PENGARUH JENIS KAKAO DAN KOMBINASI ZAT PENGATUR TUMBUH TERHADAP INDUKSI EMBRIO SOMATIK SECARA IN VITRO

Effect of Cocoa Type and Combination of Plant Growth Regulator on

Somatic Embrio Induction in Vitro

Zuyasna, Erida Nurahmi, dan Rahmi Fajri

email: zuyasna@gmail.com

 

ABSTRACT

In an effort to increase the productivity of cocoa in Aceh, the government has carried out a cocoa plantation revitalization program for plants aged 25-30 years. The revitalization effort was constrained by the unavailability of quality seedlings. Alternatively, cocoa seedlings can be made available through vegetative propagations or through tissue culture techniques. Based on those facts, we have studied the inducing of callus and somatic embryos of cacao clones that were adaptive and highly productive in Aceh. The experiment was arranged in a completely randomized design, consisted of two factors. The first factor was the cacao genotype, having red and green fruits skin. The second factor consisted of six combinations of growth regulators 2,4-D and kinetin. The results showed that genotype of explants origin from cocoa red flowers responded very well in the formation of callus and somatic embryo formation. There was a significant interaction between genotype and growth regulator combinations on the explants in the number of somatic embryos formed. The best combination of concentrations growth regulator in response to somatic embryo in SCG (Secondary Callus Growth) medium was 3 mgL-1 2,4 D and 1 mgL-1 kinetin for explants from cocoa red flowers, and 1 mgL-1 2,4 D and 0 mgL-1 kinetin for explants origin from cacao green flowers.

Keywords: kinetin, 2,4-D, cacao, callus, somatic embryo


PENDAHULUAN

Dalam upaya meningkatkan produktivitas kakao di Aceh, pemerintah melakukan program revitalisasi perkebunan kakao yang berumur 25 – 30 tahun. Upaya revitalisasi tersebut terkendala dengan ketersediaan bibit yang bermutu. Secara konvensional pengadaan bibit kakao terkendala akibat sulitnya mendapatkan bibit berkualitas dalam jumlah besar dengan kurun waktu singkat. Perbanyakan tanaman kakao sampai saat ini umumnya dilakukan secara generatif (75-90%) melalui benih hibrida F1. Perbanyakan secara generatif melalui benih relatif lebih mudah, tetapi tanaman yang dihasilkan mempunyai sifat yang tidak seragam (Maximova et al., 2002). Perbanyakan secara vegetatif lebih sulit dibandingkan dengan perbanyakan secara generatif, namun tanaman yang dihasilkan lebih seragam. Tanaman kakao yang berasal dari perbanyakan vegetatif (10-25%) pada umumnya diperoleh melalui metode setek, sambung, dan okulasi (Winarsih et al., 2003).

Bibit kakao asal perbanyakan vegetatif sampai saat ini belum dapat memenuhi permintaan dalam jumlah besar, karena sangat dibatasi oleh jumlah tunas dan cabang yang disetek, sambung dan okulasi. Sebagai tindakan alternatif, pengadaan bibit kakao secara vegetatif adalah melalui teknik kultur jaringan atau kultur in vitro.. Keunggulan perbanyakan tanaman melalui teknik kultur jaringan adalah sangat dimungkinkan mendapatkan bahan tanaman dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Kultur jaringan merupakan suatu metode mengisolasi bagian tanaman seperti sekelompok sel atau jaringan yang ditumbuhkan dalam kondisi aseptik, sehingga bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri tumbuh menjadi tanaman lengkap kembali (Gunawan,1992). Teori dasar dari kultur in vitro adalah totipotensi. Teori ini menyatakan bahwa setiap bagian tanaman mampu berkembang biak karena seluruh bagian tanaman terdiri atas jaringan-jaringan hidup. Oleh karena itu, semua organisme yang berhasil ditumbuhkan akan memiliki sifat yang sama persis dengan induknya (Hendaryono & Wijayani, 1994). Salah satu teknik kultur jaringan yang berkembang dan banyak dimanfaatkan untuk perbanyakan serta kegiatan Bioteknologi dalam rangka mendapatkan tanaman transgenik adalah melalui pembentukan embrio somatik.

Embriogenesis somatik (Somatic embryogenesis) merupakan teknik untuk menghasilkan embrio dari jaringan tanaman, seperti jaringan pada bunga (staminodia dan petala), kotiledon, atau dari jaringan muda lainnya melalui kultur jaringan. Perbanyakan melalui somatic embryogenesis (SE) menggunakan eksplan staminodia dan petala pada kakao dapat dipergunakan pada berbagai genotipe kakao dengan tingkat efisiensi yang cukup tinggi. Di samping itu, pengembangan melalui teknik SE adalah upaya untuk mendapatkan tanaman bebas penyakit dan mengeliminasi virus, serta untuk tujuan konservasi plasma nutfah (Tan & Furtek, 2004). Jenis eksplan kakao yang sudah diteliti daya regenerasinya antara lain daun muda, nuselus, embriozigotik muda biji kakao dan seluruh bagian-bagian bunga termasuk antera (Li et al., 1998).

Beberapa penelitian kultur jaringan di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia telah dilakukan untuk menghasilkan bibit kakao hasil kultur jaringan melalui proses regenerasi embriogenesis somatik (Winarsih et al., 2003). Beberapa penelitian lain juga mengembangkan perbanyakan dan regenerasi klon kakao melalui induksi embrio somatik (Zuyasna, 2012; Zuyasna & Siti Hafsah, 2013; Zuyasna et al., 2013).

Dalam kultur jaringan, dua golongan zat pengatur tumbuh yang sangat penting adalah auksin dan sitokinin (Gunawan, 1992). Pengaruh auksin terhadap perkembangan sel menunjukkan bahwa auksin dapat meningkatkan sintesis protein. Dengan adanya peningkatan sintesis protein, maka dapat digunakan sebagai sumber tenaga dalam pertumbuhan. Kinetin adalah kelompok sitokinin yang berfungsi untuk pengaturan pembelahan sel dan morfogenesis. Dalam pertumbuhan jaringan, sitokinin bersama-sama dengan auksin memberikan pengaruh interaksi terhadap diferensiasi jaringan (Sriyanti & Wijayani, 1994). Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan penelitian tentang pengaruh genotipe kakao dan kombinasi konsentrasi 2,4 D dan kinetin terhadap pertumbuhan embrio somatik.

PEMBERIAN KALIUM PADA TANAH GAMBUT TERHADAP PRODUKSI, VIABILITAS, DAN VIGOR BENIH BEBERAPA VARIETAS KACANG TANAH

Potassium Application to Peat Soilon Yield and Seeds Vigor and Viability of

Several Peanut Varieties

T. Sarwanidas, Syamsuddin, dan Teti Arabia

tsarwanidas@yahool.com

ABSTRACT

The research was aimed at finding out the relationship between potassium dosages on peats soil, yield, seedvigor, and viability of peanut. The experiment was arranged ina completely randomized design (CRD), factorial 5 x 4 with 3 replications. Potassium application was consisted of 5 levels: 0 kg ha-1, 25 kg ha-1, 50 kg ha-1, 75 kg ha-1, and 100 kg ha-1. Variety was consisted of 4 levels : Naga Umbang, Jerapah, Gajah and Bison. Variables observed were yield, seed vigor, and seed viability. Results showed that potassium did not exert significant effects on all variables observed, except on seed vigor and viability. Varieties significantly affected yield, where Bison provided the best dried pod weight and Jerapah gave the best seed vigor and viability. No significant interaction existed between varieties and dosage of K fertilizer on the peanut yield, seed vigor, and seed viability.

Keywords : peanut, peat soil, seed quality


PENDAHULUAN

Keterbatasan lahan produktif menyebabkan ekstensifikasi lahan mengarah pada lahan-lahan marginal. Lahan gambut merupakan salah satu lahan marginal yang relatif jarang dipergunakan untuk pemukiman penduduk sehingga kemungkinan konflik tata guna lahan relatif kecil. Luas areal gambut di Indonesia diperkirakan 13-14 juta ha yang tersebar di pulau Sumatera, Kalimantan, dan Irian Jaya. Di Aceh luas lahan gambut mencakup areal seluas 274.051 ha, diantaranya 105.417 ha (38,40 %) tersebar di pesisir pantai kabupaten Aceh Barat sedangkan sisanya tersebar di Kabupaten Aceh Selatan seluas 168.634 ha (61.60 %) (Wahyunto et al., 2005).

Penggunaan lahan gambut sebagai lahan pertanian, banyak mengalami kendala terutama berkaitan dengan sifat fisik dan kimia tanah yang kurang mendukung untuk pertumbuhan tanaman. Kemasaman tinggi dan kejenuhan basa yang rendah merupakan penyebab terhambatnya pertumbuhan dan produksi tanaman. Kondisi pH tanah yang rendah yaitu 3,1-3,4 mengakibatkan beberapa unsur hara menjadi kahat (Noor, 2000).

Tanah gambut memiliki keterbatasan berupa ketersediaan unsur hara yang rendah, terutama hara kalium, reaksi tanah sangat masam dan kejenuhan basa yang rendah (Tadano et al., 1992). Tanah gambut sebagai media tumbuh memerlukan berbagai input untuk menciptakan kondisi optimal bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dibudidayakan. Variasi input yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian pupuk kalium (Sabiham, 1997).

Pemberian KCl pada usaha tani kacang tanah pada tingkat petani belum mendapatkan perhatian yang serius. Sementara pemupukan lainnya seperti pupuk Urea dan phosfor telah banyak diberikan oleh petani. Dampak dari keadaan tingkat inovasi teknologi ini membuat sebagian besar biji kacang tanah tidak berisi dengan bernas, namun pertumbuhan vegetatif cukup baik. Suprapto (2000) mengatakan penambahan kalium memegang peranan penting dalam peningkatan produksi kacang tanah. Ronoprawiro (1996) mengatakan bahwa kacang tanah memerlukan pasokan kalium yang cukup selama pertumbuhannya.

Menurut Rosmarkum (2002), apabila tanaman kacang tanah kekurangan K, maka banyak proses yang tidak berjalan dengan baik, misalnya terjadinya akumulasi karbohidrat, menurunnya kadar pati dan akumulasi senyawa nitrogen dalam tanaman.

Dosis anjuran pupuk KCl menurut Sumarno (1986) berkisar antara 75-100 kg ha-1 atau setara dengan 45-60 kg K2O ha-1. Sementara menurut Suprapto (2000) pemberian pupuk kalium (K2O) sebagaipupuk dasar dengan dosis berkisar antara 50-60 kg K2O ha-1. Menurut Ronoprawiro (1996), kacang tanah memerlukan kalium pada saat awal pertumbuhan dan saat pengisian polong. Sutejo (1998), mengatakan pupuk K sangat diperlukan kacang tanah saat awal pertumbuhan, saat pembentukan ginofor dan saat pengisian polong.

Pengembangan kacang tanah pada lahan gambut masih kurang diminati. Hal ini disebabkan oleh tingkat produktivitas yang masih rendah. Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan daya guna lahan gambut, diantaranya dengan reklamasi dan penerapan teknologi budidaya, pemupukan berimbang dan penggunaan benih unggul.

Introduksi varietas-varietas unggul baru merupakan salah satu alternatif untuk mempercepat proses alih teknologi pada tingkat petani. Namun beberapa varietas pada daerah tertentu unggul, belum tentu mempunyai keunggulan pada daerah-daerah lain. Oleh karena itu perlu dikaji sejauhmana varietas baru kacang tanah dengan penambahan kalium untuk menghasilkan produksi yang maksimal dengan mutu biji yang baik, sekaligus diperoleh varietas yang adaptif pada lahan gambut.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis kalium dan varietas terhadap pertumbuhan, produksi serta viabilitas dan vigor benih kacang tanah pada tanah gambut. Di samping itu penelitian ini juga untuk mengetahui apakah terdapat interaksi antara kedua faktor tersebut.

PENGARUH PEMUPUKAN KALIUM TERHADAP PERKEMBANGAN POPULASI KUTU DAUN (Aphis glycines Matsumura) DAN HASIL KEDELAI

Effecs of Potassium Fertilization on Growth Population of Aphid

(Aphis glycines Matsumura) and Soybean Yield

Hendrival, Latifah, dan Idawati

email: hendrival@yahoo.com

 

ABSTRACT

The research was aimed at studying effects of potassium on the development of Aphis glycines populations and soybean yield. The experiment was conducted in Village Rayeuk Naleung, Sub district Tanah Luas, District North Aceh from July to September 2013. The experiment was arranged in a randomized complete block design (RCBD) with 3 replicates. The treatment was without fertilizer, potassium fertilizer at a dose of 25 kg/ha K2O, 50 kg K2O/ha and 75 kg K2O/ha. The variables observed were populations of A. glycines and components of yield soybean. The results showed that potassium at doses of 75 kg K2O/ha can reduce populations of A. glycines and soybean yield increase as compared to potassium fertilization at a dose of 25 kg/ha K2O and 50 kg K2O/ha.

Keywords: Aphis glycines, potassium, soybean


PENDAHULUAN

Kutu daun Aphis glycines (soybean aphid) merupakan salah satu hama yang berkembang dalam koloni besar dan menyebabkan kehilangan hasil mencapai 58% pada tanaman kedelai (Wang et al., 1994). A. glycines kedelai memiliki tipe mulut menusuk mengisap yang digunakan untuk mengambil cairan dari jaringan floem. A. glycines mengisap cairan tanaman pada daun, batang, dan polong. Namun demikian A. glycines banyak dijumpai pada permukaan bawah daun (Tilmon et al., 2011; McCornack et al., 2008). A. glycines yang menyerang tanaman kedelai dapat menyebabkan penurunan kapasitas fotosintesis (Macedo et al., 2003). Populasi A. glycines yang tinggi dapat mengurangi produksi kedelai secara langsung melalui beberapa kerusakan seperti kerdil, distorsi daun, dan mengurangi kualitas polong yang dihasilkan (Sun et al. 1991). Jumlah polong yang terbentuk berkurang, berukuran kecil, dan berbelang (Baliadi, 2007). A. glycines dapat menularkan virus tanaman (Clark & Perry, 2002) dari berbagai virus (Wang et al., 2006) seperti soybean mosaic virus (SMV), alfalfa mosaic virus (AMV), soybean stunt virus (SSV), peanut stripe virus (PStV), peanut mottle virus (PMoV), bean yellow mosaic virus (BYMV), dan blakeye cowpea mosaic virus (BICMV). Semakin muda tanaman yang terserang vektor dan terinfeksi virus yang ditularkan, semakin besar kerugian yang dapat ditimbulkan (Balliadi et al., 2007).

Ukuran koloni A. glycines dipengaruhi oleh faktor ekologi seperti temperatur dan musuh alami seperti predator dan parasitoid, namun ukuran koloni juga dipengaruhi oleh kualitas nutrisi cairan dari jaringan tanaman inang. Pertumbuhan populasi kutu daun yang menyerang tanaman kedelai dibatasi oleh kualitas nutrisi tanaman inangnya. Komponen yang membatasi dari nutrisi A. glycines adalah kandungan nitrogen, yang memiliki konsentrasi rendah dalam jaringan floem (Tilmon et al., 2011). Pertumbuhan populasi A. glycines mengalami peningkatan pada kedelai karena meningkatnya konsentrasi nitrogen pada jaringan floem akibat kekurangan kalium dalam tanah ((Difonzo & Hines, 2002, Myers et al., 2005; Walter & DiFonzo, 2007; Noma et al., 2010). Kekurangan unsur hara kalium pada tanaman kedelai dapat meningkatkan populasi hama A. glycines (Myers et al., 2005) yang disebabkan oleh rendahnya kandungan asam amino dalam jaringan floem (Bruulsema et al., 2010). Pertumbuhan populasi A. glycines memiliki korelasi negatif dengan kandungan unsur hara makro seperti kalium (Myers & Gratton, 2006).

Pemupukan merupakan salah satu cara untuk menambahkan hara ke dalam tanah, sehingga tersedia unsur hara bagi tanaman. Pemupukan tidak hanya dapat meningkatkan hasil panen, tetapi juga mempengaruhi kesesuaian tanaman untuk perkembangan hama, walaupun tergantung pada jenis pupuk dan spesies hama (Difonzo & Hines, 2002). Kalium merupakan unsur yang paling banyak dibutuhkan oleh tanaman setelah nitrogen. Tanaman kedelai seperti kebanyakan jenis tanaman kacang-kacangan lainnya, membutuhkan kalium dalam jumlah yang tinggi, sehingga sangat peka terhadap kekurangan kalium. Oleh karena itu pengujian atau pengukuran kadar kalium melalui pemberian pupuk perlu dilakukan dalam usaha pencapaian efisiensi dan efektivitas pemupukan kalium pada tanaman kedelai. Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemupukan kalium terhadap perkembangan populasi hama A. glycines dan hasil kedelai.

PENGGUNAAN GUANO DAN PUPUK NPK-MUTIARA UNTUK MEMPERBAIKI KUALITAS MEDIA SUBSOIL DAN PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq)

Use of Guano and Fertilizer NPK to Improve Quality

of Subsoil Media and Growth of Oil Palm Seedling

Mukhtaruddin, Sufardi, dan Ashabul Anhar

email:mukhtaruddin13@gmail.com

ABSTRACT

Utilization of subsoil as a growing medium for the nursery is a challenge to replace the role of topsoil as media for oil palm nurseries mainly on main nursery. This research was aimed at studying the effects of organic Guano and inorganic NPK fertilizer on oil palm seedling growth on sub soil growing media. The experiment was conducted in a pot, arranged in a randomized complete block design (RCBD), factorial 4×3 with 3 replicates. There were two factors examined, 1) guano dose consisting of four levels, namely: 0 kg, 0.5 kg, 1.0 kg and 1.5 kg/polybags and 2) inorganic fertilizers NPK consisting of three levels, namely: 0, 15, and 30 g/polybags. The results showed that subsoil can be used for growing media with applications of fertilizer Guano and inorganic NPK fertilizer. Guano and NPK fertilizer affected several soil chemical properties, i.e. increase in soil pH, available total C and N and P, and cation exchange capacity (CEC) and affected growth of oil palm seedling at age 16 weeks after planting. The best combination for the best seedling growth was obtained at 1.5 kg Guano + 30 kg NPK.

Keywords: Guano, NPK fertilizer, soil media quality, seed growth


PENDAHULUAN

Kelapa Sawit (Elaeis guineennsis Jack) merupakan komoditas perkebunan yang memberi kontribusi penting terhadap perekonomian Indonesia. Produknya tidak hanya untuk menyuplai kebutuhan industri di dalam negeri, tetapi permintaan pasar ekspor juga semakin meningkat serta memiliki nilai ekonomis tinggi dan menjaga ketahanan pangan serta ketahanan energi. Kondisi ini menjadi peluang usaha yang sangat menjanjikan di masa mendatang. Hal ini dapat dilihat dari keunggulan kelapa sawit itu sendiri maupun permintaan pasar yang kian meningkat (Maruli, 2012).

Produksi kelapa sawit sangat ditentukan oleh beberapa faktor yaitu faktor genetik dan faktor luar seperti iklim, tanah, dan budidaya. Pertumbuhan bibit yang baik dan sehat akan diperoleh jika perlakuan di pembibitan optimal. Perlakuan tersebut dimulai dengan melaksanakan penyiraman, pengendalian organisme pengganggu Tanaman (OPT), dan pemberian pupuk yang tepat dan seimbang. Pemupukan dimulai pada umur dua minggu setelah bibit dipindahkan ke main nursery. Jenis pupuk yang digunakan berupa pupuk majemuk NPK dan pupuk Kiesserit (Maruli, 2012; Satyawibawa dan Widyastuti, 1992). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas bibit kelapa sawit, satu di antaranya adalah media tanam yang akan digunakan pada pembibitan. Media tanam pada umumnya digunakan tanah lapisan atas (topsoil) yang subur. Namun pada daerah-daerah tertentu topsoil telah sulit didapatkan, hal itu disebabkan oleh penggunaannya yang secara terus menerus ataupun terkikis akibat erosi sehingga ketersediaannya semakin menipis.

Berkaitan dengan persoalan tersebut, maka pemanfaatan tanah lapisan bawah (subsoil) akan menjadi alternatif untuk menggantikan peran topsoil sebagai media tanam untuk bibit tanaman perkebunan di pembibitan. Hal ini disebabkan subsoil relatif lebih banyak tersedia dan mudah dijumpai dalam jumlah yang cukup besar di lapangan, di bandingkan dengan topsoil (Hidayat, et al, 2007). Penggunaan tanah lapisan bawah ini tentu akan menjadi tantangan karena secara fisik tanah ini relatif kurang subur dan miskin unsur haranya, serta mengandung bahan organik yang sangat rendah sehingga memerlukan penambahan bahan amelioran. Kandungan bahan organik yang rendah ini dapat diatasi dengan pemberian pupuk organik misalnya Guano, pupuk kandang, dan kompos atau bahan organik lainnya, sedangkan rendahnya kandungan dan ketersediaan hara dapat diperbaiki dengan pemberian pupuk NPK.

Pupuk guano adalah pupuk yang berasal dari kotoran kelelawar dan sudah mengendap lama di dalam gua dan telah bercampur dengan tanah dan bakteri pengurai. Pupuk guano ini mengandung nitrogen, fosfor dan potasium yang sangat bagus untuk mendukung pertumbuhan, merangsang akar, memperkuat batang bibit, serta mengandung semua unsur mikro yang dibutuhkan oleh bibit (Rasantika, 2009). Lebih lanjut Rasantika (2009) menyatakan bahwa guano mengandung 19 % fosfor dalam bentuk P2O5 yang di dalam tanaman sebagai penyusun senyawa ATP yang diperlukan dalam proses fotosintesis untuk pembentukan karbohidrat (Mengel dan Kikrby, 2010; Sufardi, 2012). Pupuk anorganik merupakan pupuk buatan yang mengandung unsur hara tertentu yang dapat dipenuhi sesuai kebutuhan bibit, sehingga dapat dengan mudah mengatur penggunaannya terhadap kebutuhan hara bibit. Salah satu pupuk kimia yang dianjurkan adalah pupuk majemuk N-P-K (15-15-15). Pemupukan NPK ini dapat dilakukan setiap bulan sekali dengan dosis. bibit berumur 4–6 bulan sebanyak 20 gram setiap polibag hingga 30-40 gram setiap polibag pada umur di atas 7-18 bulan (Sutedjo, 2002).

Penggunaan secara kombinasi antara pupuk organik dan pupuk anorganik diharapkan akan memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap sifat-sifat tanah subsoil sehingga dapat menggantikan peran topsoil sebagai media tanam pembibitan kelapa sawit terutama pada main nursery. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons pertumbuhan bibit kelapa sawit pada media tumbuh subsoil yang diberi pupuk Guano dan pupuk anorganik NPK di pembibitan.

PENGARUH UMUR SIMPAN DAN SKARIFIKASI TERHADAP VIABILITAS BENIH SIRSAK (Annona muricata L)

Effects of Storage Life and Scarification on Seed Viability of Soursop

(Annona muricata L)

Noflindawati

email : noflindawatialfathani@yahoo.co.id

ABSTRACT

Seed viability is influenced by genetic factors, seed ages, and the physical properties of the seed itself. This research was aimed at determining effects of seed storage life and scarification on seed viability of soursop. The experiment was conducted from March to May 2013 in Sumani Experimental Tropical Fruit Research Institute Solok, West Sumatra. The experiment was arranged in a completely randomized design (CRD) with four replications. The study consisted of two sets of treatments. The first was seed storage, i.e., 6 months storage and without storage and the second one was seed scarification, i.e. without scarification and scarified seeds. The results showed that the soursop seeds that were stored for six months decreased germination rate (GR) from 82.5% to 65.0% and decreased maximum growth potential (MGP) from 86.0% to 70.5% but did not decrease vigor index and seedling height. In addition, seed scarification lowered vigor index and dry weight of normal seedling. Unscarified seeds did not lower GR and this suggests that scarification by cutting the base of the seeds is not effective for soursop seed.

Keywords: storage, scarification, soursop

 

PENDAHULUAN

Sirsak (Annona muricata L.) berasal dari Amerika Utara dan menyebar ke darah tropis serta berkembang di Suriname Amerika dan Venezuela. Buah sirsak dimakan segar apabila daging (exocarpnya) sudah lunak, warnanya putih dan lembut serta memiliki banyak biji yang berwarna hitam (Doijode 2001). Selain itu, sirsak dapat dijadikan bahan olahan untuk dodol, sirop dan produk kecantikan.

Masyarakat Indonesia telah mengenal luas tanaman sirsak, tanaman ini dapat tumbuh di perkarangan. Pada awalnya, sirsak merupakan tanaman liar dan setelah dikembangkan lebih banyak sebagai tanaman pekarangan. Buah sirsak terdiri atas 67% daging buah yang bisa dimakan, 20% kulit, 8,5% biji, dan selebihnya berupa bagian tengah buah (Verheij dan Coronel 1997). Ditambahkan Radi (1998), biji sirsak berwarna coklat agak kehitaman dan keras, berujung tumpul, permukaan halus mengkilat dengan ukuran panjang kira-kira 16,8 mm dan lebar 9,6 mm. jumlah biji dalam satu buah bervariasi, berkisar antara 20-70 butir biji normal, sedangkan yang tidak normal berwarna putih kecoklatan dan tidak berisi..

Sirsak merupakan buah yang prospektif dikembangkan karena manfaatnya yang multiguna, selain menjadi olahan produk kecantikan juga bahan mentah farmakologi. Pengembangan sirsak tidak terlepas dari ketersediaan benih dalam jumlah yang banyak dan waktu yang tepat. Tanaman Sirsak diperbanyak melalui biji dan dapat tumbuh baik pada tanah liat berpasir.

Benih sirsak akan kehilangan viabilitasnya setelah 210 hari simpan pada suhu kamar atau 300 C (Doijode, 2001). Benih sirsak memiliki kulit yang tebal dan keras sehingga bersifat impermiabel terhadap air dan gas sehingga menghambat perkecambahan. Viabilitas benih merupakan daya hidup benih yang dapat ditunjukkan dalam fenomena pertumbuhannya, gejala metabolisme, kinerja kromosom atau garis viabilitas sedangkan viabilitas potensial adalah parameter viabilitas dari suatu lot benih yang menunjukkan kemampuan benih menumbuhkan tanaman normal yang berproduksi normal pada kondisi lapang yang optimum. Kemunduran benih adalah mundurnya mutu fisiologis benih yang dapat menimbulkan perubahan menyeluruh di dalam benih, baik fisik, fisiologi maupun kimiawi yang mengakibatkan menurunnya viabilitas benih (Sadjad et al., 1993).

Selama periode waktu tertentu sesudah panen, pada umumnya biji dari kebanyakan tanaman menghendaki beberapa syarat khusus untuk dapat memulai perkecambahan. Biji-biji ini pada umumnya akan berkecambah segera pada keadaan lingkungan yang hampir bersamaan, akan tetapi biji dari tanaman tertentu terutama biji rumputan menghendaki keadaan lingkungan khusus untuk dapat berkecambah.

Menurut Ilyas (2012) dormansi didefinisikan sebagai status dimana benih tidak berkecambah walaupun pada kondisi lingkungan yang ideal untuk perkecambahan. Beberapa mekanisme dormansi terjadi pada benih baik fisik maupun fisiologi, termasuk dormansi primer dan sekunder. Tipe dormansi ini biasanya berkaitan dengan sifat fisik kulit benih (seed coat). Tetapi kondisi cahaya ideal dan stimulus lingkungan lainnya untuk perkecambahan mungkin tidak tersedia.

Selanjutnya Ilyas (2012) menjelaskan benih yang impermeabel terhadap air dikenal sebagai benih keras (hard seed). Metode pematahan dormansi eksogen adalah skarifikasi mekanis untuk menipiskan testa, pemanasan, pendinginan (chilling), perendaman dalam air mendidih, dan pergantian suhu drastis.

PENGARUH PUPUK ORGANIK DAN ANORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merril)

Effect of Organic and Inorganic Fertilizer on Growth and Yield of Soybean

(Glycine max ( L. ) Merrill )

Nahra Fahmi, Syamsuddin, dan Ainun Marliah

E-mail: ainun.marliah@yahoo.com

 

ABSTRACT

The research was aimed at determining effects of organic fertilizer D.I Grow and inorganic fertilizer NPK Yara Mila on growth and yield of soybean. The experiment was arranged in a completely randomized (CRD) 4 x 4 with 3 replications. There were two factors observed, that were 1) concentration of organic fertilizer D.I Grow, consisting of 4 levels : 0 mL/L of water, 1 mL/L of water, 3 mL/L of water and 5 mL/L of water, and 2) inorganic fertilizer NPK, consisting of 4 levels : 0 g/plant, 2,5 g/plant, 5,0 g/plant and 7,5 g/plant. Results showed that the concentration of fertilizer D.I Grow exerted highly significant effects on dry seed weight per plant, yield potential, and significant effects on plant height at 30 and 45 days after planting (DAP), stem diameter at 45 DAP, and seed dry weight of 100 grains, but did not exert significant effects on plant height at 15 DAP and stem diameter at 15 and 30 DAP. The best growth and yield were obtained at a concentration of DI Grow 5 mL /L of water. NPK fertilizer significantly affected plant height at 45 DAP, stem diameter at 30 and 45 DAP, dry seed weight per plant, and yield potential, but did not significantly affect plant height of 15 and 30 DAP, stem diameter at 15 DAP, weight of 100 grain and seed dry weight of 100 grains. The best growth and yield were obtained at a dose of 7.5 g NPK/plant. There were highly significant interactions between concentration of D.I Grow and dosage of NPK on dry seed weight per plant and yield potential. The best yield was obtained at a combination of D.I Grow 5 mL/L of water and 7.5 g of NPK plant .

Keyword : organic fertilizer, inorganic fertilizer, soybean, D.I Grow, NPK


PENDAHULUAN

Kedelai (Glycine max (L.) Merril) merupakan tanaman pangan yang termasuk ke dalam famili Leguminosae, yang berasal dari daerah Manshukuo (Cina Utara), kemudian menyebar ke daerah Mansyuria, Jepang, Korea, India, Australia, dan negara-negara lain di Amerika dan Afrika. Tanaman ini dibudidayakan di Indonesia mulai abad ke-XVI sebagai bahan pangan (Purwono dan Purnamawati, 2008).

Kedelai merupakan bahan pangan penghasil sumber protein nabati yang tinggi dan murah. Kandungan protein mencapai lebih dari 40% dan lemak 10-15% (Adisarwanto, 2009). Kedelai digunakan dalam berbagai bahan pangan, seperti pada pembuatan tempe, tahu, susu kedelai, touge dan minyak nabati. Polong muda kedelai dapat dimanfaatkan sebagai sayur. Selain itu, limbah dari pembuatan tahu juga dapat digunakan sebagai campuran pakan ternak (Purwono dan Purnamawati, 2008).

Sampai saat ini kebutuhan kedelai terus meningkat dan belum dapat diimbangi oleh produksi nasional, sedangkan luas areal tanaman kedelai di Indonesia dari tahun ke tahun terus menurun. Dari tahun 1995 hingga 2007, luas areal tanam kedelai mengalami penurunan cukup signifikan, yaitu sekitar 61,75%. Produksi kedelai pada tahun 2005 mencapai 808.353 ton dengan produktivitas 1,30 ton/ha (Purwono dan Purnamawati, 2008). Permintaan kedelai pada tahun 2011 mencapai 2,8 juta ton, sementara produksi kedelai nasional hanya mencapai 1,2 juta ton (Cahyono, 2007). Produksi kedelai hanya mampu mengisi sekitar 50% dari total konsumsi dalam negeri, sedangkan sisanya dipenuhi dari impor, terutama dari Amerika Serikat (Nainggolan, 1999).

Berbagai usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi kedelai di Indonesia, baik secara ekstensifikasi maupun secara intensifikasi, salah salah cara intensifikasi adalah dengan pemupukan yang tepat. Pupuk yang diberikan dapat berupa pupuk organik maupun pupuk anorganik.

Pupuk organik merupakan pupuk yang terbuat bahan organik, yang diperbaharui dan dirombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur-unsur yang dapat digunakan oleh tanaman tanpa mencemari tanah dan air (Karren, 2007). Salah satunya adalah dengan menggunakan sisa-sisa tanaman yang telah didekomposisi menjadi kompos atau diekstraksi menjadi pupuk cair organik, seperti pupuk organik cair D.I (Diamond Interest) Grow.

D.I Grow adalah pupuk organik cair yang berkualitas tinggi, terbuat dari ekstraksi rumput laut Acadian seaweed dari jenis Ascophylum nodosum (sejenis alga coklat) yang diambil dari Lautan Atlantik Utara, diproses dengan Nano Teknologi (USA Formula Technology). Pupuk D.I Grow mengandung unsur hara lengkap baik makro dan mikro, asam amino, zat perangsang tumbuh (auksin, sitokinin, giberellin), asam humik (humus penyubur tanah). D.I Grow terbagi menjadi dua yaitu D.I Grow hijau digunakan pada fase pertumbuhan (vegetatif) dan D.I Grow merah digunakan pada fase pembungaan dan pembuahan (generatif) (Anonim, 2010).

Pupuk D.I Grow adalah pupuk organik yang sangat banyak peranannya, diantaranya meningkatkan pertumbuhan akar, batang daun dan tunas/anak tanaman, meningkatkan penyebaran nutrisi dari dalam tanah oleh akar, mencegah kerontokan bunga, buah dan daun. Selain itu pupuk D.I Grow dapat meningkatkan jumlah dan ukuran daun, bunga dan buah, meningkatkan kualitas warna bunga dan rasa buah, mempercepat masa panen, meningkatkan hasil panen, memperpanjang masa penyimpanan hasil panen (bunga atau buah tidak mudah layu/busuk), meningkatkan daya tahan tanaman terhadap hama/penyakit dan memperpanjang usia produksi tanaman. Konsentrasi D.I Grow yang dianjurkan secara umum untuk tanaman pangan adalah 3 mL/L air, sedangkan untuk tanaman kacang-kacangan, konsentrasi D.I Grow belum diketahui secara tepat.

Selain menggunakan pupuk organik, untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil kedelai dapat dilakukan dengan penggunaan pupuk anorganik. Sistem pertanian anorganik merupakan sistem pertanian dengan menggunakan pupuk kimia sebagai bahan dasar pemupukan. Pemupukan adalah penambahan unsur hara yang dibutuhkan tanaman sesuai dengan dosis yang dianjurkan (Cahyono, 2007). Salah satu pupuk anorganik adalah pupuk NPK Mutiara Yara Mila (16:16:16), merupakan pupuk majemuk yang mengandung unsur hara makro N, P dan K masing-masing 16%. Unsur hara N,P dan K tersebut sangat dibutuhkan untuk merangsang pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Dosis anjuran pupuk NPK Mutiara Yara Mila (16:16:16) adalah 1000 kg/ha, atau setara dengan 5 g/tanaman dengan menggunakan jarak tanam 20 cm x 25 cm. Berdasarkan permasalahan di atas, belum diketahui konsentrasi pupuk organik cair D.I Grow dan dosis NPK Mutiara Yara Mila yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai.

KERAGAAN PERTUMBUHAN DAN KOMPONEN HASIL BEBERAPA VARIETAS UNGGUL KEDELAI DI ACEH BESAR

The Performance of Growth and Yield Component of Soybean Varieties

in AcehBesar

Bakhtiar, Taufan Hidayat, Yadi Jufri, dan Suwayda Safriati

email: bakhtiar_fp@unsyiah.ac.id.

ABSTRACT

Soybean is an important food for national food security. Many soybean varieties have been released by the government, but only few were adopted by farmers. The purpose of this study was to identify superior soybean varieties that are adaptive in Aceh Besar, Aceh Province. The experiment was conducted in Village Limpok, Aceh Besar during dry season in 2013 and arranged in a randomized block design with 3 replications. The result showed that variety Kaba and Detam had very good vegetative growth performance. The fastest flowering varieties were Detam and Burangrang, while variety Gema, Tanggamus, and Orba were the slowest flowering. Variety Kaba and Orba had the highest productive node, while the least was Grobogan. Variety Kaba, Kipas Merah Bireuen, and Orba had the most productive branches, while local variety Bener Meriah and Grobogan had the least productive branches. Grobogan had the greatest seed size, followed by Burangrang and Anjasmoro. Kipas Merah Bireuen and Sinabung had the highest seed weight per plant but having the smallest seeds. Sinabung was the most adaptive in Aceh Besar.

Keywords: adaptation, soybeans, varieties


PENDAHULUAN

Kedelai menjadi komoditi strategis nasional dan setiap tahun Indonesia mengimpor komoditi tersebut karena pasokan dalam negeri yang belum mampu memenuhi kebutuhan yang selalu meningkat. Berkembangnya industri pangan dan pakan berbahan baku kedelai disertai dengan pertumbuhan penduduk mengakibatkan permintaan kedelai di Indonesia meningkat tajam. Di lain pihak, produksi dalam negeri cenderung menurun sehingga defisit kedelai terus meningkat. Hal ini membuat Indonesia makin tergantung pada kedelai impor, oleh karena itu perlu adanya peningkatan produksi kedelai secara berkelanjutan.

Peningkatan produksi melalui perbaikan produktivitas masih cukup terbuka mengingat masih terdapat senjang hasil yang lebar antara produktivitas yaitu sekitar 1,3 t/ha di tingkat petani, dibandingkan dengan produktivitas hasil penelitian yang mencapai 1,7–3,2 t/ha (Marwoto, 2010). Terdapat beberapa kendala dalam usaha peningkatan produksi kedelai di antaranya adalah terbatasnya varietas unggul yang beradaptasi pada kondisi agroekosistem yang sangat beragam dan teknologi budidaya belum diterapkan petani secara optimal. Varietas unggul sangat menentukan tingkat produktivitas tanaman dan merupakan komponen teknologi yang relatif mudah diadopsi petani untuk peningkatan produksi menuju swasembada kedelai.

Pengembangan kedelai di Kabupaten Aceh Besar pada lahan yang selama ini belum termanfaatkan dengan optimal dapat menjadi salah satu solusi dalam menghadapi masalah swasembada kedelai. Pada tahun 2013, Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian telah menetapkan Kabupaten Aceh Besar sebagai salah satu daerah pengembangan kedelai Indonesia. Namun demikian, pengembangan kedelai di Aceh Besar terkendala akibat petani belum terbiasa membudidayakan kedelai secara intensif serta sulitnya mendapatkan varietas unggul yang adaptif dan teknologi budidaya kedelai yang sesuai.

Varietas unggul kedelai sudah banyak dilepas oleh pemerintah, namun belum banyak dari varietas-varietas tersebut yang diadopsi oleh petani (Rozi dan Heriyanto, 2012). Varietas-varietas unggul tersebut memiliki keragaman potensi hasil, umur panen, ukuran biji, warna biji, dan wilayah adaptasi. Umumnya varietas tersebut berdaya hasil tinggi, berumur genjah, percabangan banyak, batang kokoh (tidak rebah), polong tidak mudah pecah pada cuaca panas, biji agak besar (13 g/100 biji) dan bulat (Arsyad et al., 2007). Mengingat beragamnya agroekologi pertanaman, maka varietas unggul tersebut perlu diperkenalkan dan diadaptasikan untuk menentukan varietas yang cocok untuk dikembangkan pada lingkungan dan masyarakat setempat serta ditunjang dengan paket teknologi yang sinergis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan varietas kedelai unggul yang adaptif di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.