PENGARUH KOMPOSISI MEDIA TANAM DAN KONSENTRASI PUPUK DAUN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SELADA (Lactuca sativa L.)

Effects of Growth Media Composition and Foliar Fertilizer Concentration on Growth and Yield of Lettuce (Lactuca sativa L.)

Endra Syahputra, Marai Rahmawati, dan Said Imran

Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala,

Banda Aceh, Indonesia. email: mr_wati@yahoo.com

 

ABSTRACT

This study was aimed at determining the appropriate growing medium composition and foliar fertilizer concentration and their interaction on growth and yield of lettuce. The experiment was arranged in a randomized complete block design (RCBD), consisting of two factors, i.e. the growing media composition and foliar fertilizer concentration. The first factor consisted of the composition of the soil and manure by volume ratio (3:1, 3:2, and 3:3) and the second factor consisted of foliar fertilizer concentrations (0, 2, 4 mL/L of water ). The results showed that the growing media composition soil+manure (3:3) was the best in increasing crop height, leaves number, leaf length, leaf width and yield at 35 day after planting, while the best concentration for those parameters was 4 mL/L of water. Based on the interaction, the best leaf number of lettuce was found at growing media composition soil+manure (3:3) with the concentration of foliar fertilizer 4 mL/L of water.

Keywords: lettuce, growing medium, foliar fertilizer, manure

PENDAHULUAN

Permintaan sayuran di Indonesia semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan gizi dan pola makan yang seimbang. Di masa mendatang sangat memungkinkan selada dapat menjadi komoditas komersial mengingat permintaan selada terus meningkat sejalan banyaknya restoran, hotel serta tempat yang menyediakan jenis masakan tradisional dan asing. Menurut Sunarjono (2007), di Indonesia selada belum berkembang pesat sebagai sayuran komersial karena daerah yang banyak ditanami selada masih terbatas di pusat produsen sayuran seperti Cipanas, Pengalengan, dan Lembang di Jawa Barat.

Tanaman selada bukan merupakan sayuran asli Indonesia. Selada berasal dari Asia Barat yang kemudian menyebar di Asia dan negara-negara beriklim sedang dan panas. Beberapa negara telah mengembangkan dan membuat varietas unggul tanaman selada di antaranya Jepang, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat dan Belanda (Rukmana, 1994).

Tanaman selada umumnya dimakan mentah ataupun disajikan sebagai penghias hidangan. Daunnya mengandung vitamin A, B, dan C yang berguna untuk kesehatan tubuh (Sunarjono, 2007). Menurut Harjono (2001), tanaman selada memiliki fungsi sebagai zat pembangun tubuh, dengan kandungan zat gizi dan vitamin yang cukup banyak dan baik untuk kesehatan masyarakat.

Tanaman selada di Indonesia ditanam mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi, dengan mempertimbangkan pemilihan varietas yang cocok dengan lingkungan tempat tumbuhnya (Rukmana, 1994). Varietas tanaman selada yang dapat tumbuh di dataran rendah lebih sedikit dibandingkan varietas yang cocok ditanam di dataran tinggi. Varietas yang tahan terhadap suhu panas di antaranya Kaiser, Ballade, Sunshine dan Gemini. Untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman selada yang tumbuh di dataran rendah, diperlukan media tanam yang tepat serta ketersediaan unsur hara yang cukup.

Menurut Agoes (1994), media tanam berfungsi sebagai tempat melekatnya akar, juga sebagai penyedia hara bagi tanaman. Campuran beberapa bahan untuk media tanam harus menghasilkan struktur yang sesuai karena setiap jenis media mempunyai pengaruh yang berbeda bagi tanaman. Sejalan dengan pendapat Suteja dan Kartasapoetra (1992) bahwa media tanam dapat diperbaiki dengan pemberian bahan organik seperti kompos, pupuk kandang atau bahan organik lain.

Tanah yang berstruktur remah sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman, karena di dalamnya mengandung bahan organik yang merupakan sumber ketersediaan hara bagi tanaman (Dwidjoseputro, 1998). Kadar humus dapat ditingkatkan dengan menambahkan bahan organik yang berasal dari pupuk kandang untuk mendorong populasi mikrobia di dalam tanah menjadi jauh lebih banyak dibandingkan jika yang diberikan pupuk kimia buatan (Lingga, 1998 dan Sunanto, 2002). Sementara itu pupuk kandang mengandung hara yang lebih sedikit dibandingkan dengan pupuk kimia buatan, akan tetapi memiliki kelebihan dapat mempertinggi humus, memperbaiki struktur tanah dan mendorong populasi mikroba di dalam tanah. Selain media tanam yang baik, pemupukan juga perlu dilakukan untuk meningkatkan kesediaan hara bagi tanaman.

Pemupukan dapat dilakukan baik melalui tanah maupun daun. Pemupukan melalui tanah sering mengakibatkan unsur hara yang diberikan melalui tanah sering terfiksasi, tercuci dan adanya interaksi dengan tanah, sehingga unsur hara tersebut relatif sedikit tersedia bagi tanaman (Nyakpa dan Hasinah, 1985). Sedangkan pemberian pupuk melalui daun memberikan pengaruh yang cepat terhadap pertumbuhan tanaman, penghematan pemakaian pupuk dan tidak menimbulkan kerusakan pada tanah jika aplikasinya dilakukan dengan baik (Novizan, 2005).

Pupuk daun yang digunakan dalam penelitian ini berupa pupuk daun Groprint yaitu pupuk daun anorganik yang pengaplikasiannya melalui penyemprotan ke daun. Pupuk ini mengandung unsur hara makro N (4,7%), P (0,95%), K (8,05%) dan unsur hara mikro lainnya. Konsentrasi pupuk daun Groprint dapat membantu menyuburkan daun, mencegah daun berkerut dan meningkatkan hasil panen. Pupuk daun juga dapat memulihkan keadaan tanaman yang tidak sehat karena kekurangan unsur hara.

Oleh karena itu, untuk mengetahui komposisi media tanam yang sesuai dan konsentrasi pupuk daun Groprint yang tepat serta interaksi antara kedua faktor tersebut terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada, maka perlu dilakukan penelitian ini untuk memecahkan permasalahan di atas.

PERANAN BERBAGAI JENIS BAHAN PEMBENAH TANAH TERHADAP STATUS HARA P DAN PERKEMBANGAN AKAR KEDELAI PADA TANAH GAMBUT ASAL AJAMU SUMATERA UTARA

Role of Various Ameliorans on P Nutrient and  Soybean Root Development in Peat Soil of Ajamu North Sumatera

Nurhayati, Razali, dan Zuraida

Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala,

Banda Aceh, Indonesia. email: nhayati87@yahoo.co.id

 

ABSTRACT

The purpose of this research was to evaluate the influence of some types of soil ameliorans (lime, sea mud and some types of soil microorganisms) on P nutrient and soybean root development in peat soil. The experiment was carried out in the Greenhouse of Agriculture Faculty of USU, Soil Biology Laboratory, Central Laboratory of Agriculture Faculty of USU and Laboratory of Soil analysis at RISPA, from March to November 2011. The experiment was arranged in a completely randomized design, consisted of 13 treatments and two replicates. The treatments included control, dolomite lime, sea mud, lime + sea mud, Bradyrhizobium, mos, Mycorrhizal isolate of peat soil, mycorrhizal isolate of mineral soil, Bradyrhizobium + mos, mos + mycorrhizal isolate of peat soil isolates, mos + mineral soil mycorrhizal isolate, Bradyrhizobium + mos + mycorrhizal isolate of peat soil, Bradyrhizobium + mos + mycorrhizal isolate of mineral soil. Variables observed included soil pH, soil P available, plant P uptake, and weight of root dry. Types of amelioran exerted significant effect on soil pH, but did not exert significant effects on soil P available, plant P uptake, and weight of dry root.

Keywords: peat soil, soil amelioran, soil microorganism, P nutrient

 

PENDAHULUAN

Menurut Noor (2001), secara kimiawi, sifat tanah gambut yang utama adalah kemasaman tanah, ketersediaan hara tanah, kapasitas tukar kation, kejenuhan basa, kadar asam organik tanah, kadar pirit atau sulfur.

Tanah gambut di Indonesia mempunyai pH berkisar antara 2,8 – 4,5 dan kemasaman potensial mencapai >5 cmol/kg, ketersediaan unsur-unsur makro N, P, K, serta jumlah unsur mikro pada umumnya juga rendah. Namun dibandingkan dengan tanah mineral tanah gambut mempunyai kapasitas fiksasi P sangat rendah, karena itu ketersediaan P pada tanah gambut umumnya lebih baik daripada tanah mineral. Kapasitas tukar kation (KTK) tanah gambut cukup tinggi apabila dihitung berdasarkan berat bahan kering mutlak 115-270 cmol/kg, kejenuhan basa (KB) tanah gambut umumnya rendah pada kisaran 5,4-13 % dengan rasio C/N tinggi yaitu 24-33,4 (Suhardjo dan Widjhaya-Adhi, 1976).

Tanah gambut mengandung bahan organik yang tinggi tetapi sangat bertolak belakang dengan kandungan unsur hara tanahnya. Hal ini disebabkan proses dekomposisi bahan organik belum sempurna, sehingga status hara tanah gambut sangat miskin. Di samping itu bentuk hara P pada tanah gambut didominasi bentuk P organik yang disebut fosfolipida. Fosfolipida tidak dapat dimanfaatkan langsung oleh tanaman, oleh karena itu mikoriza sangat berperan untuk menghidrolisis fosfolipida dan kemudian menghasilkan enzim fosfatase yang dapat mengubah senyawa fosfor menjadi tersedia bagi tanaman. Menurut Sutanto (2002), mikoriza dapat menghemat pupuk fosfat sekitar 20% sampai 30%.

Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh beberapa jenis bahan pembenah tanah (kapur, lumpur laut, dan beberapa jenis mikroorganisme tanah) terhadap status hara P dan perkembangan akar kedelai pada tanah gambut.

PENGARUH PEMBERIAN HARA FOSFOR TERHADAP STATUS HARA FOSFOR JARINGAN, PRODUKSI DAN KUALITAS BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.)

Effects of Phosphorous Fertilization on Phosphorous Tissue, Yield, and Quality of Mangosteen Fruit (Garcinia mangostana L.)

Safrizal

Staf Pengajar Fakultas Pertanian UNIMAL

Jl. Cot Tgk.Nie Reulet, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara,

Provinsi Aceh.Telp 0645-41373. Email: safrizalsarong@yahoo.com

 

ABSTRACT

The objectives of this research were to determine phosphorous nutrient tissue, yield, and quality of mangosteen in diverse of phosphorous doses. The experiment was arranged in a randomized complete block design. Phosphorous doses evaluated were 0, 300, 600, 900, and 1200 g P/plant. The result showed that phosphorous fertilization increased of concentration mangosteen phosphorous tissue and yield per plant. However, phosphorous did not increase growth and fruits quality of mangosteen.

Keywords: phosphorous doses, yield, quality, mangosteen

 

PENDAHULUAN

Manggis mendapat julukan “Queen of tropical fruits” merupakan buah segar terbanyak diekspor Indonesia, sehingga termasuk komoditas ekspor unggulan dalam beberapa tahun terakhir. Ekspor manggis Indonesia hingga 2009 cenderung meningkat dan mencapai 6.012 ton dengan nilai US $ 5.885.038 atau sekitar 44% dari total ekspor buah-buahan Indonesia (BPS 2010). Meningkatnya volume ekspor menuntut upaya peningkatan pengembangannya karena masih rendahnya kuantitas maupun kontinuitas produksi (Poerwanto, 2003).

Produksi manggis yang diperdagangkan saat ini umumnya berkualitas rendah karena berasal dari hutan manggis atau pekarangan yang belum tersentuh teknik budidaya. Di sisi lain, untuk keberhasilan produksi dan kualitas yang baik, diperlukan teknik budidaya yang baik dan input produksi memadai. Salah satunya pemupukan khususnya fosfor.

Fosfor merupakan salah satu dari tiga unsur hara makro paling penting bersama nitrogen dan kalium bagi tanaman manggis. Fosfat tidak direduksi dalam tanaman seperti halnya nitrat dan sulfat, melainkan tetap dalam bentuk teroksidasi. Fosfor setelah diserap pada pH fisiologis sebagai H2PO4-, tidak saja tetap sebagai P-anorganik namun juga diesterifikasi melalui grup hidroksil ke rantai C (C-O-P) yang merupakan bentuk sederhana P-ester (Sugar P), ataupun terikat dengan P lainnya dengan ikatan pirofosfat membentuk senyawa kaya energi (ATP). Konversi orthofosfat menjadi bentuk organik terjadi dengan cepat dalam tanaman, di mana 80% dari P yang diserap diubah menjadi bentuk organik dalam waktu 10 menit, namun setelah itu dilepaskan kembali sebagai P anorganik dan masuk ke dalam xylem (Marschner, 1995).

Fosfor berperan penting dalam aktivitas fotosintesis, karena terkait dengan kandungan karbohidrat sebagai sumber energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Fotosintesis merupakan proses metabolisme utama yang mempengaruhi sistem metabolisme dan proses fisiologi lainnya yang berkaitan dengan penyediaan ATP dan kerangka karbon dalam lintasan respirasi, mengendalikan sistem transpor, sebagai penghantar signal bagi fungsi-fungsi akar yang juga berkaitan dengan zat pengatur tumbuh sitokinin pada saat pucuk terinduksi, metabolisme nitrogen dan beberapa pengaruh tidak langsung dalam proses fisiologis lainnya (Marschner, 1995).

Fosfor menyusun sekitar 0,1–1,0% bahan kering tanaman dan merupakan komponen kunci biomolekul seperti asam nukleat, fosfolipid, P-ester dan ATP. Peran lainnya dari fosfor sangat penting karena tanaman tidak akan tumbuh dengan baik tanpa ketersediaan fosfor yang cukup (Dobermann dan Fairhurst, 2000).

Dalam jaringan tanaman, fosfat tidak pernah berkurang dan tetap tinggi dalam bentuk teroksidasi. Fosfor merupakan hara yang mudah diredistribusi dari organ satu ke organ lainnya, mudah hilang dari daun yang lebih tua dan terakumulasi ke daun yang muda (Salisburry dan Ross, 1992). Fungsi lainnya dari fosfor adalah sebagai konstituen struktur makromolekul yang sangat menonjol pada asam nukleat yaitu sebagai jembatan antara dua unit ribonukleosida dan juga konstituen senyawa pembentuk energi (ATP dan ADP).

Fosfor berperan dalam menambah daya tahan tanaman, merangsang pertumbuhan jaringan pada saat membentuk titik tumbuh, serta berperan penting dalam pemindahan energi antara ATP dan ADP, fosfor juga berperan dalam proses biologis, penyusun metabolik dan senyawa kompleks serta aktivator berbagai enzim (Taiz dan Zeiger, 2002).

Menurut Fukuara (1988), fosfor merupakan unsur hara tanaman yang dapat larut dalam tanah dan jumlahnya sedikit. Permukaan akar yang terbatas menyebabkan difusi fosfat lambat dan adanya fiksasi oleh mineral yang menyebabkan konsentrasi dalam larutan cepat berkurang. Pada pH tinggi fosfor difiksasi oleh Ca, sedangkan pada pH rendah difiksasi oleh Al dan Fe. Pengaruh pemupukan fosfor dapat ditingkatkan dengan memperbesar kemampuan akar tanaman dalam menyerap unsur hara.

Tanaman manggis sebagai tanaman tahunan agar dapat berproduksi maksimal setiap tahunnya, maka diperlukan pemupukan fosfor yang teratur. Acuan pemupukan pada tanaman manggis belum tersedia secara memadai untuk dijadikan landasan pemupukan fosfor. Oleh karena itu, perlu dilakukan serangkaian penelitian untuk mempelajari tingkat kebutuhan unsur hara, waktu pemberian dan dosis optimum fosfor yang selanjutnya dapat digunakan untuk menentukan rekomendasi pemupukan fosfor dalam budidaya tanaman manggis.

Artikel ini memaparkan hasil studi yang bertujuan mengetahui pengaruh dosis pemupukan fosfor terhadap status hara jaringan daun, produksi dan kualitas buah pada tanaman manggis dewasa dan telah berumur 12 tahun yang memasuki musim berbuah.

KEMAMPUAN BERTAHAN HIDUP TRICHODERMA HARZIANUM DAN TRICHODERMA VIRENS SETELAH DITUMBUHKAN BERSAMA DENGAN JAMUR PATOGEN TULAR TANAH SECARA IN VITRO

Survivability of Trichoderma harzianum and Trichoderma virens after

Cohabiting with Soil Born Pathogen Fungi

Rina Sriwati, T. Chamzurni, dan L. Kemalasari

Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala

Banda Aceh, Indonesia. Email: rin_aceh@yahoo.com

ABSTRACT

The experiment was conducted at the Laboratory of Plant Pathology Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University from February to June 2013. The purpose of study was to evaluate the survival of T. harzianum and T. virens after cohabiting with soil borne pathogenic fungi (Fusarium sp, Rhigidoporus sp, and Sclerotium sp) as well as the type of interaction. Trichoderma fungi and fungal pathogens were grown on PDA in vitro, and then observed their growth after being reisolated on 3 different growth zones. The results showed that T. harzianum and T. virens growing with Fusarium sp were capable to grow over the space. It was evident from the results of reinoculation on a petridish B (border zone) and C (zone Trichoderma) colonies, that T. harzianum and T. virens regrew, while the pathogens were not able to regrow. When cohabiting with Sclerotium sp and Rhigidoporus sp, antagonistic fungus regrew after reisolation but pathogens also grew on Petridis B (border zone). It indicates that on the contact area (petri dish B), Sclerotium sp and Rhigidoporus sp conduct defense over the competition. Regrowth of fungal pathogens on contact area (border) indicates that the fungus has a high level of competition. Antagonist agents such as T. virens and T. harzianum were able to survive and regrow after cohabiting with fungal pathogens and showed type A interaction (against Fusarium sp), while cohabiting with Sclerotium sp and Rhigidoporus sp showed the type B interaction.

Keywords: Trichoderma harzianum , Trichoderma virens, soil born pathogen, fungi

PENDAHULUAN

Patogen tular tanah hingga saat ini masih menjadi masalah serius yang harus dihadapi oleh petani. Keberadaan dan kemampuan bertahan hidupnya di dalam tanah menjadi salah satu penyebab sulitnya pengendalian terhadap patogen tular tanah. Berbagai cara pengendalian telah diterapkan, tetapi pengendalian secara kimia sintetik paling efektif, karena mampu mengendalikan patogen dengan cepat. Namun, pengendalian dengan menggunakan fungisida kimia sintetik dapat berdampak pada pencemaran lingkungan, punahnya musuh alami, timbulnya residu dalam tanaman dan sering kali gagal dalam menghadapi serangan cendawan patogen yang berat, serta akan menimbulkan risiko kesehatan pada penggunanya. Patogen tular tanah yang menjadi masalah bagi petani di antaranya adalah Fusarium oxysporum merupakan penyebab penyakit layu fusarium, Sclerotium rolfsii penyebab penyakit rebah kecambah, dan Rigidoporus sp. penyebab penyakit Jamur Akar Putih (JAP).

F. oxysporum memiliki kisaran inang yang luas dan dapat menyerang dari perkecambahan sampai tanaman dewasa sehingga kerugian yang ditimbulkan akibat serangan patogen ini sangat besar. F. oxysporum tidak hanya menular melalui tanah dan menginfeksi perakaran tetapi dapat juga menginfeksi organ lain seperti batang, daun, bunga, dan buah, melalui luka. F. oxysporum juga memiliki kemampuan untuk hidup sebagai saprofit yang dapat menjadi sumber inokulum untuk menimbulkan penyakit pada tanaman lain,.dan dapat bertahan di dalam tanah mencapai 10 tahun apabila tidak ada inang Penyebaran propagul dapat terjadi melalui angin, air tanah, serta tanah terinfeksi yang terbawa oleh alat pertanian dan manusia (Djaenuddin, 2011).

S. rolfsii merupakan salah satu patogen yang dapat bertahan hidup di dalam tanah dengan membentuk struktur istirahat yang disebut sklerotia. Di dalam tanah sklerotia dapat bertahan sampai 7 tahun. Dalam keadaan yang kering, sklerotia dapat mengeriput, tetapi ini justru akan berkecambah dengan cepat jika kembali berada di lingkungan yang lembab (Semangun 2004). Permukaan sklerotia dapat mengeluarkan eksudat berupa ikatan ion, protein, karbohidrat, enzim endopoligalakturonase dan asam oksalat. Asam oksalat yang dihasilkan S. rolfsii ini bersifat racun bagi tanaman. S. rolfsii mempunyai banyak, tanaman inang antara lain dari famili Leguminoceae (kedelai, kacang tanah, kacang hijau, kacang merah, dan buncis) (Sumartini, 2011).

Rigidoporus sp. merupakan patogen penyebab penyakit JAP dan menyebar melalui kontak akar, yakni bila akar yang telah terserang JAP bersinggungan dengan akar yang sehat maka terjadilah penularan serangan penyakit (Catharina, 2012). JAP merupakan cendawan polifag, selain menyerang tanaman karet, JAP juga menyerang teh, kopi, kakao, kelapa, kelapa sawit, mangga, nangka, ubi kayu, jati, dan lain- lain (Semangun, 2001). Penyakit akar putih menimbulkan kerugian yang cukup besar di Thailand, Sri Lanka, India Selatan, Afrika Barat, Afrika Tengah, Afrika Timur, dan Indonesia. Di daerah asal tanaman karet yaitu Brasilia, penyakit ini kurang menimbulkan kerugian dikarenakan tanah di Brasilia tersebut bereaksi masam sehingga menyebabkan jamur akar putih tidak dapat berkembang dengan baik (Basuki, 1986 dalam Semangun, 2001).

Alternatif pengendalian ramah lingkungan yang bisa dilakukan untuk mengendalikan ketiga patogen tersebut adalah dengan menggunakan agen antagonis yaitu Trichoderma harzianum dan Trichoderma virens. Kedua spesies Trichoderma ini telah terbukti mampu mengendalikan serangan berbagai macam patogen. Etebarian et al. (2000) telah menguji bahwa T. harzianum isolat T39 dan T. virens isolat DAR 74290 berpotensi sebagai agen pengendalian hayati penyakit busuk akar dan batang pada kentang dan tomat yang disebabkan oleh jamur Phytopthora erythroseptica. Secara laboratorium, Sriwati (2012) telah meneliti bahwa T. virens mampu menghambat perkembangan P. palmivora (yang merupakan patogen tular tanah) dengan mekanisme antibiosisnya. Kataoka et al. (2010) menyatakan bahwa T. virens menghasilkan antibiotik dan memiliki aktivitas anti jamur yang lebih baik daripada T. harzianum. Sunarwati dan Yoza (2010) menyatakan T. virens yang diuji dalam penelitiannya terbukti sangat mampu menghambat perkembangan P. palmivora dengan persentase hambatan sebesar 100% dengan metode uji ganda. Melihat kemampuan T. harzianum dan T. virens dalam menghambat perkembangan beberapa patogen tular tanah tersebut, maka perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk melihat kemampuan bertahan hidup dan kolonisasi dari T. harzianum dan T. virens setelah ditumbuhkan secara bersama dengan jamur patogen tular tanah (Fusarium sp, Sclerotium sp, dan Rhigidoporus sp).

PERIODE KRITIS TANAMAN KEDELAI TERHADAP PERSAINGAN GULMA

Critical Period of Soybean to Weed Competition

Hendrival, Zurrahmi Wirda, dan Abdul Azis

Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh,

Reuleut, Aceh Utara, Indonesia. email: hendrival@yahoo.com

ABSTRACT

The research was aimed at determining a critical period of soybean in competition with weeds. The experiment was conducted in Seunebok Baro Village, Sub-District Cot Girek, District Aceh Utara, from January to May 2013. The experiment was arranged in a randomized complete block design. Factor evaluated was a period weed competition with 14 levels and three replications. Variables observed were growth plant component, yield component, and weed compositions. The results showed that period weed competition affected growth plant component and yield component. Critical period of soybean variety Kipas Merah in competition with weeds occurred at 2 – 6 weeks after planting. Dominant weed species were Dichrocephala integrifolia, Mimosa pudica, Ipomoea triloba, Ageratum conyzoides, Cleome rutidosperma, and Axsonopus compressus. Minimum scale of weed control for soybean variety Kipas Merah can be carried out from 2 until 6 weeks after planting for preventing yield loss.

 

Keywords: critical period, weeds, soybean

PENDAHULUAN

Tanaman kedelai merupakan tanaman lahan kering dan keberadaan gulma merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian. Gulma dapat menurunkan kualitas maupun kuantitas hasil kedelai dengan cara kompetisi unsur hara, cahaya, air, CO2, dan ruang tumbuh (Sastroutomo, 1990; Zimdhal, 2007). Gangguan kompetisi gulma sejak awal pertumbuhan tanaman dapat berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman (Ardjasa & Bangun, 1985). Kerugian yang ditimbulkan akibat gulma di pertanaman kedelai dapat mencapai 80% (Moenandir, 1993). Variasi angka ini sangat tergantung pada cara pengendalian gulma yang diterapkan. Gulma yang sering dijumpai di pertanaman budidaya tanaman pangan seperti kedelai adalah gulma semusim. Beberapa jenis gulma yang merugikan pada tanaman kedelai adalah Eleusine indica, Cyperus sp., Cynodon dactylon, Digitaria ciliaris, Amaranthus sp., Ageratum conyoides, Echinocloa colonum, Hedyotis corymbosa, Cleome rudidosperma, Borreria alata, Ludwigia sp., Cyanotis cristata, Polytrias amaura, Digitaria sp., dan Imperata cylindrica (Radjit & Purwaningrahayu, 2007).

Kehadiran gulma di sepanjang siklus hidup tanaman budidaya tidak selalu berpengaruh negatif. Terdapat suatu periode ketika gulma harus dikendalikan dan terdapat periode ketika gulma juga dibiarkan tumbuh karena tidak mengganggu tanaman (Moenandir, 1993). Periode hidup tanaman yang sangat peka terhadap kompetisi gulma ini disebut periode kritis tanaman. Periode kritis untuk pengendalian gulma adalah waktu minimum di mana tanaman harus dipelihara dalam kondisi bebas gulma untuk mencegah kehilangan hasil yang tidak diharapkan. Periode kritis dibentuk oleh dua komponen, yaitu waktu kritis gulma harus disiangi atau lamanya waktu gulma dibiarkan di dalam areal penanaman sebelum terjadi kehilangan hasil yang tidak diharapkan, dan periode kritis bebas gulma atau lamanya waktu minimum tanaman harus dijaga agar bebas gulma untuk mencegah kehilangan hasil (Knezevic et al., 2002). Periode kritis untuk pengendalian gulma merupakan komponen penting dalam strategi manajemen gulma terpadu yang memberikan pengetahuan bagi petani kapan saatnya untuk mengendalikan gulma yang dapat merugikan hasil tanaman (Swanton & Weise, 1991). Untuk mencegah kehilangan hasil kedelai akibat kompetisi dengan gulma, maka perlu diketahui periode kritis kedelai terhadap kompetisi dengan gulma sehingga diketahui saat yang tepat untuk melakukan pengendalian. Penelitian bertujuan untuk menentukan periode kritis tanaman kedelai akibat kompetisi dengan gulma.

KARAKTERISASI KUALITAS BUAH EMPAT GENOTIP PEPAYA (Carica papaya L.) KOLEKSI BALAI PENELITIAN TANAMAN BUAH TROPIKA

Characterizing Fruit Quality of Four Papaya Genotypes,

Collection of Tropical Fruit Research Institute

Dewi Fatria dan Noflindawati

Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika,

Jl. Raya Solok – Aripan km 8 Solok, Indonesia 27301

Email : noflindawatialfathani@yahoo.co.id

 

ABSTRACT

The research was conducted at Post Harvest Laboratory of Indonesian Tropical Fruit Research Institute (ITFRI) from March to May 2010. The design used was a randomized complete block design with 4 replicates. Papaya genotypes tested were BT-01, BT-02, BT-03, and BT-04. The results showed that papaya genotypes of BT-01, BT-02, BT-03, and BT-04 were not significantly different each other on physical fruit characters i.e. fruit length, fruit width, fruit weight, and stem length. However, the thinnest fruit flesh was found at BT-3 genotype and the thicknest flesh was at BT-2 genotype. The lowest fruit cavity was found at genotype BT-1 and the highest was at the BT-2. The lowest hardness of fruit skin and flesh was found at genotype BT-4 and the highest hardness of skin was at BT-3, while the highest hardness of flesh was at BT-1 and BT-2. Chemical quality of total dissolved solid, vitamin C, acid content, and water content was not significantly different among the four genotypes BT-1, BT-2, BT-3, and BT 4.

Keywords: chemical quality, genotype, papaya, physical quality


PENDAHULUAN

Pepaya ( Carica papaya L.) termasuk keluarga Caricaceaeyang berasal dari Amerika Tengah dan Hindia Barat.Famili ini terdiri dari empat genus yaitu Carica, Jarilla, Jacaranta dan Cylicomorpha. Tiga genus pertama merupakan asli dari Amerika dan satu genus yaitu Cylicomorpha dari Afrika (Yon, R.Md. 1994). Pepaya (Carica papaya L.) merupakan salah satu komoditas buah secara internasional, baik dalam bentuk buah segar maupun sebagai produk olahan (Sankat dan Maharaj, 1997).

Peran multiguna pepaya sebagai buah segar, olahan, sayur (baik daun maupun buahnya), penyehat mata oleh karena buah pepaya kaya vitamin A (91,5 IU/100 g), pe­langsing tubuh oleh karena papain penghancur lemak dan vitamin C (55 mg/100 g), pelu­ruh empedu, air seni dan melancarkan ASI serta abortivum (Salunkhe, Bolin dan Reddy, 1991), ditambah lagi secara tradisional mudah dibudidayakan oleh petani, menjadikan komoditas pepaya sebagai salah satu komoditas yang strategis untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. Panen energi dari 100 g buah sebesar 46,3 – 49,6 kal dari 12,2 – 15,6% karbohidrat menjadikan buah pepaya sebagai makanan sarapan pagi pada sebagian besar negara penghasil pepaya. Energi yang dihasilkan oleh buah pepaya juga dapat mengganti setengah bagian energi yang dihasilkan oleh 100 g umbi kentang (Salunkhe dan Desai, 1984).

Menurut Verheij dan Coronel (1997), 60% buah pepaya dapat dimakan. Untuk setiap100 g buah pepaya terdiri atas 86,6 g air, 0,5 g protein, 0,3 g lemak, 12,1 g karbohidrat, 0,7 g serat, 0,5 g abu, 204 mg kalium, 34 mg kalsium, 11 mg fosfor,1 mg besi, 74 mg vitamin A, 0,003 mg tiamin,0,5 mg niasin, dan 0,004 riboflavin.

Panen energi dari 100 g buah sebesar 46,3 – 49,6 kal dari 12,2 – 15,6% karbohidrat menjadikan buah pepaya sebagai makanan sarapan pagi pada sebagian besar negara penghasil pepaya. Energi yang dihasilkan oleh buah pepaya juga dapat mengganti setengah bagian energi yang dihasilkan oleh 100 g umbi kentang (Departemen Pertanian, 2008). Produksi buah pepaya di Indonesia berfluktuasi pada tahun 2006 mencapai 643.451 ton (Chan, 1994). Menurut data FAO 2005, menunjukkan bahwa Indonesia merupakan produsen pepaya terbesar ke lima di dunia setelah Brazil, Nigeria, India dan Mexico.

Pada saat proses pemasakan, buah banyak mengalami banyak perubahan fisik dan kimia setelah panen yang menentukan kualitas buah untuk dikonsumsi (Santoso dan Purwoko, 1995). Menurut Pantastico (1989) buah yang berkualitas baik, salah satunya dipengaruhi oleh waktu panen yang tepat, karena mutu buah tidak dapat diperbaiki namun dapat dipertahankan. Buah yang dipanen sebelum matang dapat menghasilkan mutu yang baik serta proses pemasakan yang salah. Penundaan waktu panen buah akan meningkatkan kepekaan terhadap proses pembusukan, serta mutu dan nilai jualnya rendah. Pematangan adalah proses perubahan organ tanaman dari matang secara fisiologis, tetapi belum dapat dimakan. Perkembangan dan pematangan buah sebagian besar selesai pada saat buah masih berada di pohon, sedangkan proses pemasakan dan senesence akan berlanjut hingga buah telah dipetik dari pohonnya.

Penggunaan varietas unggul yang berdaya hasil tinggi dan mempunyai mutu buah lebih baik masih diperlukan dalam pengembangan pepaya di masa depan. Karena pengembangan masih dihadapkan pada persoalan rendahnya produktivitas, ukuran buah yang beragam, postur tanaman yang tinggi dan lambat berbuah, serta rentan terhadap cekaman kekeringan dan genangan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ciri-ciri fisik 4 genotip pepaya koleksi Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika.

PENGARUH VARIETAS DAN KONSENTRASI PUPUK MAJEMUK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KUBIS BUNGA (Brassica oleracea L.)

Effects of Varieties and Concentrations of Compound Fertilizer on Growth and Yield of Cauliflower (Brassica oleracea L.)

Ainun Marliah, Nurhayati, dan Risma Riana

ABSTRACT

The research was aimed at determining suitable varieties and concentrations of compound fertilizer RapidGro 01 on growth and yield of cauliflower. Experiment was arranged in a randomized complete block design (RCBD) 3×3 with 3 replications. There were two factors studied, i.e. 1) varieties consisted of 3 levels (PM 126 F1, White Shot and Cauliflower Tropica 45 Days) and 2) concentration of compound fertilizer RapidGro 01 consisted of 3 levels (2, 4, and 6 gL-1of water). Results showed that varieties significantly affected plant height at 30 days after planting, leaf numbers at 45 days after transplanting (DAT) and wet weight of flowers per plant, but did not significantly affect plant height at 15 and 45 DAT, leaf numbers at 15 and 30 DAT, root length and wet weight. The best variety was AM 126 F1. Concentrations of compound fertilizer RapidGro 01 did not significantly affect plant height and leaf numbers at 15, 30, and 45 DAT, root length, fresh weight per plant and wet weight per plant. There was no significant interaction between varieties and concentrations of compound fertilizer RapidaGro 01 on all variables of growth and yield of cauliflower.

Keywords: Cauliflower, Compound Fertilizer, Varieties

PENDAHULUAN

Kubis bunga (Brassica oleraceea L.) merupakan jenis tanaman sayuran yang termasuk dalam keluarga tanaman kubis-kubisan (Cruciferae) yang berasal dari Eropa, dan pertama kali ditemukan di Cyprus, Italia Selatan dan Mediterania, masuk ke Indonesia pada abad ke XIX. Di Indonesia masyarakat mengenal sayuran kubis bunga sebagai bunga kol, kembang kol, atau dalam bahasa asing disebut cauliflower. Bagian yang dikonsumsi dari sayuran ini adalah masa bunganya (curd). Masa kubis bunga umumnya berwarna putih bersih atau putih kekuning-kuningan (Rukmana, 1994 dan Cahyono, 2001).

Kubis bunga mempunyai peranan penting bagi kesehatan manusia, karena mengandung vitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan tubuh, sehingga permintaan terhadap sayuran ini terus meningkat. Sebagai sayuran, kubis bunga dapat membantu pencernaan, menetralkan zat-zat asam dan memperlancar buang air besar. Menurut Rukmana (1994), komposisi zat gizi dan mineral setiap 100 g kubis bunga adalah kalori (25,0 kal), protein (2,4 g), karbohidrat (4,9 g), kalsium (22,0 mg), fosfor (72,0 mg), zat besi (1,1 mg ), vitamin A (90,0 mg), vitamin B1 (0,1 mg), vitamin C (69,0 mg) dan air (91,7 g).

Kubis bunga terdiri dari beberapa varietas, yang dapat dilihat perbedaannya pada bentuk daun dan ukuran krop. Menurut Pracaya (2001) bahwa secara umum kubis bunga dibedakan atas 3 jenis yaitu: (a) jenis pendek, mempunyai ciri ukuran daun sedang, daun sebelah luar melengkung ke arah luar dan daun sebelah dalam melengkung ke arah dalam sehingga ujungnya menutupi krop, (b) jenis besar, mempunyai ciri ukuran kepalanya lebih besar daripada jenis pendek. Jenis besar ini juga mempunyai daun lebih tegak dan lebih panjang, kepala bunga lebih bulat lebih tebal dan berat, (c) jenis kepala ungu, jenis ini akan berubah warnanya menjadi hijau pucat pada saat masa panen, kepala bunga tidak tertutupi daun. Jenis kepala ungu ini biasanya tidak dibudidayakan secara besar-besaran, namun hanya ditanam di sekitar rumah.

Budidaya kubis bunga dilakukan di daerah dataran tinggi, namun beberapa kultivar dapat membentuk bunga di dataran rendah sekitar khatulistiwa (Williams, Uzo dan Peregrine, 1993). Hal ini dikarenakan kemajuan ilmu dan teknologi di bidang pertanian yang telah menemukan varietas-varietas unggul kubis bunga yang cocok ditanam di dataran rendah sampai menengah ( Rukmana,1994). Beberapa varietas unggul kubis bunga yang dapat dibudidayakan di dataran rendah termasuk di Aceh adalah varietas White Shot, PM 16 F1 dan Cauliflower Tropica 45 Day. Varietas White Shot memiliki keunggulan produktivitas tinggi, krop berbentuk seperti kubah berwarna kuning dengan rasa renyah agak lunak dan dapat beradaptasi dengan baik di dataran sedang sampai tinggi. PM 126 F1 memiliki keunggulan produktivitas tinggi, krop membentuk kubah berwarna putih. Cauliflower Tropica 45 Days memiliki keunggulan produktivitas tinggi, umur genjah, krop berbentuk kubah agak bulat, berwarna putih dengan rasa lunak agak renyah serta beradaptasi dengan baik di dataran menengah (500 m dpl) sampai tinggi (1.500 m dpl).[1]

Selain varietas, pemupukan juga merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam menunjang pertumbuhan dan hasil kubis bunga. Pemupukan adalah penambahan unsur hara yang dibutuhkan tanaman sesuai dengan dosis yang dianjurkan (Cahyono, 2007). Pemupukan bertujuan untuk memelihara, memper-baiki dan mempertahankan kesuburan tanah dengan memberikan zat-zat pada tanah, sehingga dapat menyumbangkan hara bagi tanaman.

Berbagai jenis pupuk yang dapat digunakan, baik pupuk yang mengandung satu jenis unsur hara (tunggal), maupun pupuk yang mengandung beberapa unsur hara (pupuk majemuk). Menurut Sutejo (2002), pupuk majemuk yang mengandung unsur hara makro primer (N,P dan K) dan unsur hara makro sekunder (mg, Ca dan S), serta dilengkapi unsur hara mikro, maka pupuk tersebut disebut pupuk majemuk lengkap, salah satunya adalah pupuk RapidGro 01(20-20-20).

RapidGro 01 (20-20-20) adalah jenis pupuk daun berbentuk bubuk berwarna biru, mengandung unsur hara makro N, P dan K berimbang serta unsur hara mikro lengkap, yang dapat memacu pertumbuhan dan hasil tanaman padi, palawija, sayuran, buah-buahan, perkebunan dan kehutanan. Pemberian pupuk daun lebih menguntungkan dari pada pupuk akar, karena proses penyerapannya lebih cepat, sehingga dapat mempercepat pertumbuhan tunas dan tanah tidak mudah rusak. Pemberian pupuk daun biasanya sebagai pelengkap untuk mengatasi kebutuhan hara yang kurang dan tidak dapat disuplai dari pupuk akar (Agromedia, 2007). Menurut Cahyono (2001) bahwa penggunaan pupuk daun dapat mengurangi 25% penggunaan pupuk Urea, 50 % pupuk SP-36, namun untuk pupuk KCl tetap diberikan sesuai dosis anjuran. Konsentrasi anjuran pupuk RapidGro 01 (20-20-20) untuk tanaman kubis bunga adalah 1-4 g/L air, diberikan dengan cara disemprot melalui daun secara merata saat persemaian, pertumbuhan vegetatif dan generatif[2].

Berdasarkan permasalahan di atas, belum diketahui konsentrasi pupuk majemuk RapidGro 01 yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa varietas kubis bunga, sehingga perlu dilakukan penelitian.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.