Widjaja Adhi, 1995), kation polivalen (Rachim, 1995), abu volkan (Setiadi, 1997; Zuraida, 1999), dan lumpur laut (Nurhayati, 2008). Penggunaan beberapa bahan amelioran tersebut telah dicobakan untuk meningkatkan ketersediaan hara dan hasil tanaman serta telah diaplikasikan pada lahan gambut di Sumatera Selatan dan Kalimantan.

Oleh karena itu perlu kiranya dilakukan penelitian penggunaan beberapa bahan amelioran tersebut pada bahan tanah gambut hemik Aceh Jaya sehingga dapat diketahui seberapa besar pengaruhnya terhadap perbaikan tanah gambut Aceh Jaya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai jenis bahan amelioran terhadap beberapa sifat kimia bahan tanah gambut hemik.

PERKEMBANGAN SPODOPTERA LITURA F. (LEPIDOPTERA: NOCTUIDAE) PADA KEDELAI

Portrayals of Spodoptera litura F. (Lepidoptera: Noctuidae) In Soybean

Hendrival, Latifah, dan Rega Hayu

 

ABSTRACT

A research on behavior of pest S. litura on two varieties of soybean has been done in Blang Manyak Village, Sawang Sub district, North Aceh District from January–May 2013. The research was arranged in a field experiment with two treatments of soybean varieties, that is Kipas Merah and Anjasmoro. Each treatment was repeated 20 times to obtain 40 units of the experiment. Variables measured included damage intensity of S. litura, trichome density of leaves, yield components, and resistance evaluation. The relationships between yield components and damage intensity of S. litura were analyzed with regression and correlation. The results showed that damage intensity of S. litura on Kipas Merah was lower than that on Anjasmoro. Loss of soybean yield components on both varieties was influenced by the damage intensity of S. litura. There was a negative correlation between damage intensity of S. litura and soybean yield components on both varieties. Kipas Merah was moderately resistant and Anjasmoro was susceptible against S. litura. Resistance differences of both varieties were influenced by trichomes density of the leaves.

Keywords: S. litura, Kipas Merah, Anjasmoro, trichomes

 

PENDAHULUAN

Salah satu ancaman dalam upaya peningkatan produksi kedelai di Indonesia adalah gangguan hama (Marwoto, 2007; Marwoto & Suharsono, 2008). Hama-hama tanaman kedelai dikelompokkan menjadi hama tanaman muda, hama perusak daun, dan hama perusak polong (Marwoto & Hardaningsih, 2007). Hama perusak daun meliputi kutu kebul (Bemisia tabaci), kutu daun (Aphis glycines), tungau merah (Tetranychus cinnabarinus), wereng hijau kedelai (Empoasca spp.), ulat grayak (Spodoptera litura), ulat jengkal (Chrysodeizis chalcites), ulat penggulung daun (Omiodes indicata), dan kumbang kedelai (Phaedonia inclusa) (Marwoto & Hardaningsih, 2007; Marwoto & Suharsono, 2008). Kerusakan daun akibat serangan hama pada prinsipnya dapat mengganggu proses fotosintesis (Arifin, 1992).

Spodoptera litura merupakan salah satu jenis hama penting yang merusak daun kedelai dibandingkan dengan hama perusak daun lainnya (Adie et al., 2012). Kehilangan hasil akibat serangan hama S. litura dapat mencapai 80%, bahkan puso jika tidak dikendalikan (Marwoto & Suharsono, 2008). Tingkat kehilangan hasil tergantung pada varietas yang digunakan, fase pertumbuhan, dan waktu serangan (Adie et al., 2012). S. litura dikenal sebagai hama bersifat polifag dan serangga migrasi yang menimbulkan kerusakan serius pada pertanaman kedelai (Djuwarso et al., 1986). Kehadiran hama S. litura di pertanaman kedelai sangat membahayakan, karena dapat menyerang tanaman pada berbagai fase pertumbuhan seperti fase vegetatif (11–30 HST), fase pembungaan dan awal pengisian polong (31–50 HST), dan fase pertumbuhan dan perkembangan polong serta pengisian biji (51–70 HST) (Tengkano & Soehardjan, 1985).

Untuk mengantisipasi ancaman serangan hama S. litura pada tanaman kedelai diperlukan informasi seperti perkembangan populasi hama dan tingkat kerusakan tanaman yang terserang (Marwoto & Suharsono, 2008). Perkembangan hama sangat dipengaruhi oleh iklim, sistem budidaya, varietas, stadium pertumbuhan, topografi, musuh alami, dan faktor genetis hama (Oka, 2005; Untung, 2006). Beberapa karakter tanaman seperti rambut (trikoma), rambut berkelenjar (glandular trichome), bulu, duri, lapisan selulosa, lapisan lilin, dan lapisan kulit yang tebal dapat berfungsi sebagai faktor pertahanan tanaman terhadap serangan hama (Smith, 1989). Berdasarkan efek yang dapat dilihat, Kogan & Ortman (1978) mengelompokkan sistem ketahanan tanaman terhadap serangga herbivora menjadi tiga, yaitu antisenosis, antibiosis, dan toleran. Penelitian perkembangan hama S. litura perlu terus dilakukan mengingat perkembangan populasi hama yang bersifat dinamis. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perkembangan hama S. litura pada kedelai.

PENGARUH JUMLAH RUAS SETEK DAN DOSIS UREA TERHADAP PERTUMBUHAN SETEK PUCUK NILAM (Pogostemon cablin Benth.)

Effects of Cutting Internode Numbers and Urea Dosages on Bud Cutting Growth of Pogostemon

Erida Nurahmi, Kamarlis Karim, dan Tarmizi

 

ABSTRACT

The objectives of this research were to study effects of cutting internode numbers and urea dosages, and interaction between them on pogostemon bud cutting growth. This research was done at Kajhu Village, Baitussalam Sub District, Aceh Besar District, Aceh Province, from February 15th to April 15th 2011. Experiment was arranged according to Factorial Randomized Complete Block Design 3 x 3, with 3 replicates. Each of replications was consisted of 3 plants, resulting 81 experimental units. The first factor was cutting internode numbers, consisted of 3 levels, i.e. 2, 3 and 4 internodes. The second factor was urea dosage, also consisted of 3 levels, i.e. 1, 2 and 3 g urea/cutting. All cuttings were planted in polybags; one cutting per polybag, filled with 5 kg of soil, with one internode was inserted into the soil. The result showed that there were highly significant interactions between cutting internode numbers and urea dosages on pogostemon cutting leaves and bud numbers at 60 days after planting, which means that cuttings with different internode numbers responded differently to urea dosage increases. The best one was cutting with 4 internode numbers and the best urea dosage was 2 g/cutting. The best combination was cutting with 2 internodes and 2 g urea/cutting.

Keywords: pogostemon, cutting internode number, urea dosage, bud cutting

 

PENDAHULUAN

Nilam (Pogostemon cablin Benth) atau sering disebut Pogostemon patchouly, merupakan tanaman yang banyak ditanam untuk diambil minyaknya. Indonesia merupakan penghasil minyak nilam terbesar di dunia yang tiap tahun memasok sekitar 75% kebutuhan dunia. Dari jumlah itu, 60% diproduksi di Provinsi Aceh dan sisanya berasal dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Jawa Tengah (Sumangat dan Risfaheri, 1998).

Minyak nilam adalah salah satu dari beberapa jenis minyak atsiri yang antara lain digunakan sebagai bahan baku kosmetik, parfum, antiseptik, sabun, obat dan insektisida (Rukmana, 2004). Dengan berkembangnya industri parfum di dalam dan di luar negeri, kegunaan tanaman nilam menjadi berkembang. Di samping sebagai bahan pewangi, minyak nilam juga digunakan sebagai pengikat bahan pewangi lain, sehingga aroma parfum tersebut dapat bertahan lama (Tasma, 1998 dalam Mardani, 2005).

Minyak nilam diperoleh dari hasil penyulingan daun, batang dan tunas tanaman nilam. Kadar minyak tertinggi terdapat pada daun dengan kandungan utamanya adalah patchouly alcohol yang berkisar antara 30-50 %. Aromanya segar dan khas mempunyai daya fiksasi yang kuat, sulit digantikan oleh bahan sintetis (Rusli, 1991). Sampai saat ini belum ditemukan bahan sintetis atau bahan pengganti yang dapat menyamai manfaat minyak nilam ini. Oleh sebab itu, kondisi dan potensi minyak nilam tersebut merupakan basic power (Mangun, 2005).

Tanaman nilam mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan, dan dimantapkan perannya sebagai salah satu komoditi penghasil devisa negara dan sumber pendapatan bagi petani. Masalah yang dihadapi dalam budidaya nilam saat ini antara lain masih rendahnya produktivitas yaitu sekitar 2 ton daun kering/hektar/tahun, dan kualitas minyak nilam yang masih sangat beragam, sementara budidaya tanaman nilam yang baik produktivitasnya dapat mencapai sekitar 4 ton daun kering/hektar/tahun (Syakir dan Moko, 1988).

Sehubungan dengan masih rendahnya produktivitas perlu dilakukan upaya ke arah peningkatan produksi dengan cara perluasan areal dan peremajaan. Budidaya nilam secara intensif dalam skala luas akan menambah jumlah produksi yang dihasilkan. Dalam perluasan per-kebunan ini dibutuhkan bahan tanam (bibit) dalam jumlah yang banyak (Wahid, Wikardi dan Asma, 1990).

Tanaman nilam umumnya diperbanyak dengan setek. Setek merupakan cara perbanyakan tanaman secara vegetatif buatan dengan menggunakan sebagian batang, cabang, akar, atau daun tanaman untuk ditumbuhkan menjadi tanaman baru. Keuntungan perbanyakan dengan setek adalah tanaman baru yang diperoleh mempunyai sifat yang sama dengan induknya, umur seragam, dan waktu perbanyakan lebih singkat untuk memperoleh tanaman dalam jumlah banyak (Wudianto 1998).

Menurut Kantarli (1993, dalam Danu dan Nurhasybi, 2003), faktor yang mempengaruhi keberhasilan setek berakar dan tumbuh baik adalah bahan seteknya dan perlakuan terhadap bahan setek di pembibitan. Hal yang perlu diperhatikan terkait bahan setek adalah jumlah ruas yang digunakan, yaitu 2 ruas atau lebih (Mardani, 2005). Melalui jumlah ruas yang tepat diharapkan akan diperoleh pertumbuhan bibit setek yang maksimum.

Hal yang perlu diperhatikan terkait perlakuan terhadap bahan setek di pembibitan adalah pemupukan, terutama dosis urea. Pupuk urea adalah pupuk yang mengandung unsur Nitrogen sebanyak 45% yang berperan dalam pembentukan dan pertumbuhan bagian-bagian vegetatif tanaman seperti pembentukan klorofil, membentuk lemak, protein dan memacu pertumbuhan daun, batang dan akar (Marsono, 2005). Menurut Rukmana (2004), pemberian pupuk urea dengan dosis 250 kg/ha, 280 kg/ha dan 560 kg/ha dapat berpengaruh baik terhadap pertumbuhan nilam, namun belum didapatkan hasil yang maksimum. Melalui pemupukan dengan dosis urea yang tepat diharapkan akan diperoleh hasil setek yang baik.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah ruas setek dan dosis pupuk urea, serta interaksi antara keduanya terhadap pertumbuhan setek nilam.

PENGGUNAAN POLYETHYLENE GLYCOLE SEBAGAI MEDIA SIMULASI CEKAMAN KEKERINGAN TERHADAP VIABILITAS DAN VIGOR BEBERAPA VARIETAS BENIH KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) PADA STADIA PERKECAMBAHAN

The Use of Polyethylene Glycole as Simulating Media of Drought Stress on Viability and Vigor of Seeds of Some Varieties of Peanut (Arachis hypogaea L.) on Germination Stadia

Halimursyadah, Agam Ihsan Hereri, dan Aira Hafnizar

ABSTRACT

This study was aimed at determining peanut varieties that are tolerant to drought stress and assessing the effectiveness of the use of PEG 4000 as a media simulation to drought stress. Experiment was arranged in a Completely Randomized Design (CRD) factorial 4 x 4, repeated three times. First factor was variety, consisted of four levels, namely Tuban, Bima, Bison and Local Aceh. Second factor was PEG concentration, consisted of 4 levels, namely control, 3.5%, 11.6%, and 18.1%. Variables measured were maximum growth potential, germination rate, relative growth rate, vigor index, germination value, root length, hypocotyl length, and seedling dry weight. The results showed that varieties exerted significant effects on maximum growth potential, germination rate, relative growth rate, root length, and hypocotyl length. PEG concentration exerted significant effects on maximum growth potential, germination rate, growth velocity, relative vigor index, germination value, root length, hypocotyl length, and seedling dry weight. There were interactions between varieties and PEG concentration on relative growth rate, root length, and hypocotyl length of groundnut seeds. Local variety of Aceh was recommended as a tolerant variety to drought stress. Bison was not tolerant to drought stress. Bima was recommended as a moderate tolerant variety to drought, while Tuban was a tolerant variety to drought.

Keyword: Arachis hypogaea L., Peanut, Polyethylene Glycole, Varieties, Viability

PENDAHULUAN

Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan palawija terpenting kedua setelah kedelai dan merupakan tanaman penting bagi petani di Indonesia. Permintaan terhadap produk kacang tanah terus meningkat tiap tahunnya. Peningkatan kebutuhan kacang tanah nasional berkaitan erat dengan meningkatnya industri pangan dan pakan (Junaedi dan Wahyu, 2011).

Menurut BPS (2010), produktivitas kacang tanah di Indonesia hanya sekitar 1,3 ton ha-1. Hasil ini tergolong rendah karena potensi hasil kacang tanah bisa mencapai 2,1 ton ha-1. Rendahnya produktivitas ini dikarenakan penanaman varietas kacang tanah yang berdaya hasil rendah, serangan hama dan penyakit, atau akibat kondisi cekaman lingkungan terutama kekeringan (Riduan et al., 2005). Penggunaan varietas kacang tanah yang toleran terhadap cekaman kekeringan diharapkan dapat mengurangi penurunan hasil.

Metode alternatif yang sering digunakan untuk seleksi tanaman terhadap cekaman kekeringan adalah dengan penggunaan larutan Polyethylene glycole (PEG). Polyethylene glycole ini mampu menahan air sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman (Michel and Kaufmann, 1973). Polyethylene glycole ini larut dalam air, tidak toksik, dan tidak mudah diserap oleh tanaman (Adisyahputra et al., 2002).

Cekaman kekeringan dapat diberikan secara homogen terhadap populasi tanaman yang diseleksi dengan menggunakan PEG, sehingga PEG diduga dapat secara efektif menilai respons kacang tanah terhadap cekaman kekeringan (Adisyahputra et al., 2002).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui varietas kacang tanah yang toleran terhadap cekaman kekeringan, serta untuk melihat keefektifan dari penggunaan PEG 4000 sebagai media simulasi terhadap cekaman kekeringan.

PENGGUNAAN POLYETHYLENE GLYCOLE SEBAGAI MEDIA SIMULASI CEKAMAN KEKERINGAN TERHADAP VIABILITAS DAN VIGOR BEBERAPA VARIETAS BENIH KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) PADA STADIA PERKECAMBAHAN

The Use of Polyethylene Glycole as Simulating Media of Drought Stress on Viability and Vigor of Seeds of Some Varieties of Peanut (Arachis hypogaea L.) on Germination Stadia

Halimursyadah, Agam Ihsan Hereri, dan Aira Hafnizar

ABSTRACT

This study was aimed at determining peanut varieties that are tolerant to drought stress and assessing the effectiveness of the use of PEG 4000 as a media simulation to drought stress. Experiment was arranged in a Completely Randomized Design (CRD) factorial 4 x 4, repeated three times. First factor was variety, consisted of four levels, namely Tuban, Bima, Bison and Local Aceh. Second factor was PEG concentration, consisted of 4 levels, namely control, 3.5%, 11.6%, and 18.1%. Variables measured were maximum growth potential, germination rate, relative growth rate, vigor index, germination value, root length, hypocotyl length, and seedling dry weight. The results showed that varieties exerted significant effects on maximum growth potential, germination rate, relative growth rate, root length, and hypocotyl length. PEG concentration exerted significant effects on maximum growth potential, germination rate, growth velocity, relative vigor index, germination value, root length, hypocotyl length, and seedling dry weight. There were interactions between varieties and PEG concentration on relative growth rate, root length, and hypocotyl length of groundnut seeds. Local variety of Aceh was recommended as a tolerant variety to drought stress. Bison was not tolerant to drought stress. Bima was recommended as a moderate tolerant variety to drought, while Tuban was a tolerant variety to drought.

Keyword: Arachis hypogaea L., Peanut, Polyethylene Glycole, Varieties, Viability

PENDAHULUAN

Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan palawija terpenting kedua setelah kedelai dan merupakan tanaman penting bagi petani di Indonesia. Permintaan terhadap produk kacang tanah terus meningkat tiap tahunnya. Peningkatan kebutuhan kacang tanah nasional berkaitan erat dengan meningkatnya industri pangan dan pakan (Junaedi dan Wahyu, 2011).

Menurut BPS (2010), produktivitas kacang tanah di Indonesia hanya sekitar 1,3 ton ha-1. Hasil ini tergolong rendah karena potensi hasil kacang tanah bisa mencapai 2,1 ton ha-1. Rendahnya produktivitas ini dikarenakan penanaman varietas kacang tanah yang berdaya hasil rendah, serangan hama dan penyakit, atau akibat kondisi cekaman lingkungan terutama kekeringan (Riduan et al., 2005). Penggunaan varietas kacang tanah yang toleran terhadap cekaman kekeringan diharapkan dapat mengurangi penurunan hasil.

Metode alternatif yang sering digunakan untuk seleksi tanaman terhadap cekaman kekeringan adalah dengan penggunaan larutan Polyethylene glycole (PEG). Polyethylene glycole ini mampu menahan air sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman (Michel and Kaufmann, 1973). Polyethylene glycole ini larut dalam air, tidak toksik, dan tidak mudah diserap oleh tanaman (Adisyahputra et al., 2002).

Cekaman kekeringan dapat diberikan secara homogen terhadap populasi tanaman yang diseleksi dengan menggunakan PEG, sehingga PEG diduga dapat secara efektif menilai respons kacang tanah terhadap cekaman kekeringan (Adisyahputra et al., 2002).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui varietas kacang tanah yang toleran terhadap cekaman kekeringan, serta untuk melihat keefektifan dari penggunaan PEG 4000 sebagai media simulasi terhadap cekaman kekeringan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.